[OPINI] Kesepian Di Tengah Keramaian: Epindemi Sunyi Lansia Urban Indonesia

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 17 Oktober 2025 - 23:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Munaisah, mahasiswa sosiologi UNM, (Foto: Ist.)

Potret Munaisah, mahasiswa sosiologi UNM, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Di tengah hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar, terdapat kelompok lansia yang hidup dalam kesepian. Mereka hadir di antara keramaian, namun seolah tak terlihat.

Banyak dari mereka tinggal di rumah susun atau rumah besar yang kini kosong setelah anak-anak merantau. Bagi mereka, waktu berjalan lambat di tengah dunia yang kian cepat. Fenomena ini menggambarkan kesepian sosial yang nyata dan berdampak pada kesehatan, bukan hanya sebagai masalah psikologis, melainkan sebagai penyakit sosial akibat perubahan struktur masyarakat, pudarnya solidaritas, dan lemahnya perhatian kebijakan publik terhadap kesehatan sosial.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 menunjukkan 10,78% penduduk indonesia merupakan lansia. Jumlah ini terus meningkat, tetapi kehidupan mereka tidak selalu diiringi kesejahteraan sosial. Di kota besar, gaya hidup individualistik membuat banyak lansia kehilangan ruang interaksi. Kesepian bagi mereka bukan hanya karena tidak ada teman bicara, melainkan juga karena hilangnya makna sosial dan perasaan tidak lagi dibutuhkan. Kondisi ini berdampak pada kesehatan, seperti stres kronis, tekanan darah tinggi, gangguan tidur, hingga penurunan fungsi otak. WHO (2021) bahkan mencatat bahwa kesepian dan isolasi sosial meningkat risiko kematian dini hingga 30%. Sayangnya, di indonesia kesepian belum diakui sebagai masalah kesehatan publik dan sering dianggap sebagai takdir alami penuaan. Padahal secara sosiologi, hal ini adalah bentuk ketimpangan sosial baru akibat masyarakat yang semakin terfragmentasi.

Sebuah studi Universitas Indonesia tahun 2022 di rumah susun Jakarta Barat menunjukkan 60% lansia mengalami depresi ringan hingga sedang karena jarang berinteraksi dan merasa di lupakan keluarga. Seorang nenek berusia 74 tahun mengaku hanya berbicara dengan orang lain saat bertemu di tangga, sementara sebagian besar waktunya dihabiskan sendirian di depan televisi. Ia tidak kekurangan materi, tetapi merasa kosong secara emosional. Kisah ini mencerminkan kegagalan sistem sosial modern dalam menyediakan kehangatan dan kebersamaan, meski infrastruktur kota semakin maju. Modernisasi menciptakan kemajuan fisik, namun melemahkan rasa keterikatan sosial yang esensial bagi kesejahteraan lansia.

Dalam perspektif sosiologi kesehatan, Emile Durkheim menjelaskan bahwa masyarakat modern rentan terhadap kondisi anomie, yaitu hilangnya arah dan makna hidup akibat melemahnya norma sosial. Kesepian lansia urban adalah bentuk anomie baru abad ke-21. Akar masalahnya meliputi perubahan struktur keluarga, dimana keluarga besar yang dahulu menjadi sumber dukungan emosional kini berubah menjadi keluarga inti dengan mobilitas tinggi. Di sisi lain, kehidupan kota membuat hubungan sosial menurun akibat kesibukan dan dominasi teknologi digital, menggantikan interaksi tatap muka dengan komunikasi melalui layar. Banyak lansia juga tertinggal secara digital, membuat mereka kehilangan akses terhadap ruang sosial modern. Kurangnya kebijakan publik yang menekankan aspek sosial dan psiklogis memperparah situasi, karena perhatian pemerintah masih terfokus pada kesehatan fisik semata.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Dari Ruang Akademik ke Ruang Kekuasaan, Kekerasan Seksual sebagai Mekanisme Dominasi Sosial di Kampus

Solusi terhadap fenomena ini tidak dapat ditempuh dengan pengobatan medis, melainkan melalui pemulihan interaksi sosial dan solidaritas struktural. Pemerintah daerah dapat menciptakan ruang aktivitas lansia di tingkat komunitas untuk menumbuhkan kembali kebersamaan melalui kegiatan seperti senam, berkebun, membaca, dan berbincang santai. Program antar-generasi juga dapat dijalankan oleh universitas dan organisasi sosial agar mahasiswa rutin berinteraksi dengan lansia yang hidup sendiri, sekaligus menumbuhkan empati sosial di kalangan muda. Selain itu, tenaga kesehatan dan kader posyandy perlu diberi pelatihan agar mampu mengenali tanda-tanda kesepian dan depresi pada lansia. Pemekrisaan kesehatan idealnya tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga kondisi psikososial mereka. Dukungan media massa pun penting melalui kampanye nasional bertema “kesepian bukan takdir”, untuk membangun kesadaran publik bahwa kesepian adalah ancaman kesehatan yang nyata.

Kesepian lansia di kota besar adalah epindemi sunyi yang muncul di tengah modernitas. Ia bukan sekadar akibat tubuh menua, melainkan karena masyarakat kehilangan kemampuan untuk mendengarkan dan merawat kebersamaan. Kesehatan sejati bukan hanya tentang tubuh yang kuat, tetapi juga tentang rasa memiliki dan dimiliki. Membangun indonesia yang sehat berarti tidak hanya memperbanyak rumah sakit, tetapi juga membangun ruang sosial yang menghidupkan nilai kemanusiaan. Di tengah kota yang sibuk, terkadang yang paling dibutuhkan bukan obat, melainkan seseorang untuk diajak berbicara. (*)

*Penulis: Munaisah Rahmadhani

Berita Terkait

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
[OPINI] Perempuan dalam Cengkeraman Patriarki: Telaah Teologis Kritis atas Teks Alkitab
[OPINI] Pendidikan Layak: Hak Dasar yang Berubah Menjadi Barang yang Mewah
Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Jumat, 17 April 2026 - 01:33 WITA

[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang

Selasa, 14 April 2026 - 16:08 WITA

Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan

Rabu, 1 April 2026 - 20:04 WITA

[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras

Berita Terbaru

Potret Nurul Mitha Wisudawan  Terbaik FIP 2026, (Foto: Ist).

wisudawan terbaik

Wisudawan Terbaik FIP Ungkap Perjalanan dan Strategi Akademik

Sabtu, 25 Apr 2026 - 22:10 WITA

Foto Ilustrasi Seseorang Siap Beraktivitas di Pagi Hari, (Foto : AI)

Berita Wiki

Olah Hormon Stress di Pagi Hari Tingkatkan Produktifitas Diri

Sabtu, 25 Apr 2026 - 22:00 WITA