PROFESI-UNM.COM – Indonesia pernah memiliki dua tokoh besar yang meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan bangsa, yaitu Abdurrahman Wahid yang kerap disapa Gus Dur dan B. J. Habibie. Keduanya merupakan mantan pemimpin nomor satu Indonesia yang hadir dengan karakter berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan, yaitu menempatkan kepentingan bangsa dan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun kekuasaan.
Sedalam Gus Dur
Gus Dur dikenal sebagai pemimpin yang memiliki kedalaman nurani. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mengabdi kepada masyarakat. Ketika gelombang politik menjatuhkannya dari kursi kepresidenan pada tahun 2001, ribuan pendukungnya siap turun ke jalan untuk melakukan perlawanan. Sebagian massa bahkan menunjukkan kemarahan dan keinginan untuk melakukan pemberontakan terhadap keputusan politik yang dianggap tidak adil. Namun, Gus Dur memilih jalan yang berbeda. Dengan kebesaran jiwa yang jarang dimiliki pemimpin, ia meminta para pendukungnya untuk menahan diri dan menjaga kedamaian.
Dalam salah satu pernyataan yang kemudian dikenang banyak orang, Gus Dur berkata, “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian”. Kalimat sederhana tersebut menunjukkan kedalaman moral seorang pemimpin yang memahami bahwa persatuan bangsa jauh lebih penting daripada mempertahankan kekuasaan. Di saat banyak orang rela mengorbankan rakyat demi jabatan, Gus Dur justru rela kehilangan jabatan demi menghindari konflik dan pertumpahan darah. Sikap itulah yang menjadikannya bukan hanya seorang presiden, tetapi juga negarawan yang mengedepankan kemanusiaan di atas ambisi politik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seluas Habibie
Sosok kedua adalah Habibie, beliau menunjukkan teladan pengorbanan dalam bentuk yang berbeda. Sebagai ilmuwan dan teknokrat yang sangat mencintai dunia penerbangan, proyek pesawat N-250 Gatotkaca merupakan salah satu impian terbesarnya. Pesawat tersebut menjadi simbol kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai teknologi tinggi dan membangun kemandirian industri strategis. Namun, ketika Indonesia diterpa krisis moneter 1997–1998 yang mengancam stabilitas ekonomi nasional, Habibie dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit.
Demi kepentingan yang lebih besar, Habibie menerima kenyataan bahwa proyek N-250 harus dihentikan. Keputusan tersebut bukan karena ia kehilangan keyakinan terhadap kemampuan anak bangsa, melainkan karena kondisi ekonomi negara saat itu menuntut prioritas utama. Pemerintah harus fokus menjaga stabilitas ekonomi, menekan laju inflasi, memperkuat nilai tukar rupiah, dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Bagi Habibie, tidak ada kebanggaan teknologi yang lebih penting daripada keselamatan rakyat. Ia rela mengorbankan proyek yang menjadi cita-cita hidupnya demi membantu bangsa keluar dari krisis yang mengancam kehidupan jutaan masyarakat Indonesia. Saat diwawancarai terkait keputusannya, beliau menjawab, “Saya mengalah untuk menang, yang menang itu RAKYAT.”
Sosok Pemimpin yang Dirindukan
Dari peristiwa tersebut kita melihat persamaan yang sangat mendasar antara Gus Dur dan Habibie. Gus Dur mengorbankan kekuasaan demi persatuan bangsa, sementara Habibie mengorbankan ambisi teknologi demi keselamatan ekonomi rakyat. Keduanya menunjukkan bahwa ukuran kebesaran seorang pemimpin bukanlah seberapa lama ia berkuasa atau seberapa besar proyek yang dibangunnya, melainkan seberapa besar kesediaannya mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan dirinya sendiri.
Ketika kedalaman nurani Gus Dur dipadukan dengan keluasan pemikiran Habibie, lahirlah gambaran ideal seorang pemimpin Indonesia.
Pemimpin yang tidak hanya cerdas dalam merancang masa depan, tetapi juga bijaksana dalam mengambil keputusan sulit. Pemimpin yang berani melepaskan sesuatu yang dicintainya ketika hal itu diperlukan demi kepentingan bangsa yang lebih besar.
Di tengah berbagai tantangan bangsa saat ini, mulai dari polarisasi sosial, ketimpangan ekonomi, hingga disrupsi teknologi. Masyarakat merindukan figur pemimpin yang memiliki karakter seperti keduanya. Sosok yang mampu menempatkan kemanusiaan di atas kekuasaan, menempatkan kepentingan rakyat di atas ambisi pribadi.
Bangsa ini tidak akan dikenang karena seberapa megah kekuasaannya, melainkan karena seberapa besar para pemimpinnya mencintai rakyat yang dipimpinnya. Dan dalam hal itu, Gus Dur dan Habibie telah memberikan teladan yang akan terus hidup dalam ingatan Indonesia. “Sedalam Gus Dur, seluas Habibie” bukanlah sekadar ungkapan romantisme sejarah. Kalimat tersebut merupakan harapan kolektif bangsa terhadap hadirnya pemimpin yang memiliki kedalaman empati, keluasan pengetahuan, keberanian moral, serta komitmen yang teguh terhadap kepentingan rakyat. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul perbedaan sebagaimana Gus Dur, dan membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan sebagaimana Habibie.
Kepemimpinan yang dirindukan bukanlah tentang sosok yang sempurna, melainkan tentang pribadi yang menjadikan kekuasaan sebagai amanah. Keteladanan beliau tetap hidup, menjadi kompas moral bagi generasi pemimpin Indonesia masa kini dan untuk masa yang akan datang. (*)
Penulis: Andi Nuzul Akbar







