[Opini] Ketika Calon Guru Tidak Mengenal Pedagogi: Sebuah Kegelisahan tentang Masa Depan Pendidikan

Avatar photo

- Redaksi

Kamis, 24 Juli 2025 - 00:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Baldhan Ma’ruf (Foto : Ist.)

Potret Baldhan Ma’ruf (Foto : Ist.)

 

PROFESI-UNM.COM – Bayangkan suatu hari seorang calon guru ditanya, “Apa itu pedagogi?” Namun ia hanya terdiam, bingung, atau bahkan mengaku tidak tahu. Bagi sebagian orang mungkin ini hanya kekeliruan kecil, namun bagi mereka yang memahami tanggung jawab seorang pendidik, situasi ini bukan sekadar ironi, melainkan sebuah tanda bahaya besar. Sebab bagaimana mungkin seseorang yang bercita-cita menjadi pendidik, tidak memahami salah satu konsep paling dasar dalam dunia pendidikan?

Pedagogi bukanlah istilah asing yang hanya terpakai dalam jurnal ilmiah atau ruang kuliah pascasarjana. Ia adalah napas dari seluruh proses pendidikan itu sendiri. Pedagogi adalah seni dan ilmu mengajar. Ia mencakup strategi, pendekatan, metode, dan bahkan nilai-nilai yang mendasari hubungan antara guru dan murid. Seorang guru yang tidak memahami pedagogi ibarat tukang kayu yang tak tahu cara memegang kapak. Ia mungkin akan tetap “mengajar”, tapi tidak dengan kesadaran, tidak dengan prinsip, dan tidak dengan arah.

Kegelisahan ini berakar pada keprihatinan yang lebih luas: bagaimana kita membayangkan masa depan bangsa jika fondasi calon pendidik saja begitu rapuh? Kita bisa terus menyusun kurikulum yang hebat dari atas, merancang sistem yang modern, atau mengguyur dunia pendidikan dengan teknologi dan dana. Tapi jika orang yang berdiri di depan kelas tidak memiliki wawasan, maka semua itu akan runtuh oleh ketidaktahuan. Sistem bisa berubah, tapi kualitas guru adalah pondasi yang tak tergantikan.

Kenyataan bahwa masih ada calon guru yang tidak memahami istilah seperti pedagogi menunjukkan bahwa banyak dari mereka belum benar-benar menjadikan dunia pendidikan sebagai panggilan. Sebagian besar mungkin masuk ke dunia keguruan karena “terpaksa”, “pilihan terakhir”, atau karena “pekerjaan yang aman”. Akibatnya, mereka hadir tanpa semangat belajar, tanpa rasa ingin tahu, bahkan tanpa rasa tanggung jawab intelektual.

Pemikiran sempit seperti ini yang patut tersorot. Menjadi guru bukan sekadar bekerja, tapi membentuk manusia. Kalau wawasan guru sempit, maka sempit pula pemikiran murid-muridnya. Jika guru malas membaca, maka murid akan lebih malas lagi. Kalau guru tak tahu pedagogi, lalu atas dasar apa ia menyusun pembelajaran yang efektif dan bermakna?

Baca Juga Berita :  [OPINI] Malu yang Salah Alamat

Sudah saatnya dunia pendidikan tidak hanya menguji kompetensi teknis calon guru, tapi juga menanamkan kesadaran intelektual dan tanggung jawab moral mereka. Guru harus haus akan ilmu, terbuka pada kritik, dan terus belajar. Tanpa itu, kita hanya akan melahirkan pendidik-pendidik yang kaku, pasif, dan bahkan membahayakan perkembangan intelektual generasi penerus bangsa.

Indonesia tidak akan pernah maju jika yang berdiri di depan kelas tidak punya wawasan yang luas. Sehebat apapun sistem pendidikan yang terbuat dari atas, jika guru yang “dungu” yang menerapkannya, maka hasilnya tetap akan menyedihkan. Maka, memahami pedagogi bukanlah pilihan, tapi kewajiban dasar bagi siapa pun yang ingin menyebut dirinya “guru”.(*)

*Penulis: Baldhan Ma’ruf

Berita Terkait

Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
[OPINI] Perempuan dalam Cengkeraman Patriarki: Telaah Teologis Kritis atas Teks Alkitab
[OPINI] Pendidikan Layak: Hak Dasar yang Berubah Menjadi Barang yang Mewah
Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?
[OPINI] Ekoteologi Berkemajuan: Membumikan Ajaran Islam dan Kearifan Lokal Makassar untuk Kelestarian Alam
[OPINI] Menelanjangi Egoisentrisme Negara dalam Labirin Pendidikan Nasional
[OPINI] Pendidikan yang Kehilangan Makna di Balik Selembar Ijazah

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 16:08 WITA

Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan

Rabu, 1 April 2026 - 20:04 WITA

[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras

Kamis, 26 Februari 2026 - 05:59 WITA

[OPINI] Perempuan dalam Cengkeraman Patriarki: Telaah Teologis Kritis atas Teks Alkitab

Senin, 23 Februari 2026 - 01:07 WITA

[OPINI] Pendidikan Layak: Hak Dasar yang Berubah Menjadi Barang yang Mewah

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:38 WITA

Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?

Berita Terbaru

Potret Pengukuhan Perwakilan Mahasiswa Kewirausahaan Angkatan 2025 dalam Acara Inaugurasi Inoventra 25 (Foto : Putri Salsabila)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Inaugurasi Inoventra 25 Warnai Expresi 2026 dengan Semangat Budaya Lokal Sulawesi

Selasa, 14 Apr 2026 - 19:08 WITA

Foto Bersama Plt Rektor seusai Proses Pemilihan Dekan FIKK, (Foto: Desitha Cahya)

Fakultas Ilmu Keolahragaan & Kesehatan

Tahap Kedua Selesai, Andi Atssam Terpilih Jadi Dekan FIKK

Selasa, 14 Apr 2026 - 13:09 WITA

Potret Hasil Pemilihan Dekan FIKK, (Foto: Desitha Cahya)

Fakultas Ilmu Keolahragaan & Kesehatan

Terpilih sebagai Dekan FIKK, Andi Atssam Mappanyukki Ingin Hilangkan Pungutan Tak Sesuai SOP

Selasa, 14 Apr 2026 - 12:58 WITA