Tantangan Literasi Media Bagi Mahasiswa di Era Digital 

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 22 November 2025 - 00:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Bijak Bermedia Sosial, (Foto: Int.)

Ilustrasi Bijak Bermedia Sosial, (Foto: Int.)

PROFESI-UNM.COM – Ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam lima tahun terakhir mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk di kalangan mahasiswa. Informasi kini mengalir lebih cepat dari sebelumnya, disebarkan melalui berbagai platform digital mulai dari media sosial, portal berita, hingga aplikasi pesan instan.

Di balik kemudahan tersebut, ancaman misinformasi, hoaks, manipulasi visual, dan konten hasil AI yang sulit dibedakan dengan fakta semakin meningkat. Kondisi ini membuat kemampuan literasi media menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar keterampilan tambahan.

Di lingkungan kampus, mahasiswa merupakan kelompok yang paling sering terpapar informasi digital. Mereka memiliki akses internet yang luas dan aktif menggunakan berbagai platform sekaligus. Namun, tingginya akses informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan memverifikasi kebenarannya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengakuan Mahasiswa Menggunakan AI

Banyak mahasiswa mengakui bahwa mereka kerap membagikan informasi tanpa mengecek sumber terlebih dahulu. Dorongan untuk menjadi pihak pertama yang mengetahui dan menyebarkan berita terkini sering membuat etika verifikasi terabaikan.

Di tengah era AI, konten palsu tidak lagi mudah dikenali; gambar hasil deepfake, kutipan manipulatif, dan artikel yang sepenuhnya ditulis oleh AI dapat tampil seolah-olah kredibel dan profesional.

Baca Juga Berita :  Sumber Beasiswa yang Dapat Dimanfaatkan oleh Mahasiswa

Dosen dan pakar komunikasi menilai bahwa literasi media menjadi bagian penting dalam menciptakan budaya akademik yang sehat. Mahasiswa diharapkan mampu mengolah informasi secara kritis, bukan hanya mengonsumsi.

Kemampuan tersebut meliputi menilai kredibilitas sumber, membedakan opini dengan fakta, mengenali bias dalam pemberitaan, dan memahami teknik-teknik framing informasi. Tanpa keahlian tersebut, mahasiswa berisiko menjadi korban sekaligus penyebar misinformasi. Lebih jauh lagi, penyebaran informasi palsu dapat mempengaruhi stabilitas sosial kampus, termasuk dalam pemilihan organisasi mahasiswa, polemik kegiatan akademik, hingga hubungan antar kelompok mahasiswa.

Tantangan AI Dalam Dunia Digital

Di sisi lain, teknologi AI sebenarnya tidak sepenuhnya harus dipandang sebagai ancaman. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi alat bantu edukasi literasi media. Beberapa aplikasi AI kini dapat digunakan untuk fact-checking, mengevaluasi keaslian gambar, dan mengidentifikasi pola konten manipulatif.

Tantangannya bukan hanya pada teknologi, tetapi pada kesiapan mahasiswa untuk menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab. Kampus memegang peran penting dalam membekali mahasiswa kemampuan literasi digital melalui kegiatan workshop, mata kuliah, hingga mentoring oleh praktisi media.

Baca Juga Berita :  Tips Produktif Mahasiswa Saat Libur Semester

Upaya peningkatan literasi media di perguruan tinggi bukan sekadar proyek jangka pendek. Perubahan pola konsumsi informasi mahasiswa menunjukkan urgensi program yang bersifat berkelanjutan.

Selain pembelajaran di kelas, mahasiswa membutuhkan ruang praktik dalam pengolahan informasi, seperti pengelolaan media kampus, proyek jurnalistik, hingga kampanye anti-hoaks. Dengan cara ini, literasi media tidak hanya menjadi teori, tetapi keterampilan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah arus informasi yang terus bergerak tanpa jeda, kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis dan cerdas dalam bermedia menjadi garda terdepan penangkal hoaks. Era AI menghadirkan tantangan baru, tetapi juga peluang besar untuk menciptakan generasi akademik yang tidak hanya konsumtif, tetapi analitis, objektif, dan bertanggung jawab dalam mengolah informasi.

Perguruan tinggi, praktisi media, dan mahasiswa perlu bergerak bersama untuk membangun budaya literasi digital yang kuat demi menciptakan ekosistem informasi yang sehat bagi masa depan pendidikan. (*)

*Reporter: Firmansyah

Berita Terkait

Mengenal UKT dan IPI, Dua Skema Biaya Pendidikan Perguruan Tinggi di Indonesia
Libur Semester Waktu Tepat untuk Upgrade Diri
Kerja Paruh Waktu Jadi Solusi Finansial Mahasiswa
Mahasiswa dan Kebiasaan Begadang Menjelang Deadline Pengumpulan Tugas
Mahasiswa Manfaatkan Destinasi Wisata Populer Makassar Isi Libur Semester
Mahasiswa Mulai Kurangi Nongkrong Lama karena Harga Makanan Naik
Mahasiswa Mulai Berburu Magang Selama Libur Semester
Mahasiswa Mulai Persiapkan Administrasi dan Portofolio Libur Semester
Berita ini 111 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 22:38 WITA

Mengenal UKT dan IPI, Dua Skema Biaya Pendidikan Perguruan Tinggi di Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 - 20:39 WITA

Libur Semester Waktu Tepat untuk Upgrade Diri

Jumat, 15 Mei 2026 - 20:35 WITA

Kerja Paruh Waktu Jadi Solusi Finansial Mahasiswa

Jumat, 15 Mei 2026 - 20:30 WITA

Mahasiswa dan Kebiasaan Begadang Menjelang Deadline Pengumpulan Tugas

Jumat, 15 Mei 2026 - 20:26 WITA

Mahasiswa Manfaatkan Destinasi Wisata Populer Makassar Isi Libur Semester

Berita Terbaru

Ilustrasi Mahasiswa Masuk Kampus Pasca Libur Semester, (Foto: Ai.)

Berita Wiki

Tips Tampil Glowing Pasca Libur Semester

Senin, 1 Jun 2026 - 23:35 WITA

Ilustrasi Mahasiswa saat Libur Semester, (Foto: Ai.)

Berita Wiki

Libur Semester, Waktu Rehat dan Pengembangan Diri Mahasiswa

Senin, 1 Jun 2026 - 23:27 WITA

Ilustrasi Mahasiswa Melihat Tren Coffee Shop  (Foto : Ai)

wiki

Tren Kopi Estetik Picu Fenomena FOMO di Kalangan Mahasiswa

Minggu, 31 Mei 2026 - 23:58 WITA

Pamflet Pendaftaran Gelombang 1 Olympic of Statistics 2026, (Foto: Int.)

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Olympic of Statistics 2026 Resmi Dibuka, HMJ Statistika Hadirkan Konsep Baru

Minggu, 31 Mei 2026 - 22:23 WITA