[OPINI] The Happiness of Feeling Enough dari Kacamata Teori Psikologi Adler

Avatar photo

- Redaksi

Senin, 6 Februari 2023 - 22:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROFESI-UNM.COM – Penghujung tahun selalu menjadi ajang refleksi bagi tiap individu. Menilik ke belakang sudah seberapa jauh langkah yang dilalui. Perlu sebuah apresiasi untuk segala langkah selama hampir satu kali waktu revolusi bumi. Bukan merasa puas dengan segala pencapaian akan tetapi belajar menyesuaikan diri kembali dengan segala kesempatan-kesempatan yang hadir di masa mendatang.

Merefleksikan parameter dari segala tujuan yang direncanakan dengan sebuah dikotomi kendali. Dalam stoisisme sendiri dikontomi kendali ialah sebuah pemahaman bagaimana manusia dalam kehidupan harus bisa membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan.

Dari sisi teori psikologi Adler yang bertujuan mengubah diri sendiri, bukan mengubah orang lain, dibanding menunggu orang lain untuk berubah atau menunggu situasi berubah, kitalah yang harus mengambil langkah perubahan untuk maju. Dalam pandangan Adler sendiri, hanya ketika seseorang mampu merasakan bahwa dirinya berhargalah dia bisa memiliki keberanian.

Adler sampai memperingatkan bahwa mereka yang mengorbankan hidup bagi orang lain adalah orang-orang yang terlalu jauh menyelaraskan diri dengan masyarakat dan manusia sungguh-sungguh menyadari nilai dirinya hanya ketika meraskan bahwa eksistensi dan perilakunya bermanfaat bagi komunitasnya. Adler juga berkata bahwa kehidupan harus ditetapkan oleh individu itu sendiri. Jadi, hidup pada umumnya tidak memiliki makna apapun akan tetapi manusia bisa menetapkan makna pada kehidupan tersebut dan hanya manusialah yang bisa menetapkan makna bagi hidupnya sendiri.

Lantas dari sini apa hubungan dari The Happiness of Feeling Enough dengan teori psikologi Adler? Sebagai manusia perlu hadir sebuah perasaan merasa cukup untuk diri sendiri sehingga ketika melihat orang-orang disekitarnya, tidak lagi muncul sebuah perasaan iri atau merasa kurang. Sehingga bisa lebih proporsional dalam melihat berbagai hal terutama menciptakan rasa bahagia untuk diri sendiri yang tidak dipengaruhi oleh hal-hal diluar individu manusia itu sendiri.

Baca Juga Berita :  Wisuda UNM Siap Digelar Februari Mendatang

Ketika perasaan cukup hadir tentu akan membuat diri seorang individu memiliki fokus yang besar kepada dirinya beserta tujuan yang telah ditetapkan. Maka dari itu perlu sebuah konsep jadilah mudah untuk apapun yang sedang dilakukan atau akan dijalani, mudah menerima dan merasa cukup sehingga tidak perlu “neko-neko” dalam menjalani hidup. Sebab kebahagiaan seorang individu bukan tanggung jawab persona disekitarnya melainkan dirinya sendiri.

Untuk itu dapat disimpulkan bahwa perasaan cukup merupakan salah satu indeks paling penting untuk menghadirkan kebahagiaan seorang individu sebab hidup adalah serangkaian serangkaian momen. bukan hidup kemarin atau esok yang memutuskan tapi kehidupan saat ini. Semoga refleksi akhir tahun bisa menghadirkan individu-individu yang lebih baik dari sebelumnya. Salam, Veni Vidi Vici!!!

*Nur Qamariah, Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar

*Tulisan ini telah terbit di tabloid edisi 262

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
Berita ini 109 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Berita Terbaru

Foto kegiatan LPM Penalaran UNM Pada Kegiatan Pelatihan Metodologi Penelitian (PMP) XXIX, (Foto: Ist.)

KILAS LK

Asah Kemampuan Riset, LPM Penalaran Gelar PMP XXIX

Senin, 22 Jun 2026 - 18:18 WITA

Potret Nurfadillah Pemenang Juara 2 Lomba Video Opini LPM Profesi, (Foto: Ist.)

Kilas Kampus

Raih Juara 2 Lomba Opini, Angkat Tema Pemanfaatan AI secara Bijak

Senin, 22 Jun 2026 - 17:54 WITA