[OPINI]: Demokrasi dan Jurus Lupa Ingatan

Avatar photo

- Redaksi

Kamis, 6 Juli 2017 - 22:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Andul Salman Sulaiman, Presiden Mahasiswa FIP UNM periode 2014/2015. (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Sadar tak sadar, ingat tak ingat, dan benar-benar lupa, kalau kata demokrasi yang sering diungkapkan dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat benar adanya. Buktinya ada saat pemililihan legislatif, Bupati, Gubernur dan Presiden. Tak lupa juga pemilihan kepala desa, Ketua BEM, Ketua Himpunan Mahasiswa serta yang sama makna dengannya.

Begitu nyata demokrasi itu wujud di tengah-tengah rakyat Indonesia. Tak hanya itu. Demokrasi a la borjuasi ini setelah berhasil dilaksanakan seperti makna demokrasi seutuhnya, pasca pemilu maka otomatis kata demokrasi tadi diubah pula maknanya. Saya memilih dua kata demokrasi dan amnesia, atau bisa disingkat “demokramnesia” – demokrasi lupa ingatan.

“Demokramnesia” Menarik bukan? Istilah ini spontan muncul diakal saya saat berusaha menulis kalimat pelengkap pada paragraf penutup kedua.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kembali ke poin pembahasan bahwa, demokrasi yang telah dilaksanakan saat pemililihan raya tadi hanya berlaku saat memberikan suara saja. Percaya atau tidak? Coba saja ingat kembali. Bagi yang setia dengan bilik suara pasti bisa rasakan dengan baik penghianatan demokrasi yang berubah wujud tadi.

Baca Juga Berita :  Penganiyaan Guru, Profesor FIP Sarankan Sistem Pendidikan Terpadu

Lebih parah lagi, penguasa yang terpilih berkat demokrasi tadi, lebih suka amnesia. Lupa terhadap janji, lupa terhadap program prioritas yang gencar disebarkan luaskan saat kampanye. Lupa merupakan sifat dasar manusia. Saya maklum. Kurang tau bagaimana pendapat pembaca sekalian tentang memaknai kata lupa.

Jurus lupa ingatan penguasa semakin terang benderang digunakannya saat menaikkan tarif dasar listrik 200% menjelang akhir juli ini. Mereka lupa kalau mayoritas rakyatnya bukanlah orang yang memiliki kekayaan mentereng serta tidur menggunakan “bantal rupiah” melainkan batu-bata merah hasil keringatnya yang belum laku terjual.

Naikknya biaya kuliah di perguruan tinggi negeri dan swasta tak terkendali dalam lima tahun terakhir, namun tidak dibuka lapangan pekerjaan yang layak untuk menjamin masa depan yang sejahtera. Bukankah ini praktek demokramnesia.

Tidak adanya kontrol atas harga barang di pasaran adalah bentuk lupa ingatan penguasa. Bagaimana tidak, saat keperluan dapur sangat dibutuhkan khususnya bulan ramadhan dan lebaran kemarin harga sembako melonjak naik. Apakah penguasa lupa sidak karena berpuasa saat ramadhan, atau sedang istirahat efek pusing karena kolesterol sedang naik pasca lebaran idul fitri.

Baca Juga Berita :  Tingkatkan Pelayanan Mahasiswa Difabel, Dekan FIP UNM Pasang Guiding Block

Upah layak yang diperjuangakan oleh buruh, pekerja, pekerja profesional dan lain sebagainya sering dilupakan. Walau puluhan ribu buruh melakukan aksi untuk menuntut upah layak untuk kesejahteraan hidupnya serta kebebasan berserikat, penguasa gampang lupa ingatan atas tuntutan buruh tininmbang kesepakatan penguasa dengan pengusaha yang merampas nilai lebih dari buruh.

Demokrasinya borjuis otomatis pula untuk para borjuis. Jadi masih berharap dengan demokrasinya para penguasa tersebut?  Saya Cuma bertanya, ini bukan provokasi.

Selain jurus mabuk, saya amati penguasa saat ini lebih suka menggunakan jurus lupa ingatan. Karena lupa bisa juga diartikan khilaf dan manusia tempatnya salah dan lupa. Percaya atau tidak, demikianlah pengalaman saya pribadi. Jika ada kesamaan cerita, alhamdulillah. Jika tidak ada, istighfar sebanyak-banyaknya karena mungki anda mengalami “demokramnesia”. (*)


*Penulis adalah Abdul Salman Sulaiman, Presiden Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan periode 2014/2015.

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
Lulusan Cumlaude FIP UNM Periode Juni Bebas Tes Masuk Pascasarjana
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
Program Pengabdian Pengembangan Karakter Dosen FIP di Malaysia
Tingkatkan Career Awareness Dosen FIP Gelar PKM Internasional
Dosen BK FIP Hadirkan Program Psikoedukasi Career Hope Anak Migran Indonesia di Malaysia
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:35 WITA

Lulusan Cumlaude FIP UNM Periode Juni Bebas Tes Masuk Pascasarjana

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 22:17 WITA

Program Pengabdian Pengembangan Karakter Dosen FIP di Malaysia

Berita Terbaru

Poster rekrutmen anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kema F.Psi UNM, (Foto: Int.)

Fakultas Psikologi

Maperwa Psikologi Buka Rekrutmen Anggota KPU

Kamis, 25 Jun 2026 - 23:47 WITA

Potret Zoom Technical Meeting Duta Kampus FIKK UNM 2026, (Foto: Putri Salsabila)

Fakultas Ilmu Keolahragaan & Kesehatan

FIKK Gelar Technical Meeting Duta Kampus 2026

Kamis, 25 Jun 2026 - 23:43 WITA

Potret Plt Rektor, Farida Patinggi saat Sambutan pada Upacara Dies Natalis ke-65 UNM, (Foto: Putri Salsabila)

Dies Natalies

Plt Rektor Buka Dies Natalis UNM ke-65

Kamis, 25 Jun 2026 - 23:36 WITA