[OPINI]: Demokrasi Waras dalam Kampus

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 11 Mei 2018 - 20:48 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Enaldi, Mahasiswa Prodi Administrasi Bisnis FIS UNM. (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Sudah menjadi agenda rutin lembaga kemahasiswaan di akhir periode kepengurusan untuk bermusyawarah.  Kegiatan ini merupakan momentum dalam peralihan tongkat estafet yang baru.  Perjalanan dinamika lembaga akan menemui babak baru, mulai dari warna yang beragam, background berbeda serta nahkoda baru yang akan menentukan kemana lembaga akan berlabu.

Identitas lembaga akan memuai serta eksistensi lembaga akan memuncak. Kontestasi seperti ini  pun akan melahirkan gesekan kecil,  hak dipilih dan memilih adalah perwujudan dari sebuah bentuk demokrasi. Seyogyanya kegiatan seperti ini adalah festival gagasan, adu ide, pertarungan pemikiran untuk meramu lembaga dalam satu periode.

Namun nyatanya esensi dari musyawarah itu sudah bergeser nilainya. Pertarungan untuk menduduki kursi nomor satu sering ditunggangi dengan maksud tertentu, misal mencari keuntungan pribadi, popularitas,  materi, ataukah dalam bentuk penghargaan. Padahal jika kita memaknai secara waras dan sadar bukan persoalan apa yang lembaga berikan kepada sang aktor, melainkan proses mewakafkan diri terhadap lembaga.

Tetapi ketika hasrat untuk mencapai posisi puncak berada pada level paripurna, maka manuver politik untuk mencapai singgasana itu akan mencapai ketidak warasan. Robert Greene dalam Bukunya 48 Hukum Kekuasaan Menjabarkan Stratapol (strategi dan politik) memenangkan kekuasaan. Teori ini sering  dimatch untuk kepentingan tertentu, kampus pun tidak terhindarkan ketika kontestasi demokrasi pemilihan pimpinan lembaga kemahasiswaan.

Kondisi sekarang ini, kandidat calon pemimpin bukan lagi bersaing dengan kandidat lain.  Melainkan  sebuah skenario yang dibuat hanya untuk membuat masyarakat menilai negatif (framing).  Hal ini hanya mengganggu momentum yang tepat dalam mencari sebuah celah kandidat lain dan menjadikan sasaran empuk dalam memainkan drama yang negatif dengan maksud menjatuhkan orang lain.

Kemudian akan muncul sebuah opini sesat atau penggiringan opini yang ditujukan agar sebuah fakta bisa disamarkan demi memunculkan hal yang baru. Ketidak mampuan seseorang dalam memfilter informasi sebagai sasaran tembak dalam menggoreng sebuah opini, hasut menghasut  pun akan mulai dilancarkan agar value dari orang lain akan drop.

Baca Juga Berita :  Hari Pertama Wisuda, Mahasiswa FIS UNM Ini Jadi Wisudawan Terbaik

Ditambah lagi jikalau ada oknum yang memiliki kepentingan pribadi/golongan yang mempunyai peran vital dalam jalannya sebuah musyawarah. Amatiran dalam simpul menyimpulkan penilaian terhadap orang lain juga adalah adalah sebuah kesesatan dalam memilih. Sebab nyatanya jika ingin maju sebagai kandidat, bicara blakblakan salah satunya tidak dibenarkan agar disenangi semua pihak,  padahal nyatanya menurut pribadi penulis, bicara benar dan menjaga integritas akan lebih mahal dan mulia daripada sebuah jabatan.

Oleh karena itu,  tetap sadar dan waras kawan-kawan jangan mudah terlena dengan  represif berkedok spekulasi pilih memilih yang berkualitas bukan sebuah bentuk politik transaksional  yang kadang buta akan kualitas.  Sudah waktunya pakai logika dan hati bukan persoalan tidak enak hati. (*)

*Penulis: Enaldi, Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial UNM Angkatan 2016

Berita Terkait

[OPINI] Di Persimpangan Pilrek UNM: Catatan Kami Dari LK FIS-H
[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi
[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan
Gratiskan Jas Almamater Maba 2026, Mekanisme Pengambilan Belum Jelas Hingga Kini
Prinsip.id Wadahi Ratusan Mahasiswa Mengabdi di Pelosok
Tembus Tingkat Nasional, Mahasiswi FBS Jadi Finalis Pilmapres 2026 Perwakilan LLDIKTI IX
[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 23:46 WITA

[OPINI] Di Persimpangan Pilrek UNM: Catatan Kami Dari LK FIS-H

Jumat, 31 Juli 2026 - 17:36 WITA

[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WITA

[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan

Kamis, 23 Juli 2026 - 19:17 WITA

Gratiskan Jas Almamater Maba 2026, Mekanisme Pengambilan Belum Jelas Hingga Kini

Kamis, 23 Juli 2026 - 17:42 WITA

Prinsip.id Wadahi Ratusan Mahasiswa Mengabdi di Pelosok

Berita Terbaru

Foto Penyerahan Palu Sidang UKM LPM Penalaran di Rumah Adat Luwu, Benteng Somba Opu, (Foto: Ist.)

LPM Penalaran UNM

LPM Penalaran Buka Ruang Kritik untuk Benahi Kepengurusan

Minggu, 9 Agu 2026 - 16:33 WITA

Potret Andi Aslinda, Wakil Rektor Bidang Akademik UNM, (Foto: Int.)

Pilrek

Rekam Jejak Kuat, WR 1 Masuk Bursa Calon Rektor

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:15 WITA

Fakultas Ilmu Pendidikan

Dekan FIP UNM Nilai Calon Rektor Harus Punya Rekam Jejak Kepemimpinan yang Baik

Minggu, 9 Agu 2026 - 02:36 WITA