PROFESI-UNM.COM – Di era digital yang serba terbuka ini, relasi sosial tidak lagi terbatas pada ruang nyata. Media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi. Namun di balik kemudahan tersebut tersembunyi ancaman yang kian nyata, yakni praktik grooming dalam bentuk sugar dating. Sugar dating adalah hubungan transaksional yang sering kali berkedok “kencan yang saling menguntungkan“ namun,sejatinya adalah salah satu bentuk grooming terselubung yang sangat berbahaya, terutama bagi remaja dan anak muda. National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC) mengemukakan bahwa grooming adalah suatu upaya seseorang dengan cara membangun sebuah hubungan yang melibatkan kepercayaan serta hubungan emosional dengan tujuan agar dapat memanipulasi, mengeksploitasi, maupun melecehkan korban.
Bagi remaja, sugar dating tampak menggoda. Narasi tersebar di media sosial menampilkan gaya hidup mewah, hadiah mahal, dan kebebasan finansial sebagai bentuk “self reward” atau “empowerment”. Namun, di balik citra glamor itu tersembunyi relasi kuasa yang timpang. Pemahaman tentang relasi kekuasaan sangat vital untuk mengenali bagaimana ketidakseimbangan dapat menciptakan kondisi rentan, terutama bagi kelompok yang lebih lemah. Relasi kekuasaan pada dasarnya menunjukkan hubungan yang timpang. Saat satu individu memiliki pengaruh, kekuasaan, atau kontrol lebih besar daripada yang lain. Aspek ini bisa terlihat dalam faktor usia, status sosial, pengalaman, atau kesempatan terhadap sumber daya. Dalam permasalahan grooming, relasi kekuasaan menjadi elemen utama yang memfasilitasi manipulasi dan eksploitasi kepada anak-anak. Pertama, relasi kekuasaan terlihat dari perbedaan usia dan pengalaman hidup antara pelaku dan korban, kedua, relasi kekuasaan juga berfungsi melalui ketergantungan emosional dan materi.
Dalam banyak situasi grooming juga dapat berupa bentuk penyalahgunaan relasi yaitu pelaku yang memiliki posisi otoritas memanipulasi individu yang rentan, pelaku memanfaatkan dominasi mereka untuk mengembangkan hubungan yang tampak penuh perhatian, kasih sayang, dan hadiah, sehingga mereka merasa istimewa. Ketiga, relasi kekuasaan juga muncul dalam bentuk kontrol simbolis. Pelaku grooming sering kali menggunakan bahasa persuasif, pujian, ancaman halus, atau janji untuk memengaruhi bagaimana anak menilai situasi yang ada. Hal inilah yang disebut grooming terselubung strategi halus untuk mendapatkan kepercayaan dan kemudian mengeksploitasi. Pada tahap awal, pelaku mungkin tampak sebagai sosok penyayang dan perhatian. Namun perlahan, control mulai muncul, ketika kepercayaan telah terbentuk sepenuhnya, remaja bisa terjerumus dalam situasi yang tidak lagi mereka kuasai, termasuk dalam hubungan seksual yang tidak sehat atau eksploitasi finansial. Oleh karena itu, sugar dating harus dilihat bukan kencan modern yang glamor, tetapi sebagai jebkan eksploitasi yang melumpuhkan potensi dan masa depan generasi muda
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai makhluk sosial, kita perlu lebih peka terhadap bentuk-bentuk grooming modern yang tidak selalu tampak kasar atau memaksa. Edukasi literasi digital, penguatan nilai moral, serta komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi benteng utama dalam melindungi remaja. Kebebasan bukan berarti kehilangan batas, dan kemodernan tidak seharusnya mengorbankan keselamatan serta martabat remaja.(*)
*Penulis: Siti Nurifkah







