PROFESI-UNM.COM – Mei 2026 adalah momentum refleksi sekaligus menjadi bahan koreksi kepada penyelenggara negara dari penindasan dan ketimpangan yang dihadirkan melalui kebijakan yang refresif, brutalitas aparatnya, perampasan ruang hidup sampai kriminalisasi kaum progresif. Bulan mei
adalah letupan memori kolektif dari rentetan peristiwa kelam masa lalu. Mei adalah bulan para
mahasiswa yang meregang nyawa demi reformasi. Mei adalah mereka yang hilang tapi tak
pernah kembali seperti Widji Thukul. Mei adalah momentum historis buruh setiap tahun yang
berupaya meruntuhkan sistem kapitalisme yang menindas. Mei adalah hari manifesto
pembebasan pendidikan yang digelorakan Ki Hadjar Dewantara. Mei menjadi bulan yang
begitu penuh gairah, pengalaman langsung yang sulit untuk digambarkan walau begitu dekat.
Kondisi tentang bagaimana gerakan perlawan Mei adalah seperti halnya bagaimana balita baru
lahir belajar untuk berjalan dengan tergopoh-gopoh bahkan seringkali jatuh, seakan merenggut
harapan untuk sebuah perubahan. Apakah mungkin ada harapan untuk perubahan ditengah
kerapuhan gerakan kita? Jika ditelisik lebih jauh, salah satu watak buruk dari gerakan
mahasiswa adalah kemunduran pola gerakannya. Semula, mahasiswa bisa bergerak dengan
kutub moralisnya, sebagai pembenah kengawuran penguasa, inilah yang disebut gerakan resi
oleh Suryadi Radjab (1991). Namun, akhirnya redup dengan sendirinya, mungkin benar apa
yang disampaikan oleh Izam Komaruzaman (2025) bahwa gerakan mahasiswa kini berada
dalam kondisi pecekik.
Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi gerakan mahasiswa terbilang hanya mengikuti tren
belaka, bahkan seorang teman menyeletuk ketika saya membuat tulisan ini “lemah, sangatsangat lemah, gerakan hari ini mudah dikondisikan” memang kadangkala ada benarnya jika
kita lihat di Agustus kelam 2025 lalu pun seperti itu, banyak titik aksi, ledakan demi ledakan
demonstrasi terjadi dimana-mana tetapi 17+8 tidak menghasilkan apa-apa, kecuali influencerinfluencer gerakan yang tetiba muncul begitu saja. Mungkin benar bahwa rantai gerakan sosial
hari ini seperti yang disampaikan oleh Coen Husain Pontoh dalam tulisan “Membangun
Gerakan Sosial Baru: Sebuah Usul” di Indoprogress 2025 lalu, bahwa gerakan sosial hari ini
seperti rantai “kemarahan-kekecewaan-perlawanan-dan kekalahan” terus berulang di gerakan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Naasnya, gerakan mahasiswa tidak hanya menjadi reaktif, tetapi sangat mudah dipadamkan
apinya, betul, lemah. Sebab pada akhirnya, ketika isunya mulai padam dan dengan sendirinya
tergantikan oleh isu yang lain berakhir pada ujung yang sama, kekalahan demi kekalahan. Sore
ini di Warkop Azzahrah ketika langit makassar sedang merah merekah Kompas.com
menampilkan berita “Batal Demo, KSPI Pilih Rayakan May Day 2026 Bareng Presiden di
Monas” semalam kabarnya kawan-kawan BEM di salah satu kampus “plat merah” di Makassar
batal aksi May Day. Seperti gayung bersambut, ketika teman menyeletuk “.. gerakan sekarang
mudah dikondisikan”.
Saya tidak ingin mengjustifikasi bahwa pemimpin-pemimpin sel gerakan tidak
mengedepankan integritasnya sebagai patron gerakan sebab apa yang tampak tidak dapat
diterima begitu saja sebagai kenyataan, kira-kira begitu inti dari yang pernah dikemukakan oleh
Marx. Seringkali ada ruang abu-abu yang tersisa dari dinding-dinding konsolidasi gerakan,
inilah ruang yang sengaja dimainkan menggunakan pola aktor ganda berperan sebagai
konsolidator yang dengan landasan moralitas mengkirstalitasi arah gerakan namun disisi
berlawanan berkawan dengan kekuasaan, akhirnya orientasi gerakan menjadi kontra produktif,
kalah dan patah ditengah jalan.
Krisis ini terpampang nyata ketika, BEM, Sehat, Hima dan organisasi-organisasi mahasiswa
lainnya gagal dalam membentuk karakter gerakan mahasiswa. Belajar dari Agustus Kelabu
2025 lalu, ketika banyak tuntutan yang dipajang membanjiri media sosial dan kecemerlangan
mengkonsolidasikan kemarahan massa namun satu titik vital gagal dipertahankan, konsistensi
gerakan. Kecenderungan menggunakan perspektif parsial dalam gerakan mengakibatkan
situasi yang cukup kompleks dari kelelahan internal untuk fokus pada isu-isu tertentu, sibuk
terkatung-katung menentukan prioritas dan kecurigaan sesama sel satu dengan yang lainnya
cukup menjadi biang keladi kegagalan mahasiswa untuk konsisten membangun dan
mengekskalasikan gerakan
Pada saat yang bersamaan, banyak kelompok/organisasi mahasiswa menjadikan gerakan sebagai lahan
produksi keuntungan, baik berupa popularitas atas nama gerakan, bahkan tidak jarang gerakan
dikonversi menjadi logistik untuk kepentingan individu. Watak dan karakter inilah yang
mengubah citra dan marwah gerakan dihadapan publik luas, banyak yang bersepakat bahwa
sekalipun kritik dan sentiment itu bermunculan tetapi memilih tetap turun ke jalan, namun tidak
sedikit juga sel-sel mahasiswa yang berada pada posisi dilematis, maju kena mundur juga kena,
diam justru lebih parah.
Kondisi ini tidak muncul dalam ruang hampa begitu saja, ia adalah pola kooptasi gerakan yang
muncul sejak 1998. Ketika kapitalisme-neoliberal diterapkan sebagai strategi pembangunan
nasional yang diusulkan oleh lembaga-lembaga keuangan multilateral, neoliberalisme menjadi
acuan utama karena dianggap sebagai strategi pembangunan yang paling sesuai dengan sistem
politik demokrasi liberal. Pada akhirnya kapitalisme melalui penyelenggara negara berupaya
menjaga stabilitasnya dengan memberikan sebagian kecil keuntungan kepada sel-sel progresif
untuk mereduksi gerakannya sehingga tidak heran bila gerakan mahasiswa berujung kebutuan
dan patah ditengah jalan.
Inilah wajah politik arah baru gerakan mahasiswa kini, selalu menyisahkan ruang abu-abu
dengan berkompromi bersama kekuasaan. Padahal, karakter mahasiswa yang dulu dikenal
menjunjung tinggi keberpihakan pada kelompok rentan dan tertindas, kini berbelok arah,
menjadi kicap dihadapan keuntungan yang menyilaukan. Sejatinya, mahasiswa adalah posisi
strategis dimana peran untuk menyatakan kebenaran dihadapan kekuasaan adalah jadi diri yang
harus dimurnikan kembali. Sebab, ada yang lebih mewah daripada jabatan, kekuasaan dan
uang, ia berupa integritas dan idealitas sebab hanya dengan itu kita disebut sebagai mahasiswa,
toh apalagi manusia. (*)
*Penulis: Syamry







