[OPINI] Sampah Bukan Sekadar Masalah, tetapi Potensi: Membangun Ekosistem Pemilahan Sampah Berbasis Sekolah dan Masyarakat di Kota Makassar

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potre Muhammad Khadafi Alumni Pendidikan Teknik Otomotif FT-UNM, (Foto: Ist.)

Potre Muhammad Khadafi Alumni Pendidikan Teknik Otomotif FT-UNM, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Persoalan sampah di Kota Makassar bukan lagi sekadar persoalan bagaimana membuang sampah, tetapi bagaimana masyarakat memahami, memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik, anorganik, dan residu memiliki karakteristik serta potensi pengelolaan yang berbeda. Namun, persoalan muncul ketika pemilahan tersebut belum dipahami dan diterapkan secara merata oleh masyarakat.

Dalam konteks ini, pemerintah memiliki peran penting dalam memberikan edukasi dan membangun sistem pengelolaan sampah yang mudah diterapkan. Sosialisasi mengenai pemilahan sampah tidak cukup hanya dilakukan melalui spanduk, media sosial, atau kegiatan seremonial. Masyarakat perlu diberikan pemahaman yang konkret mengenai apa yang harus dilakukan setelah sampah dipilah. Sebab, akan muncul pertanyaan sederhana: “Kalau sudah dipilah, kemudian sampah tersebut dibawa ke mana?”

Pertanyaan tersebut menjadi penting, khususnya bagi masyarakat perkotaan. Tidak semua rumah memiliki halaman yang cukup untuk membuat komposter, menanam tanaman, atau menyimpan sampah anorganik dalam jumlah tertentu. Karena itu, sistem pengelolaan sampah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat secara individual. Dibutuhkan sistem yang menghubungkan rumah tangga sebagai sumber sampah dengan sekolah, komunitas, bank sampah, petani, peternak, perguruan tinggi, industri daur ulang, dan pemerintah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah Organik

Sampah organik sebenarnya memiliki nilai ekonomi dan ekologis apabila dikelola dengan tepat. Sisa makanan, daun, dan bahan organik lainnya dapat diolah menjadi kompos atau bahan lain yang bermanfaat bagi sektor pertanian.

Di sinilah kelompok petani dan peternak dapat dilibatkan secara lebih aktif. Pemerintah maupun lembaga pendidikan dapat membangun pola kemitraan antara penghasil sampah organik dengan kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan dan kebutuhan untuk mengolahnya.

Sekolah, misalnya, dapat menjadi tempat edukasi sekaligus laboratorium sederhana untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah organik. Siswa dapat belajar membuat kompos, mengembangkan budidaya tanaman menggunakan pupuk organik, melakukan penelitian mengenai pengolahan limbah makanan, ataupun mempelajari pemanfaatan limbah organik sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu.

Dengan demikian, pendidikan lingkungan tidak berhenti pada kalimat “buanglah sampah pada tempatnya”, tetapi berkembang menjadi “pahami jenis sampah, pilah, olah, dan temukan nilai manfaatnya.”

Sampah Anorganik dan Ruang bagi Kreativitas Siswa

Sampah anorganik juga tidak selalu berarti sesuatu yang harus berakhir di tempat pembuangan akhir. Plastik, kardus, logam, kaca, dan berbagai material lainnya memiliki peluang untuk digunakan kembali atau didaur ulang.

Hal ini justru membuka ruang besar bagi sekolah kejuruan. Siswa SMK pada dasarnya memiliki potensi untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta teknologi.

Sebagai tenaga pendidik di SMK Darussalam Makassar, misalnya, persoalan sampah dapat dijadikan bagian dari pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Siswa dapat diberi tantangan untuk merancang alat pemilah sampah sederhana, sistem pengumpulan sampah berbasis digital, mesin pencacah plastik, alat pengolahan sampah organik, atau berbagai inovasi lain sesuai kompetensi keahlian masing-masing.

Potensi yang sama juga dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan mahasiswa dan peneliti. Contohnya, adanya mahasiswa atau adik tingkat yang mengembangkan alat untuk mengonversi sampah plastik menjadi bahan bakar menunjukkan bahwa sampah dapat menjadi objek penelitian dan inovasi teknologi.

Baca Juga Berita :  [OPINI]: Pemimpin dalam Pusaran Zaman Milenial

Namun, inovasi semacam ini tidak seharusnya berhenti sebagai tugas akhir mahasiswa atau proyek individual. Hasil penelitian tersebut dapat diperkenalkan kepada sekolah, diuji kembali secara aman dan ilmiah, kemudian dikembangkan menjadi proyek kolaboratif antara perguruan tinggi dan SMK.

Dengan pola seperti ini, siswa tidak hanya belajar teori mengenai lingkungan. Mereka belajar mengidentifikasi masalah, melakukan penelitian, membuat prototipe, menguji, mengevaluasi, dan menghasilkan solusi.

Sekolah sebagai Miniatur Ekosistem Pengelolaan Sampah

Menurut saya, salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan di Kota Makassar adalah menjadikan sekolah sebagai pusat edukasi dan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Sekolah tidak harus menjadi tempat penampungan seluruh sampah masyarakat. Perannya adalah menjadi tempat belajar, mengembangkan teknologi, membangun budaya pemilahan, dan menghubungkan berbagai pihak.

Konsep sederhananya dapat dibuat menjadi tiga jalur:

Pertama, sampah organik.

Sampah organik yang berasal dari kantin dan lingkungan sekolah dipilah sejak awal. Sebagian dapat diolah menjadi kompos atau produk pengolahan organik lainnya. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk penghijauan sekolah atau disalurkan kepada kelompok tani yang bekerja sama dengan sekolah.

Kedua, sampah anorganik.

Material yang memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan secara terpilah dan disalurkan kepada bank sampah atau mitra pengolah. Sebagian lainnya dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dan proyek kreatif siswa.

Ketiga, sampah residu.

Sampah yang memang tidak dapat dimanfaatkan melalui sistem yang tersedia tetap harus dikelola dan disalurkan melalui mekanisme pengangkutan resmi. Ini penting agar masyarakat tidak memiliki pemahaman keliru bahwa semua jenis sampah harus dapat didaur ulang.

Dengan sistem tersebut, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik dan teknis, tetapi juga lulusan yang memiliki kesadaran ekologis.

Dari Sosialisasi Menjadi Kolaborasi

Permasalahan yang perlu kita kritisi bukan semata-mata apakah pemerintah sudah atau belum melakukan sosialisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sistem yang disosialisasikan sudah mudah diterapkan oleh masyarakat?

Sosialisasi pemilahan sampah akan sulit berhasil apabila masyarakat hanya diminta memilah tetapi tidak mengetahui siapa yang akan menerima hasil pemilahan tersebut.

Karena itu, pemerintah kota dapat membangun ekosistem yang lebih terintegrasi dengan melibatkan berbagai sumber daya manusia yang selama ini mungkin belum ditempatkan sebagai bagian utama dari solusi.

Petani dapat menjadi mitra pemanfaatan produk pengolahan organik. Peternak dapat dilibatkan dalam pengembangan sistem pemanfaatan limbah yang sesuai dengan standar keamanan dan kebutuhan peternakan. Perguruan tinggi dapat menjadi pusat penelitian dan inovasi. Sekolah dapat menjadi pusat edukasi dan pengembangan prototipe. Bank sampah dan industri daur ulang dapat menjadi mitra pengelolaan material yang bernilai ekonomi. Sementara masyarakat menjadi aktor utama dalam melakukan pemilahan sejak dari rumah.

Dengan kata lain, pemerintah tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Pemerintah justru perlu menghubungkan potensi-potensi yang sudah ada.

Baca Juga Berita :  Arti Hari Kemerdekaan Indonesia Bagi Rektor UNM

Sebagai tenaga pendidik, saya melihat persoalan ini dapat dijadikan sebuah proyek nyata di lingkungan sekolah.

Misalnya dikembangkan sebuah program bernama “SMK Darussalam Zero Waste Project” atau nama lain yang lebih sesuai dengan identitas sekolah.

Program tersebut dapat dimulai dari hal sederhana:

1. Pemetaan jenis sampah sekolah
Siswa melakukan audit sampah selama beberapa minggu untuk mengetahui jenis dan jumlah sampah yang dihasilkan.

2. Membuat sistem pemilahan tiga kategori
Organik, anorganik, dan residu ditempatkan pada sistem yang mudah dipahami seluruh warga sekolah.

3. Membangun unit pengolahan organik sederhana
Siswa mengembangkan komposter atau teknologi pengolahan organik yang sesuai dengan kondisi sekolah.

4. Membentuk unit pengelolaan anorganik
Sampah bernilai ekonomi dikumpulkan dan bekerja sama dengan pihak pengolah atau bank sampah.

5. Membuat laboratorium inovasi sampah
Siswa dari berbagai kompetensi keahlian dapat mengembangkan alat, desain, sistem digital, maupun produk kreatif yang berkaitan dengan pengelolaan sampah.

6. Menghubungkan sekolah dengan perguruan tinggi.

Mahasiswa dan dosen dapat menjadi mitra penelitian, pembimbing proyek, maupun narasumber teknologi.

7. Membangun kemitraan dengan petani dan peternak
Produk hasil pengolahan yang memang aman dan sesuai standar dapat diuji pemanfaatannya bersama mitra.

8. Membuat sistem pencatatan digital

Siswa dapat mengembangkan aplikasi sederhana untuk mencatat jumlah sampah yang masuk, sampah yang berhasil dimanfaatkan, serta nilai ekonomi yang dihasilkan.

Dengan demikian, sampah dapat menjadi media pembelajaran lintas disiplin.

Siswa teknik dapat membuat alat. Siswa bidang komputer dapat membuat aplikasi. Siswa desain dapat membuat kampanye visual. Siswa bisnis dapat menghitung nilai ekonominya. Siswa bidang pertanian dapat mempelajari pengolahan organik. Bahkan seluruh kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi proyek kewirausahaan sekolah.

Yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Tempat Sampah

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya tentang kurangnya tempat sampah. Kita membutuhkan perubahan paradigma.

Masyarakat perlu memahami bahwa sampah memiliki perjalanan setelah keluar dari rumah. Pemerintah perlu memastikan perjalanan tersebut memiliki sistem yang jelas. Sekolah dapat menjadi tempat untuk mengajarkan sistem tersebut. Perguruan tinggi dapat menghasilkan inovasi. Petani dan peternak dapat menjadi bagian dari rantai pemanfaatan. Industri dapat menjadi bagian dari proses daur ulang. Dan masyarakat menjadi sumber utama perubahan melalui pemilahan dari rumah.

Kota Makassar memiliki banyak sumber daya manusia yang dapat dilibatkan dalam persoalan ini. Karena itu, pendekatan pengelolaan sampah seharusnya tidak hanya berorientasi pada “bagaimana membuang sampah”, tetapi bergeser menjadi “bagaimana menciptakan ekosistem agar sampah yang masih memiliki nilai tidak terbuang sia-sia.”*

Jika gagasan tersebut dimulai dari sekolah, maka sekolah bukan hanya mengajarkan siswa untuk menjaga kebersihan. Sekolah dapat menjadi tempat lahirnya inovasi, kewirausahaan, penelitian, dan bahkan solusi bagi persoalan kota.

Sampah pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan. Ia adalah persoalan pendidikan, teknologi, ekonomi, sosial, dan tata kelola. Dan justru karena itulah, penyelesaiannya membutuhkan kita semua. (*)

*Penulis: Muhammad Khadafi

Berita Terkait

[OPINI] Di Persimpangan Pilrek UNM: Catatan Kami Dari LK FIS-H
[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi
[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan
[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:22 WITA

[OPINI] Sampah Bukan Sekadar Masalah, tetapi Potensi: Membangun Ekosistem Pemilahan Sampah Berbasis Sekolah dan Masyarakat di Kota Makassar

Selasa, 4 Agustus 2026 - 23:46 WITA

[OPINI] Di Persimpangan Pilrek UNM: Catatan Kami Dari LK FIS-H

Jumat, 31 Juli 2026 - 17:36 WITA

[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WITA

[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Berita Terbaru

Ilustrasi Beberapa Item Perlengkapan PKKMB (Foto: AI)

wiki

Tips Jitu Hadapi PKKMB Tanpa Panik

Rabu, 12 Agu 2026 - 00:31 WITA

Foto Bersama Peserta Pada Pembukaan Kegiatan MAPHAN Subserve, (Foto: Ist.)

UKM Maphan UNM

UKM MAPHAN Buka Bakti Sosial MAPHAN Subserve di  Bone

Selasa, 11 Agu 2026 - 23:17 WITA