PROFESI-UNM.COM – Banyak orang sering menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu akhir. Fenomena ini kerap di anggap sebagai bentuk kemalasan murni. Namun, apakah benar hal tersebut sekadar timbul akibat rasa malas?
kebiasaan menunda-nunda pekerjaan atau biasa juga di sebut prokrastinasi sejatinya merupakan bentuk krisis regulasi emosi pada otak manusia. Seseorang menunda tugas karena adanya rasa cemas, takut gagal, atau tekanan. Otak kemudian menganggap tugas berat tersebut sebagai bentuk ancaman psikologis yang nyata.
Upaya melepaskan diri dari kebiasaan menunda dapat dimulai dengan menerapkan aturan lima menit. Seseorang cukup berkomitmen mengerjakan tugas selama lima menit saja. Cara ini terbukti ampuh menurunkan hambatan emosional serta membangun momentum fokus secara alami.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah berikutnya adalah membagi pekerjaan besar menjadi beberapa bagian kecil yang sangat sederhana. Setiap keberhasilan menyelesaikan tahapan kecil akan memicu pelepasan hormon dopamin. Dorongan motivasi pun akan terus terjaga hingga seluruh tugas selesai.
Selain itu, penting untuk menerapkan sikap welas asih diri tanpa menyalahkan diri secara berlebihan. Sikap memaafkan diri sendiri terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan. Hal tersebut efektif mencegah timbulnya kebiasaan menunda di masa depan.
Terakhir, ciptakan lingkungan kerja yang rapi dan bebas dari pemicu distraksi digital. Menyiapkan seluruh peralatan sebelum memulai dapat meringankan beban kognitif otak. Kondisi ruangan yang kondusif akan mempermudah seseorang untuk segera mengambil tindakan.
Mengatasi prokrastinasi bukanlah proses instan yang hanya mengandalkan kemauan keras semata. Pendekatan bertahap yang konsisten dapat perlahan menggantikan pola menunda dengan kebiasaan yang produktif.(*)
*Reporter: Alyani Fajrina Nursyabri







