PROFESI-UNM.COM– FOMO berlari merupakan fenomena sosial yang berkembang pesat di kalangan masyarakat urban, terutama generasi muda, sebagai respons terhadap tren gaya hidup sehat dan pencitraan sosial di media digital. Istilah FOMO sendiri adalah akronim dari Fear of Missing Out, yang merujuk pada rasa takut tertinggal dari tren atau aktivitas populer yang dilakukan oleh orang lain.
Dalam konteks ini, FOMO berlari merujuk pada kecenderungan individu untuk ikut serta dalam aktivitas lari, baik di komunitas lari, event maraton, maupun sekadar lari santai (jogging), bukan semata-mata karena motivasi kesehatan, melainkan karena dorongan sosial dan kebutuhan eksistensi di ruang digital. Foto-foto hasil lari dengan jarak tertentu, postingan waktu tempuh, hingga tampilan atribut olahraga yang trendy menjadi pemicu utama maraknya fenomena ini.
Fenomena ini semakin marak dengan meningkatnya popularitas aplikasi lari seperti Strava, Nike Run Club, atau Garmin Connect yang memungkinkan para pelari membagikan aktivitas mereka secara real-time. Fitur berbagi hasil lari ini mendorong munculnya semacam “kompetisi sosial”, di mana pengguna merasa perlu tampil aktif dan produktif untuk mendapatkan validasi berupa likes atau komentar di media sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, meningkatnya jumlah event lari yang bersifat publik seperti fun run, charity run, hingga marathon series di berbagai kota besar turut menjadi pemicu utama. Banyak peserta yang mengikuti lomba bukan karena latihan atau persiapan serius, melainkan karena ingin tampil sebagai bagian dari komunitas yang terlihat aktif dan sehat.
Meski demikian, fenomena FOMO berlari juga memiliki dampak positif. Banyak individu yang awalnya hanya ikut-ikutan, kemudian justru menjadikan lari sebagai kebiasaan rutin yang sehat. Di sisi lain, ada pula risiko yang perlu diwaspadai, seperti kelelahan fisik akibat latihan yang tidak sesuai kapasitas tubuh, cedera karena pemaksaan, hingga tekanan psikologis karena perbandingan sosial yang berlebihan.
Para ahli menyarankan agar setiap individu yang ingin memulai kegiatan berlari tetap memperhatikan aspek kesehatan, memulai dengan tujuan yang realistis, serta tidak menjadikan validasi sosial sebagai satu-satunya motivasi. Olahraga seharusnya menjadi sarana untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, bukan sekadar alat untuk eksistensi di media sosial.
Dalam dunia modern yang serba terhubung, FOMO berlari menjadi cerminan bagaimana aktivitas fisik sederhana dapat berubah menjadi simbol status, identitas, dan pencapaian sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik lari yang tampak sepele, tersimpan dinamika psikologis dan sosial yang kompleks. (*)
*Reporter: Rahmadani







