[OPINI]: Parcel dan Amplop Sarjana

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 10 Juni 2017 - 10:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ismail Syam, Mahasiswa Pendidikan Antropologi FIS UNM – (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Tak lengkap rasanya ketika mahasiswa yang akan melaksanakan ujian akhir tidak menyiapkan parcel dan amplop. Menyiapkan parcel yang berisikan berbagai macam makanan dan minuman. Mulai dari buah-buahan dan nasi wongsolo sampai minuman botol.

Belum lagi, amplop yang berisikan uang ratusan ribu untuk diberikan kepada dosen penguji sebagai dana transportasi.
Pengetahuan dan pemahaman mengenai isi dari skripsimu seolah tak penting. Yang terpenting adalah seberapa banyak makanan dalam parselmu. Serta, seberapa banyak uang yang ada dalam amplopmu.
***
Budaya parcel dan amplop sudah menjadi tradisi –di beberapa fakultas– dalam kampus negeri, utamanya kampus oranges. Bahkan, kerap pihak dosen memberikan patokan nominal bagi mahasiswa yang akan melaksanakan ujian akhir. Parcel dan amplop seolah menjadi hal wajib yang harus dipersiapkan oleh mahasiswa. Banyak waktu terbuang untuk mempersiapkan hal-hal non teknis seperti sajian makanan yang harus dipersembahkan pada saat ujian.

Coba kita hitung biaya kasar yang dikeluarkan oleh mahasiswa, mulai seminar proposal sampai ujian akhir. Seminar Proposal Rp. 600.000 (amplop dosen Rp. 400.000 masing-masing Rp. 100.000 untuk setiap penguji dan pembimbing + komsumsi Rp. 200.000), sedangkan Ujian Hasil Rp. 600.000 (amplop dosen Rp. 400.000 masing-masing Rp. 100.000 untuk setiap penguji dan pembimbing + komsumsi Rp. 200.000) dan Ujian Akhir Rp. 800.000 (amplop dosen Rp. 600.000 masing-masing Rp. 150.000 untuk setiap penguji dan pembimbing + komsumsi Rp. 200.000).

Selain itu, dalam ujian akhir, mahasiswa juga dibebankan untuk membawa parsel sesuai dengan kebutuhan finansial masing-masing. Namun tetap menjadi salah satu penolong/penunjang mahasiswa dalam melaksanakan ujian akhir.

Misalnya parsel teman saya yang berisikan 2 bungkus kopi toraja, 1 kotak teh sariwangi, 1 biskuit kaleng tango, 1 biskuit kaleng Khong Guan, 2 keripik kentang, 1 kacang disko, 1 botol cocacola, 2 bungkus permen dengan total biaya Rp. 295.000 (masing-masing diberikan kepada setiap dosen penguji dan pembimbing serta sekertaris ujian dengan total Rp. 295.000 X 5 = Rp. 1.475.000). Total yang di keluarkan oleh mahasiswa mulai dari seminar proposal sampai ujian akhir yaitu Rp. 600.000 + Rp. 600.000 + Rp. 1.475.000 = Rp. 2.675.000.

Tradisi turun temurun yang diterapkan –di kampus negeri– ini merupakan hal yang dapat membebankan mahasiswa. Bagi mahasiswa kalangan ekonomi atas mungkin tidak terlalu merasakan dampaknya, namun berbeda dengan mahasiswa yang memiliki ekonomi rendah. Tradisi ini pastinya menjadi momok yang menakutkan.

Belum lagi, kerap adanya perbedaan perlakuan saat melakukan ujian antara mahasiswa yang membawa parsel dan memberi uang amplop dengan yang tidak. Mahasiswa yang membawa parcel dan memberi uang amplop hanya mendapatkan pertanyaan konyol. Pertanyaan dosen penguji kerap berubah menjadi “kenapa asam rasanya apelmu ?”. Sedangkan bagi mahasiswa yang tidak, harus siap mental untuk mendapatkan pertanyaan maut penguji. Bahkan, kerap mereka di persulit dalam proses penyelesaian studinya.

Baca Juga Berita :  Telat Bayar UKT, Mahasiswa Pasrah Bayar Denda

Apabila hal tersebut masih tetap dibiarkan, tunggu saja akan terjadi revolusi bersar-besaran dalam universitas. Kualitas seorang sarjana tidak lagi ditentukan dari seberapa banyak buku yang dibaca, sedalam apa ia berpikir, dan apa saja yang telah ia hasilkan bagi umat manusia, melainkan seberapa mewah parsel dan setebal apa amplop yang diberikan. Atau boleh jadi, meraih gelar sarjana akan semudah membeli parsel di toko-toko.

Pada akhirnya, pendidikan bukan lagi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan untuk memenuhi kebutuhan pengusaha. Ilmu pengetahuan dan institusi pendidikan tak lagi mengajarkan kita akan kebenaran yang sesungguhnya. Benar kata Nietzche -seorang filsuf nihilis- “bahwa kebenaran adalah hal yang menakutkan”.
Bravo !. (*)

*Penulis adalah Ismail Syam, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial

Berita Terkait

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi
[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
Mahasiswa Bahasa Jerman 2024 Jadi Mawapres Berkat Keluar dari Zona Nyaman
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:25 WITA

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WITA

[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi

Selasa, 28 April 2026 - 20:08 WITA

[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Berita Terbaru

Potret Tim MP Ekolibrium Feb UNM setelah Meraih Prestasi Pada Ajang LEC 2026,(Foto:Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

MP Ekolibrium FEB Raih Prestasi di Lombok Essay Competition 2026

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:02 WITA

Foto Bersama Mahasiswa dan Dosen Program Studi D4 Tata Boga FT UNM, (Foto: Ratna Wulandari)

Fakultas Teknik

Cipta Karya Boga Hadirkan Kolaborasi Mahasiswa, Industri, dan Sekolah

Selasa, 12 Mei 2026 - 18:40 WITA

Sesi foto bersama dalam agenda pelatihan penulisan berita dan persuratan, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

FT Gelar Pelatihan Persuratan, Dekan Singgung Target PPK Ormawa Nasional

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:50 WITA