PROFESI-UNM.COM – Sejarah panjang bangsa Indonesia tidak pernah terlepas dari peran penting sekelompok intelektual yang disebut sebagai Mahasiswa. Mulai dari upaya melakukan kesadaran ditataran akar rumput, hingga membangun gerakan kolektif dijalan-jalan perjuangan. Tentu dari serangkaian catatan yang tertulis dalam sejarah, satu hal yang menjadi pondasi utama yaitu persatuan.
Persatuan menjadi kekuatan untuk memperjuangkan kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan, dan meletakkan keberpihakan pada rakyat yang tertindas. Meski tidak bisa dimungkiri bahwa Negara Indonesia adalah tanah air yang dibangun dari berbagai macam latar belakang suku, ras, agama, budaya dan bahasa. Namun perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang untuk berada pada satu titik perjuangan yang sama.
Tentu gerakan mahasiswa adalah gerakan moral yang mengutamakan subtansi daripada eksistensi. Karena berangkat dari kesadaran yang sama bahwa terjadi ketimpangan dan penindasan dimana-mana. Sehingga seharusnya dari kesadaran dalam memandang kenyataan tersebut menjadi titik awal dari berbagai kelompok merembukkan gagasan dan menyusun metodologis gerakan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun dewasa ini, khususnya dalam gerakan mahasiswa yang terbangun di Kota Makassar justru terlihat masih sangat jauh dari cita ideal penyatuan api perjuangan. Tepatnya pada aksi demonstrasi yang berlangsung tentang isu pembubaran DPR hingga respon bentuk solidaritas terhadap meninggalnya Ojol di Jakarta akibat terlindas mobil rantis aparat kepolisian.
Salah satu kenyataan bahwa jauhnya cita penyatuan gerakan yang terpampang dilapangan karena berbagai kelompok enggan untuk satu titik api perjuangan meskipun berada pada tempat yang sama dalam menyuarakan aspirasi. Dari terbentuknya lingkaran-lingkaran yang memberi sekat antar kelompok sangat memberi kesan gerakan sektoral. Padahal peristiwa yang terjadi belakangan ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan rekonsoliasi gerakan di Kota Makassar.
Gerakan moral mahasiswa yang seharusnya mengutamakan subtansi justru terlihat hanya menunjukan eksistensi masing-masing almamater dan warna organisasi. Dimana titik api antara Almamater Orange, Hijau, Biru Navi dan beberapa warna yang berasal dari berbagai kampus dan organisasi justru membangun panggung pertunjukannya sendiri. Seakan-akan gerakan hanyalah sebatas ajang kompetisi dan saling unjuk gigi.
Meskipun tidak dapat dimungkiri bahwa akan selalu ada perbedaan ideologis, perbedaan metologi gerakan yang ditawarkan, maupun perbedaan cara pandang tentang isu yang berkembang. Namun perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang untuk duduk berembuk bersama dalam satu ruang konsolidasi, karena jika memang berangkat pada satu kesadaran yang sama bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan harus bergerak karena terjadi ketimpangan,kesewenang-wenangan,penindasan dan berbagai problematika kebangsaan lainnya maka sebuah keniscayaan untuk berkompromi terhadap perbedaan ideologis dan tawaran metodologis.
Maka PR para aktor intelektual dimasing-masing kelompok hari ini bertanggung jawab untuk saling menjahit simpul dan merapatkan barisan perjuangan. Sebab gerakan yang kaku dan sektoral sangat mudah patah dan dipecah belah. Pada setiap aksi demonstrasi kalimat “Mahasiswa Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” sering diteriakkan secara lantang dan dengan nada bergetar membakar semangat. Maka seharusnya spirit persatuan menjadi nafas perjuangan dalam gerakan, bukan hanya sebatas jargon ditengah kerumunan. Sebab saya percaya bahwa penyatuan dalam gerakan kolektif dari berbagai kelompok dan kalangan adalah kekuatan yang sangat besar yang dapat meronrong kekuasaan.
Penulis: Hasrul







