[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 3 Juni 2026 - 23:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Fuad Farizt De Aprilia, (Foto: Ist.)

Potret Fuad Farizt De Aprilia, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Di ruang-ruang kelas yang seharusnya menjadi taman bagi tumbuhnya harapan, pendidikan hari ini tampak berjalan dengan langkah yang kehilangan arah. Ia berdiri megah dengan gedung-gedung yang menjulang, kurikulum yang terus berganti, dan angka-angka prestasi yang dipamerkan di berbagai panggung kebanggaan. Namun, di balik gemerlap itu, ada suara-suara lirih yang kerap tenggelam: suara anak-anak yang lelah, cemas, dan perlahan kehilangan makna dari perjalanan belajarnya.

Pada masa kini, pendidikan serasa telah menjelma seperti pabrik besar yang hanya sibuk mencetak angka. Nilai rapor menjadi mahkota, sementara proses bertumbuh menjadi perkara yang dianggap biasa. Anak-anak tidak lagi diajak mengenali dirinya sendiri, melainkan didorong untuk berlari dalam perlombaan yang bahkan tidak mereka pahami garis akhirnya. Mereka dipaksa menghafal banyak hal, tetapi jarang diberi kesempatan untuk memahami perasaannya sendiri.

Ketika kita berkaca Dari sudut pandang psikologi, manusia bukanlah lembar jawaban yang dapat dinilai hanya dengan benar dan salah. Ia adalah semesta yang rumit, terdiri atas mimpi, ketakutan, harapan, dan potensi yang berbeda-beda. Namun, pendidikan kita saat ini seolah menolak keragaman itu. Ia memegang satu penggaris yang sama untuk mengukur seluruh anak, seakan-akan bunga mawar, anggrek, dan melati harus mekar dengan bentuk dan waktu yang serupa.

Di bangku sekolah, banyak anak tumbuh dengan kecemasan yang disembunyikan di balik senyum. Mereka belajar bahwa kesalahan adalah aib, bahwa kegagalan adalah kutukan, dan bahwa penghargaan hanya diberikan kepada mereka yang mampu berdiri di puncak. Akibatnya, lahirlah generasi yang mahir menjawab soal, tetapi gagap memahami dirinya sendiri. Generasi yang fasih mengejar kesempurnaan, tetapi asing dengan ketenangan.

Ironisnya, pendidikan yang seharusnya menjadi cahaya justru sering kali berubah menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Buku-buku dibaca bukan karena rasa ingin tahu, melainkan karena tuntutan nilai. Belajar bukan lagi petualangan yang membebaskan, melainkan beban yang harus ditanggung demi memenuhi ekspektasi yang tak pernah habis.

Baca Juga Berita :  7 Kebiasaan Kecil yang Bisa Bikin Hari Kamu Lebih Produktif

Barangkali kita perlu bertanya kembali: untuk apa pendidikan itu ada?

Jika jawabannya adalah untuk memanusiakan manusia, maka kita telah berjalan terlalu jauh dari porosnya. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga ruang untuk diterima, dipahami, dan berkembang sesuai jati dirinya. Pendidikan semestinya menjadi sungai yang mengalirkan kehidupan, bukan bendungan yang menekan setiap arus agar bergerak ke arah yang sama.

Sudah waktunya kita mengembalikan pendidikan kepada hakikatnya: sebuah perjalanan yang tidak hanya mengisi kepala, tetapi juga merawat jiwa. Sebab bangsa ini tidak membutuhkan generasi yang sekadar pandai menghitung angka, melainkan generasi yang mampu memahami makna. Generasi yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga sehat dalam merasa.

Karena pada akhirnya, sekolah yang berhasil bukanlah sekolah yang menghasilkan deretan nilai sempurna, melainkan sekolah yang mampu melahirkan manusia-manusia utuh, yang akalnya tercerahkan, hatinya terawat, dan jiwanya tetap hidup di tengah derasnya arus zaman. (*)

*Penulis: Fuad Farizt De Aprilia

Berita Terkait

[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi
[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan
[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
Berita ini 133 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 17:36 WITA

[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WITA

[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Berita Terbaru

Kemeriahan Penampilan Guest Star, Dian Ekawati Bersama Plt Rektor UNM dan Jajarannya, (Foto: Hafid Budiawan)

Dies Natalies

[FOTO] Semarak Malam Penganugerahan Award Dies Natalis ke-65

Minggu, 2 Agu 2026 - 22:11 WITA

Potret Abdul Saman saat Berikan Laporan pada Malam Penganugerahan Award, (Foto: Int.)

Dies Natalies

Dies Natalis UNM Berakhir, Ketua Panitia Ungkap Ketua Berikutnya

Minggu, 2 Agu 2026 - 22:05 WITA

Potret Farida Patittingi saat Menyampaikan Laporan Tahunan Plt. Rektor pada Kegiatan Upacara Perayaan Dies Natalis UNM ke-65, (Foto : Int.)

Agendasiana

UNM Kembangkan Sistem Digital Terintegrasi untuk Tata Kelola Kampus

Minggu, 2 Agu 2026 - 14:37 WITA