PROFESI-UNM.COM – Terpilihnya Nurhasana, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM), sebagai Duta Keterbukaan Informasi Publik UNM menjadi pencapaian yang membanggakan. Ia menilai amanah tersebut sebagai tanggung jawab besar dalam meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap hak akses informasi publik.
Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai melalui WhatsApp, Jumat (26/12). Menurut Nurhasana, peran sebagai duta bukan sekadar gelar, melainkan bentuk kepercayaan untuk menjadi jembatan informasi bagi masyarakat kampus.
“Sebagai Duta Keterbukaan Informasi Publik di Universitas Negeri Makassar, tentu ini merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya sivitas akademika, terkait hak mereka untuk mengakses informasi publik,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan kewajiban pemerintah yang diatur dalam Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik serta UUD 1945. Oleh karena itu, kehadiran duta diharapkan mampu mendorong peningkatan literasi dan pemahaman terhadap pentingnya transparansi dan akuntabilitas di lingkungan kampus.
Berdasarkan pengamatannya, pemahaman mahasiswa UNM mengenai hak akses informasi publik tergolong cukup baik, namun masih memerlukan peningkatan. Ia menilai sebagian mahasiswa telah menyadari pentingnya keterbukaan informasi, meski masih ada yang belum memahami mekanisme permohonan informasi atau bahkan belum mengetahui hak tersebut.
Perjalanan Nurhasana hingga terpilih sebagai duta tidaklah mudah. Ia harus melalui proses seleksi yang cukup ketat di tengah tanggung jawabnya sebagai ketua panitia di lembaganya serta penanggung jawab mata kuliah. Berbagai tantangan tersebut, menurutnya, dapat dilalui berkat dukungan dari orang-orang terdekat.
“Pada saat itu saya juga menjadi penanggung jawab mata kuliah. Alhamdulillah semua bisa saya lalui berkat dukungan teman-teman lembaga saya, khususnya Sari dan Feni, serta ketua kelas yang selalu membantu selama proses tersebut,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi. Ke depan, Nurhasana berharap dapat membalas kepercayaan tersebut dengan menjadi sosok yang mampu memberi dampak positif dan semangat bagi lingkungan sekitarnya.
Ketertarikannya terhadap isu keterbukaan informasi bermula ketika ia melihat poster informasi pendaftaran duta di grup mahasiswa. Kesempatan tersebut ia maknai sebagai jalan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkontribusi nyata bagi masyarakat kampus.
“Saya merasa sudah saatnya menjadi bagian atau jembatan dalam memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya di lingkungan UNM, melalui peran sebagai duta,” ujarnya.
Meski tidak menyangka akan terpilih di tengah kompetitor yang dinilainya berkualitas dan inspiratif, Nurhasana mengaku bersyukur atas pengalaman dan pelajaran berharga yang diperolehnya selama proses seleksi.
Sebagai langkah konkret, ia berencana memanfaatkan media sosial sebagai sarana utama dalam menyebarluaskan informasi publik. Konten edukatif terkait keterbukaan informasi akan disajikan secara berkelanjutan guna mempermudah mahasiswa dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan.
“Diharapkan melalui konten-konten tersebut, mahasiswa dapat lebih mudah mengetahui dan mengakses informasi yang mereka perlukan,” tutupnya.(*)
*Reporter: Nurul Qalbi
*Editor: Muh Apdal Adriansyah







