[OPINI] Sistem Pendidikan di Era Sekarang yang Tidak Sesuai dengan Realita yang Ada

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 10 Februari 2026 - 01:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Iis Gunarsi, (Foto: Ist.)

Potret Iis Gunarsi, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Pada era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang sangat cepat, sistem pendidikan seharusnya mampu beradaptasi dengan realita kehidupan masyarakat. Namun, pada kenyataannya, sistem pendidikan saat ini masih menunjukkan banyak ketidaksesuaian dengan kondisi nyata yang dihadapi peserta didik. Pendidikan sering kali berjalan secara ideal di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil di lapangan.

Salah satu masalah utama adalah kurikulum yang terlalu padat dan berorientasi pada capaian akademik semata. Peserta didik dituntut untuk menguasai banyak materi dalam waktu yang terbatas, tanpa diimbangi dengan pemahaman yang mendalam dan keterampilan hidup yang relevan. Akibatnya, proses belajar menjadi beban, bukan sarana pengembangan potensi. Banyak siswa yang mampu menghafal, tetapi kesulitan menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, sistem evaluasi pendidikan yang masih menitikberatkan pada nilai dan ujian juga menjadi persoalan serius. Keberhasilan belajar sering diukur dari angka-angka di rapor, bukan dari perkembangan karakter, kreativitas, maupun kemampuan berpikir kritis. Hal ini membuat siswa lebih fokus pada hasil akhir daripada proses belajar itu sendiri. Bahkan, tidak jarang muncul praktik belajar yang hanya berorientasi pada “lulus ujian”, bukan pada pemahaman yang sesungguhnya.

 

Sistem Pendidikan di Era Sekarang yang Tidak Sesuai dengan Realita

Ketidaksesuaian lainnya terlihat pada pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Meskipun pembelajaran digital semakin berkembang, realitanya tidak semua daerah memiliki akses internet yang memadai dan perangkat yang mendukung. Kesenjangan digital ini menyebabkan terjadinya ketimpangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Akibatnya, kesempatan belajar yang seharusnya merata justru menjadi tidak adil.

Di sisi lain, peran guru dalam sistem pendidikan modern juga menghadapi tantangan besar. Guru sering dibebani oleh administrasi yang kompleks, sehingga waktu dan energi untuk membimbing siswa secara optimal menjadi terbatas. Padahal, dalam realita pendidikan, kehadiran guru sebagai pendidik, motivator, dan teladan sangatlah penting. Jika guru lebih sibuk dengan laporan daripada mendampingi peserta didik, maka esensi pendidikan akan semakin berkurang.

Selain aspek akademik, sistem pendidikan saat ini juga belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan kehidupan sosial. Banyak lulusan yang memiliki ijazah, tetapi belum siap menghadapi tantangan nyata, seperti kemampuan komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia nyata.

Baca Juga Berita :  [OPINI] 70 Tahun Kontribusi Kalla dalam Pembangunan Pendidikan di Indonesia Timur

Menurut saya, sistem pendidikan seharusnya lebih bersifat kontekstual dan humanis, yaitu menyesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan kebutuhan peserta didik. Kurikulum perlu disederhanakan dan difokuskan pada pengembangan kompetensi, karakter, serta keterampilan hidup. Evaluasi belajar pun perlu diarahkan pada penilaian yang menyeluruh, bukan hanya berbasis angka.

Selain itu, pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang relevan dan adil. Pemerataan fasilitas, peningkatan kualitas guru, serta penguatan pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga wahana pembentukan manusia yang siap menghadapi realita kehidupan.

Ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan realita yang ada merupakan tantangan besar yang harus segera kita atasi. Pendidikan tidak boleh berjalan jauh dari kehidupan nyata peserta didik. Jika sistem pendidikan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, maka pendidikan akan benar-benar menjadi fondasi utama bagi kemajuan bangsa. (*)

*Penulis: Iis Gunarsi

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
Berita ini 206 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Berita Terbaru

Pamflet Pendaftaran Sayembara Karya 2025, (Foto:Ist)

Fakultas Bahasa dan Sastra

Genesis 25 FBS Buka Sayembara Karya Jelang Inaugurasi Angkatan

Minggu, 12 Jul 2026 - 23:14 WITA

Pamflet Penerimaan Mahasiswa Baru Seleksi Mandiri 2026 Gelombang 2 FBS UNM, (Foto:Int)

Fakultas Bahasa dan Sastra

Kouta Terbatas! Fakultas Bahasa dan Sastra Buka Seleksi Jalur Mandiri Gelombang Dua

Minggu, 12 Jul 2026 - 22:52 WITA

Potret Egi Andisar Juara 1 di Lomba 3 Minute Speech Contest, (Foto: Ist)

Fakultas Teknik

Mahasiswa FT Raih Juara 1 di Lomba 3 Minute Speech Contest

Sabtu, 11 Jul 2026 - 23:25 WITA

Gambar Peringatan Hari Koperasi Indonesia 2026, (Foto: Int.)

Berita Wiki

Hari Koperasi Indonesia dan Peran Mahasiswa

Jumat, 10 Jul 2026 - 23:31 WITA