PROFESI-UNM.COM — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM), Nurfadillah meraih Juara II dalam Lomba Opini yang diselenggarakan LPM Profesi UNM, Senin (22/06).
Prestasi tersebut diraih melalui karya video opini bertajuk “Ai: Just Friend: Bukan Pengganti” yang mengangkat isu penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di kalangan mahasiswa.
Perempuan yang akrab disapa Ila itu mengaku tidak menyangka dapat menempati posisi kedua dalam kompetisi tersebut. Awalnya, ia mengikuti lomba karena ketertarikannya pada dunia editing video sekaligus ingin memperoleh pengalaman baru melalui ajang yang diselenggarakan LPM Profesi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya cukup kaget karena awalnya ikut karena memang suka mengedit dan mengejar sertifikat, tetapi tidak berekspektasi sampai juara,” ungkap Ila.
Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ila. Menurutnya, pencapaian tersebut bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, beropini, dan keterampilan dalam proses produksi video.
“Jadi, perasaan saat melihat pengumuman campur aduk dan senang bisa berada di posisi kedua dari banyaknya mahasiswa yang ikut serta,” ungkapnya.
Mahasiswa PBSI Raih Juara 2 Lomba Opini
Dalam proses penggarapan karya, Ila membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk tahap produksi dan penyuntingan. Namun, ia menjelaskan bahwa proses kreatif sebenarnya berlangsung lebih lama karena konsep video telah disusun jauh sebelum pengambilan gambar dilakukan.
“Saya sudah membuat konsep dari jauh-jauh hari dan sempat mengubahnya beberapa kali. Dua hari untuk pengambilan video dan satu hari penuh untuk proses editing,” jelasnya.
Pemilihan tema ini berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai pengguna teknologi tersebut. Ila menilai bahwa AI telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa, baik sebagai alat bantu belajar maupun sarana mencari referensi. Namun, ia menekankan bahwa penggunaan AI harus tetap kesadaran kritis agar tidak menggantikan kemampuan berpikir manusia.
“Saya memilih tema ‘Ai:Just Friend: Bukan Pengganti’ karena melihat dari kebiasaan saya sendiri yang memang sudah berteman dengan AI. AI bisa membantu mencari referensi dan sumber yang relevan, tetapi tetap hanya alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis mahasiswa,” tuturnya.
Melalui karya yang ia buat, Ila berupaya mengajak mahasiswa untuk memahami batasan penggunaan AI di lingkungan akademik. Menurutnya, kemudahan yang teknologi tawarkan tidak boleh membuat mahasiswa bergantung sepenuhnya tanpa melakukan proses analisis dan pembelajaran secara mandiri. (*)
*Reporter: M. Zaky Asryan. A







