PROFESI-UNM.COM – Jas almamater dikenakan hari ini, bukan hanya identitas kain penanda status kepesertaan didik di sebuah perguruan tinggi. Di balik pemilihan warna ikonik, lambang universitas yang tersemat di dada, atau kancing berlogo tersebut, tersimpan narasi sejarah yang panjang.
Jejak awal pakaian identitas kampus dapat ditarik hingga abad pertengahan di Eropa, tepatnya pada masa awal berdirinya universitas tua seperti Bologna dan Oxford.
Pada masa itu, tradisi jubah akademik ini bersifat sangat sakral dan eksklusif bagi kalangan akademisi menara gading yang didominasi kaum elit. Namun, situasi ini mulai bergeser ketika sistem pendidikan modern Barat mengadopsi potongan pakaian yang lebih praktis berupa jas atau blazer formal menjelang abad ke 19.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Adaptasi kultur blazer kampus ini kemudian masuk ke Indonesia bersamaan dengan berdirinya sekolah tinggi bentukan pemerintah kolonial Belanda.
Puncaknya, setelah Indonesia merdeka dan memasuki dekade 1950-an hingga era Orde Baru, universitas-universitas negeri mulai melakukan pembakuan dan memilih warna khas mereka masing .
Merespons membeludaknya aksi massa mahasiswa pada akhir dekade 1970-an, pemerintah sempat mengetatkan regulasi dan mengawasi penggunaan atribut kampus ini demi meredam gejolak politik.
Momentum besar ini membuat setiap kampus di Indonesia memiliki otonomi penuh untuk mendesain dan memaknai warna almamater mereka sendiri tanpa intervensi ketat pemerintah.
Memasuki era modern, penggunaan atribut ini terus disempurnakan bukan lagi untuk menonjolkan sekat antarkampus, melainkan sebagai wadah kolaborasi pemuda di tingkat nasional maupun internasional.
Pemerintah dan institusi kini mendorong mahasiswa menjaga marwah jas tersebut melalui prestasi, guna memastikan esensi identitas akademik berjalan selaras dengan kemajuan zaman. (*).
*Reporter: Muhammad Syarief







