PROFESI-UNM.COM – Keberadaan media cetak maupun portal berita yang dikelola oleh mahasiswa hari ini bukan sekadar wadah penyaluran bakat menulis. Di balik lembaran buletin atau artikel digital yang terbit, terdapat rekam jejak panjang pers mahasiswa sebagai pilar pengawas jalannya kebijakan di lingkungan akademis.
Akar pergerakan pers kampus di Indonesia telah tumbuh sejak era kolonial melalui majalah-majalah yang organisasi pemuda terbitkan. Pada masa itu, media mahasiswa menjadi sarana krusial untuk menyebarkan gagasan kemerdekaan dan menyatukan visi perjuangan intelektual antar-daerah.
Pasca kemerdekaan hingga memasuki dekade 1970 an, peran media komunitas ini semakin krusial dalam menyuarakan kritik terhadap ketimpangan sosial. Akibatnya, pemerintah sempat memberlakukan pembatasan ketat terhadap ruang gerak publikasi kampus demi menjaga stabilitas politik nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun sering menghadapi ancaman pembredelan pada masa lalu, pers mahasiswa tetap bertahan dengan memanfaatkan jejaring antarkampus secara sembunyi sembunyi.
Kegigihan tersebut berhasil menjaga marwah independensi informasi dan menjadikan media kampus sebagai salah satu motor penggerak reformasi.
Memasuki era digital modern, tantangan pers mahasiswa telah bergeser pada kecepatan arus informasi dan tuntutan adaptasi teknologi multipromosi.
Kendati format media berubah menjadi serbadigital, idealisme untuk tetap menyuarakan kebenaran dan menjadi penyambung lidah civitas akademika tetap tidak boleh luntur (*).
*Reporter: Muhammad Syarief







