PROFESI–UNM.COM – Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2025 resmi ditarik melalui sebuah seremoni yang digelar oleh Universitas Hasanuddin (Unhas) selaku tuan rumah. Sebanyak 174 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk dari Universitas Negeri Makassar (UNM), telah menyelesaikan pengabdian selama satu bulan penuh sejak dimulainya kegiatan pada (2/7).
Acara penarikan ini menjadi momen simbolis kembalinya para mahasiswa ke kampus masing-masing setelah satu bulan penuh hidup berdampingan dengan masyarakat di lokasi KKN. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbudristek, Benny Bandanadjaja hadir langsung untuk menyerahkan kembali para peserta KKN kepada universitas asal mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami sangat mengapresiasi dedikasi dan semangat para mahasiswa yang telah memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Kegiatan ini bukan hanya pengabdian, tapi juga pembelajaran penting bagi masa depan bangsa,” ujar Benny dalam sambutannya.
Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa menjalankan berbagai program yang memberikan dampak signifikan bagi masyarakat setempat. Salah satu peserta dari UNM, Diki Douvel Nibras, menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi fokus utama kegiatan mereka.
Penarikan dan Penutupan KKN Kebangsaan
“Program yang paling berdampak adalah pelatihan keterampilan dan penyuluhan tentang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Program kerja unggulan kami, Geotrail (Integrated Tourism of Biraeng Geopark), bahkan menerapkan konsep ekonomi sirkular dan pembangunan partisipatif, sehingga masyarakat benar-benar terlibat aktif,” tutur Diki, pada Rabu (6/8).
Menurutnya, antusiasme masyarakat menjadi salah satu pemicu semangat bagi para mahasiswa untuk menjalankan program-program mereka.
“Respon masyarakat sangat positif. Mereka kooperatif dan merasa terbantu dengan adanya program ini. Banyak yang jadi lebih percaya diri dalam mengelola potensi lokal mereka,” tambahnya.
Namun, pelaksanaan program bukan tanpa hambatan. Diki menyebut bahwa memahami kebutuhan masyarakat yang beragam serta keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan tersendiri.
“Tapi dengan kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan stakeholder lokal, semua tantangan itu bisa kita atasi bersama,” jelasnya.
Lebih dari sekadar pengabdian, pengalaman KKN ini membawa pelajaran berharga bagi para mahasiswa. Bagi Diki, pelajaran terbesar adalah pentingnya menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan membangun kerja sama lintas sektor.
“Kami belajar bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika semua pihak terlibat. Ini jadi bekal penting buat kami ke depan,” tutupnya.(*)
*Reporter: Yusri saputra







