PROFESI-UNM.COM – Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (Himagara) laksanakan program pengabdian sosial Himagara Sosial Care (HSC) 2026 sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. Kegiatan ini berlangsung di Dusun Bulu Batu, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng dari 9 hingga 19 Januari 2026.
Mengusung tema “Berawal dari Kepedulian, Membangun Keharmonisan”, HSC 2026 berfokus pada kegiatan edukasi, aksi sosial. Serta pendampingan masyarakat melalui pendekatan partisipatif. Program ini menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus ruang pembelajaran sosial bagi mahasiswa.
Ketua Panitia HSC 2026, Muh. Faiz Al-Bukhari, menjelaskan bahwa Himagara Sosial Care dirancang sebagai wadah mahasiswa untuk terlibat langsung dan hadir bersama masyarakat, bukan sekadar menjalankan kegiatan seremonial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Teman-teman di Himagara melaksanakan program pengabdian sosial Himagara Sosial Care (HSC) 2026 sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. Kegiatan ini berfokus pada edukasi, aksi sosial, dan pendampingan masyarakat melalui pendekatan partisipatif,” jelasnya.
Menurut Faiz, keterlibatan masyarakat dalam setiap rangkaian kegiatan terbilang sangat aktif. Hal ini menjadi faktor penting dalam keberhasilan program. Hal itu karena masyarakat tidak hanya menjadi objek kegiatan, tetapi turut berperan sebagai subjek dalam proses pengabdian.
“Kalau keterlibatan masyarakat, terbilang sangat aktif di setiap rangkaian kegiatan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Faiz menegaskan bahwa Himagara Sosial Care memposisikan mahasiswa Administrasi Negara sebagai agen perubahan yang memiliki kesadaran peran sosial dan berbasis keilmuan.
“Himagara Sosial Care memposisikan mahasiswa Administrasi Negara sebagai agen perubahan, bukan sekadar relawan, tetapi aktor sosial yang sadar peran, kritis, dan berbasis keilmuan,” tegasnya.
Selain memberikan dampak bagi masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bagi mahasiswa. Faiz mengungkapkan bahwa pengalaman terjun langsung ke masyarakat memberikan pemahaman baru tentang makna pengabdian.
“Saya belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang hal besar, tetapi tentang hadir, mendengar, dan membersamai,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, Faiz berpesan agar kepedulian sosial tidak berhenti pada program HSC semata, tetapi terus tumbuh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kepedulian harus tumbuh dulu dalam diri masing-masing, seperti peduli pada diri sendiri sebelum peduli pada orang lain. Karena kepedulian selalu menemukan jalannya ketika terlakukan dengan hati yang tulus,” pungkasnya. (*)
Reporter: Rosdiana / Editor: Hafid Budiawan







