PROFESI-UNM.COM – Transisi kepemimpinan Universitas Negeri Makassar (UNM) memantik polemik. Penunjukan Farida Patittingi sebagai Pelaksana Harian (Plh.) Rektor tak hanya menandai pergantian pucuk pimpinan, tetapi juga membuka babak baru dinamika kampus yang sarat gesekan kepentingan.
Sehari setelah pengumuman tersebut, situasi kampus mendadak ricuh. Insiden terjadi pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Kampus II Parangtambung, Kamis (6/11), dan mengakibatkan lima unit sepeda motor hangus terbakar. Peristiwa itu mengejutkan sivitas akademika serta memicu berbagai spekulasi.
Pasca kejadian, gelombang aksi demonstrasi bermunculan. Massa aksi menyuarakan penolakan terhadap kepemimpinan sementara serta menuntut agar rektor nonaktif, Karta Jayadi, kembali ke jabatannya. Aksi berlangsung beruntun dan mempertegang suasana lingkungan kampus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dosen Q (pelapor) menilai konflik ini tidak boleh berlarut. Menurutnya, perusakan fasilitas pendidikan berpotensi merugikan institusi secara finansial serta mencederai iklim akademik.
“Kejadian penyerangan seperti ini harus diselesaikan secara tuntas. Fasilitas kampus rusak. Selain itu, jika terus berlanjut, tentu akan berdampak pada anggaran tambahan untuk perbaikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga mengaku mengalami tekanan berupa teror dan serangan personal, mulai dari panggilan anonim hingga manipulasi foto.
“saya diteror, ditelfon, bahkan ada yang mengedit foto saya secara tidak pantas,” katanya.
Situasi serupa kembali terjadi setelah Farida resmi sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor. Sehari berselang, aksi demonstrasi kembali berlangsung selama dua hari berturut-turut dengan tuntutan penolakan terhadap Plt Rektor yang berasal dari luar internal kampus. (*)
*Reporter: Insyiraah Putri Aeni Hs







