[Opini]: Paham Radikal Mencengkram Kampus?

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 9 Juni 2018 - 14:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Enaldi, Mahasiswa Prodi Administrasi Bisnis FIS UNM. (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM-Kampus sejatinya merupakan inkubator kaum intelektual yang nantinya akan melahirkan insan akademis pencipta dan pengabdi yang telah melalui proses penempaan sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Namun nampaknya akhir-akhir ini kampus disinyalir terkontaminasi oleh paham radikal yang tidak kompatibel dengan empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara. Padahal pemerintah tengah gencarnya menggalakan kembali kesetiaan dan kecintaan kepada Pancasila.

Akan tetapi kondisi realitas menunjukkan sedikit miris dan memperhatikan, sebuah riset yang menunjukkan bahwa saat sekarang ini paham radikalisme tumbuh subur dan berkembang dikalangan mahasiswa dan pelajar. (Sumber:ALVARA) 23.5 % atau satu dari empat mahasiswa setuju untuk mendirikan negara islam sebagai wadah penerapan islam secara kaffah. sementara itu 16.8 % atau satu dari lima mahasiswa memilih ideologi islam. Hemat kata, paham meraka menganggap bahwa Pancasila belum final sebagi ideologi negara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Otoritas lembaga terkait harusnya menjadi warning dengan hasil survei tersebut. Kampus harus bersih dengan paham yang demikian. Kontaminasi paham seperti ini harus dicegah sedini mungkin, jika dibiarkan dibiarkan akan berakibat fatal. Ironisnya jikalau paham radikal ini sudah merasuki atau berapiliasi dengan lembaga kemahasiswaan internal kampus.

Baca Juga Berita :  Berantas BAB Sembarangan, Mahasiswa KKN Reguler UNM Adakan Penyuluhan SOBAT

Parahnya lagi ketika sudah ada yang ditokohkan untuk menjadi rujukan menganut paham radikal. Ideologi radikal ini yang disinyalir menjadi gerbang pertama untuk berjihad, daulah islam, baiat, khilafah. Awalnya meraka bersimpati, mendukung, militan dan kemudian menjadi kelompok radikal, intoleran, anti Pancasila.

Sebenarnya jika ingin ditelaah dengan seksama, kampus memiliki auto imun yang cukup tangguh terhadap paparan ideologi, nyatanya diskusi semisal komunisme, sosialisme, marxsisme, leningmisme cukup sering disuguhkan dan dijumpai di sudut-sudut kampus. Hal ini menunjukkan bahwa betapa ekspresipnya kampus betapa bebas dan welcomenya kampus, seyogyanya memang demikian. Namun kebebasan ini menjadi bumerang yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk bergentayangan dengan ideologi yang meraka bawa.

Baca Juga Berita :  [Opini] Melihat (lagi) Ke(tidak)adilan UKT

Jika kondisi seperti ini dilakukan pembiaran maka trend potensi perkembangannya akan semakin meningkat. Otoritas terkait harus pass respons dalam melakukan penanggulangan, sinergitas dari Hulu ke hilir mestinya ada improvements, Pelibatan organisasi kemahasiswaan eksternal kampus harus kembali aktif secara penuh untuk kemudian juga mengambil peran.

Namun nyatanya peran sertanya sedikit terhenti oleh peraturan dirjen tahun 2002 tentang pelarangan organisasi kemahasiswaan ekstra kampus sehingga hal itu membuat organisasi kemahasiswaan eksternal yang bersifat moderat punya keterbatasan akses untuk masuk bertarung dan berkontestasi secara ideologi di kampus. Meskipun secara faktual masih tetap bisa bergerak tetapi tidak begitu optimal.

Semua elemen terkait harusnya menjadikan hal ini sebagi refleksi bahwa sekarang ini kitaa membutuhkan elaborasi dan langkah yang kreatif sebagai jawaban untuk menangkal pemikiran-pemikiran radikal.

[divider][/divider]

*Penulis: Enaldi, Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial UNM Angkatan 2016

Berita Terkait

Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
Mahasiswa Semester Dua JTIK Raih Juara Satu Pilmapres Fakultas Teknik
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
Satu Suara di Depan Menara Phinisi, Bergerak Desak Reformasi Polri dan Hentikan Pelanggaran HAM
[OPINI] Perempuan dalam Cengkeraman Patriarki: Telaah Teologis Kritis atas Teks Alkitab
[OPINI] Pendidikan Layak: Hak Dasar yang Berubah Menjadi Barang yang Mewah
Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?
[OPINI] Ekoteologi Berkemajuan: Membumikan Ajaran Islam dan Kearifan Lokal Makassar untuk Kelestarian Alam

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 16:08 WITA

Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan

Rabu, 1 April 2026 - 21:50 WITA

Mahasiswa Semester Dua JTIK Raih Juara Satu Pilmapres Fakultas Teknik

Rabu, 1 April 2026 - 20:04 WITA

[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras

Kamis, 5 Maret 2026 - 10:03 WITA

Satu Suara di Depan Menara Phinisi, Bergerak Desak Reformasi Polri dan Hentikan Pelanggaran HAM

Kamis, 26 Februari 2026 - 05:59 WITA

[OPINI] Perempuan dalam Cengkeraman Patriarki: Telaah Teologis Kritis atas Teks Alkitab

Berita Terbaru

Potret Pengukuhan Perwakilan Mahasiswa Kewirausahaan Angkatan 2025 dalam Acara Inaugurasi Inoventra 25 (Foto : Putri Salsabila)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Inaugurasi Inoventra 25 Warnai Expresi 2026 dengan Semangat Budaya Lokal Sulawesi

Selasa, 14 Apr 2026 - 19:08 WITA

Foto Bersama Plt Rektor seusai Proses Pemilihan Dekan FIKK, (Foto: Desitha Cahya)

Fakultas Ilmu Keolahragaan & Kesehatan

Tahap Kedua Selesai, Andi Atssam Terpilih Jadi Dekan FIKK

Selasa, 14 Apr 2026 - 13:09 WITA

Potret Hasil Pemilihan Dekan FIKK, (Foto: Desitha Cahya)

Fakultas Ilmu Keolahragaan & Kesehatan

Terpilih sebagai Dekan FIKK, Andi Atssam Mappanyukki Ingin Hilangkan Pungutan Tak Sesuai SOP

Selasa, 14 Apr 2026 - 12:58 WITA

Sampul E-Tabloid 294

Tabloid

E-TABLOID 294

Senin, 13 Apr 2026 - 23:22 WITA