[OPINI]Sugar dating sebagai grooming terselubung di era modern

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 3 Desember 2025 - 20:53 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Penulis, Siti Nurifkah (Foto: Ist.)

Potret Penulis, Siti Nurifkah (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Di era digital yang serba terbuka ini, relasi sosial tidak lagi terbatas pada ruang nyata. Media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi. Namun di balik kemudahan tersebut tersembunyi ancaman yang kian nyata, yakni praktik grooming dalam bentuk sugar dating. Sugar dating adalah hubungan transaksional yang sering kali berkedok “kencan yang saling menguntungkan“ namun,sejatinya adalah salah satu bentuk grooming terselubung yang sangat berbahaya, terutama bagi remaja dan anak muda.  National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC) mengemukakan bahwa grooming adalah suatu upaya seseorang dengan cara membangun sebuah hubungan yang melibatkan kepercayaan serta hubungan emosional dengan tujuan agar dapat memanipulasi, mengeksploitasi, maupun melecehkan korban.

Bagi remaja, sugar dating tampak menggoda. Narasi  tersebar di media sosial menampilkan gaya hidup mewah, hadiah mahal, dan kebebasan finansial sebagai bentuk “self reward” atau “empowerment”. Namun, di balik citra glamor itu tersembunyi relasi kuasa yang timpang. Pemahaman tentang relasi kekuasaan sangat vital untuk mengenali bagaimana ketidakseimbangan dapat menciptakan kondisi rentan, terutama bagi kelompok yang lebih lemah. Relasi kekuasaan pada dasarnya menunjukkan hubungan yang timpang. Saat satu individu memiliki pengaruh, kekuasaan, atau kontrol lebih besar daripada yang lain. Aspek ini bisa terlihat dalam faktor usia, status sosial, pengalaman, atau kesempatan terhadap sumber daya. Dalam permasalahan grooming, relasi kekuasaan menjadi elemen utama yang memfasilitasi manipulasi dan eksploitasi kepada anak-anak. Pertama, relasi kekuasaan terlihat dari perbedaan usia dan pengalaman hidup antara pelaku dan korban, kedua, relasi kekuasaan juga berfungsi melalui ketergantungan emosional dan materi.

Baca Juga Berita :  UNM Diserang, Wagub: Ada Penyusup

Dalam banyak situasi grooming juga dapat berupa bentuk penyalahgunaan relasi yaitu pelaku yang memiliki posisi otoritas memanipulasi individu yang rentan, pelaku memanfaatkan dominasi mereka untuk mengembangkan hubungan yang tampak penuh perhatian, kasih sayang, dan hadiah, sehingga mereka merasa  istimewa. Ketiga, relasi kekuasaan juga muncul dalam bentuk kontrol simbolis. Pelaku grooming sering kali menggunakan bahasa persuasif, pujian, ancaman halus, atau janji untuk memengaruhi bagaimana anak menilai situasi yang ada. Hal inilah yang disebut grooming terselubung strategi halus untuk mendapatkan kepercayaan dan kemudian mengeksploitasi. Pada tahap awal, pelaku mungkin tampak sebagai sosok penyayang dan perhatian. Namun perlahan, control mulai muncul, ketika kepercayaan telah terbentuk sepenuhnya, remaja bisa terjerumus dalam situasi yang tidak lagi mereka kuasai, termasuk dalam hubungan seksual yang tidak sehat atau eksploitasi finansial. Oleh karena itu, sugar dating harus dilihat bukan kencan modern yang glamor, tetapi sebagai jebkan eksploitasi yang melumpuhkan potensi dan masa depan generasi muda

Sebagai makhluk sosial, kita perlu lebih peka terhadap bentuk-bentuk grooming modern yang tidak selalu tampak kasar atau memaksa. Edukasi literasi digital, penguatan nilai moral, serta komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi benteng utama dalam melindungi remaja. Kebebasan bukan berarti kehilangan batas, dan kemodernan tidak seharusnya mengorbankan keselamatan serta martabat remaja.(*)

*Penulis: Siti Nurifkah

Berita Terkait

FABU Buka Pendataan Status Monev Alumni
Aliansi Mahasiswa Soroti Program MBG, Nilai Kebijakan Belum Menjawab Kebutuhan
Lewat Pena, MP Ekolibrium Dorong Lahirnya Peneliti Muda yang Kritis dan Berdampak
Mahasiswa BK Gagas Twin Classroom Passport dalam Ajang Indonesia-Singapore Essay Competititon 2026
Wisuda Periode Juni 2026, Plt Rektor Ajak Lulusan Jadi Pembelajar Sejati
Mengenal Dunia Perkuliahan bagi Mahasiswa Baru 2026
Kolaborasi Strategis UNM dan BRIN untuk Kemajuan Riset Indonesia 2045
Euforia Piala Dunia Waktu Untuk Mahasiswa lepas Penat
Berita ini 93 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 22:18 WITA

FABU Buka Pendataan Status Monev Alumni

Selasa, 23 Juni 2026 - 10:15 WITA

Aliansi Mahasiswa Soroti Program MBG, Nilai Kebijakan Belum Menjawab Kebutuhan

Senin, 22 Juni 2026 - 23:22 WITA

Lewat Pena, MP Ekolibrium Dorong Lahirnya Peneliti Muda yang Kritis dan Berdampak

Minggu, 21 Juni 2026 - 23:27 WITA

Mahasiswa BK Gagas Twin Classroom Passport dalam Ajang Indonesia-Singapore Essay Competititon 2026

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:50 WITA

Wisuda Periode Juni 2026, Plt Rektor Ajak Lulusan Jadi Pembelajar Sejati

Berita Terbaru

Ilustrasi Mahasiswa yang sedang sosialisasi dengan warga, (Foto: AI.)

wiki

Hal yang Sering Menjadi Kendala Mahasiswa Saat KKN

Jumat, 3 Jul 2026 - 23:39 WITA

Ilustrasi seseorang yang sedang flu akibat cuaca perubahan cuaca, (Foto: AI.)

wiki

Perubahan Suhu Udara Tingkatkan Risiko Flu

Jumat, 3 Jul 2026 - 23:28 WITA