PROFESI-UNM.COM – Sidang Terbuka Senat Universitas Negeri Makassar (UNM) dalam rangka wisuda periode April Tahun Akademik 2025/2026 di Pelataran Menara Pinisi, Rabu (15/4), menghadirkan testimoni dari salah satu alumni sukses Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan ’87. Dalam pemaparannya, menekankan pentingnya kesiapan lulusan dalam menghadapi realitas dunia kerja yang semakin kompetitif.
Dalam sambutannya, Akbar mengaku sempat “galau” melihat capaian akademik para wisudawan Lainnya. Yang umumnya memiliki rata-rata memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,7. Ia membandingkan hal tersebut dengan masa lalunya sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan ’87 yang lulus dengan IPK 2,2.
“Saya ingin jujur, IPK saya dulu cuma 2,2. Tapi saya katakan pada diri saya, kemiskinan tidak boleh menghalangi saya untuk berpikir besar,”. Tegas pendiri kanal podcast dengan jutaan subscriber tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengingatkan bahwa catatan akademik yang luar biasa harus mampu mempertaruhkan dunia kerja yang semakin kompetitif. Sebagai pengusaha yang kini merambah dunia Teknologi Informasi (IT), Akbar membagikan keprihatinannya mengenai kualitas pelamar kerja saat ini. Ia menyoroti banyaknya sarjana yang dinilai “gagap” dalam menyambungkan kemampuan teknis dengan logika masa depan.
“Dari 100 pelamar di perusahaan IT saya, jarang ada yang tahu cara menghubungkan angka dengan masa depan 10 tahun ke depan. Saya titip kepada civitas akademika, ajarkan satu mata kuliah penting, yaitu Logika. Agar mahasiswa mampu menjelaskan pikirannya sendiri dan tidak gagap menghadapi perubahan,” tambahnya.
Selain Kompetisi, Solidaritas Jadi Fokus Akbar
Selain soal kompetensi, Akbar juga menekankan pentingnya solidaritas antar-alumni. Belajar dari pengalamannya di tim transisi kepresidenan, ia mendorong lulusan UNM untuk saling membantu dan memberikan ruang bagi sesama alumni untuk berkontribusi bagi bangsa.
Kepada para orang tua, Akbar memberikan penghormatan setinggi-tingginya. Ia mengingatkan para wisudawan bahwa setiap gelar yang mereka raih merupakan hasil dari keringat dan pengorbanan orang tua yang bahkan rela menjual aset demi pendidikan anak-anak mereka.
“Sombonglah pada kemiskinan yang pernah menjeratmu dengan cara melampauinya. Merdekakan pikiran kalian secara terukur melalui ilmu pengetahuan. Dan yang paling penting, catatkan sejarahmu sendiri,” pungkasnya disambut tepuk tangan riuh ribuan hadirin. (*)
*Reporter: Muh Apdal Adriansyah







