PROFESI-UNM.COM – Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar kembali menggelar Fisika Open 2025, sebuah agenda besar yang menampilkan potensi laboratorium, fasilitas riset, dan pengembangan kurikulum untuk menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0., di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, pada Sabtu (22/11)
Kegiatan yang dirancang sejak Maret 2025 ini dipimpin oleh Subaer, dosen Fisika sekaligus Kaprodi S2 Fisika dan Pendidikan Fisika. Ia juga bertanggung jawab atas laboratorium mikrostruktur yang menampung berbagai fasilitas penelitian modern, seperti mikroskop elektron senilai Rp5,2 miliar, Praxisunarex bernilai hingga Rp3 miliar, dan beragam instrumen lain yang digunakan oleh peneliti dari seluruh Indonesia.
“Saya diamanahi sebagai Ketua Panitia sejak perancangan di bulan Maret. Ini adalah ketiga kalinya saya memimpin kegiatan seperti ini, dua kali Fisika Open dan satu kali MIPA Open,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Subaer menegaskan bahwa Fisika Open 2025 memiliki dua tujuan utama. Pertama, memperkenalkan seluruh potensi jurusan Fisika kepada masyarakat, khususnya siswa dan guru di Sulawesi Selatan dan Barat.
“Siswa harus menyadari bahwa teknologi yang mereka pakai sehari-hari seperti HP, komputer, internet, AI, semuanya berbasis fisika. Ini yang sering tidak dijelaskan guru, sehingga fisika dianggap hanya rumus,” jelasnya.
Kedua, kegiatan ini dirancang sebagai upaya nasional untuk mengatasi menurunnya minat generasi muda Indonesia terhadap ilmu dasar seperti fisika, kimia, biologi, dan matematika.
Untuk itu, Fisika Open menghadirkan agenda Tudang Sepuluh, sebuah forum diskusi santai bersama guru, alumni, dosen, dan stakeholder pendidikan lainnya.
“Kalau kita masih mengajarkan fisika dengan cara tradisional, ya orang akan tetap menganggap fisika itu susah. Anak-anak maunya belajar dengan pendekatan yang baru, guru harus berubah,” tegasnya.
Subaer menaruh harapan besar terhadap kegiatan ini, terutama dalam peningkatan kompetensi 20 dosen baru di jurusan Fisika.
“Dosen-dosen muda perlu belajar dari kegiatan ini agar dapat memberi pelayanan terbaik bagi mahasiswa. Cara mengajar fisika sekarang berbeda karena teknologi dan AI sudah berkembang,” jelasnya.
Merujuk pengalaman sebelumnya, Fisika Open diharapkan dapat digelar secara periodik.
“Kami berharap kegiatan ini bisa dilaksanakan minimal dua tahun sekali. Kalau setiap tahun, tentu memberatkan dosen karena banyak pekerjaan lain,” harapnya.







