[Opini] Melawan Candu Dengan Perisai Iman

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 18 Mei 2019 - 14:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROFESI-UNM.COM – Telepon genggam (ponsel) adalah alat komunikasi modern yang bermanfaat bagi umat manusia. Tidak hanya sebatas untuk komunikasi tapi ponsel juga dikemas dengan fitur-fitur aplikasi yang sangat menarik. Tak heran jika banyak khalayak ramai yang rela merogoh kocek berjuta-juta untuk memenuhi keinginannya dalam hal kepemilikan ponsel canggih. Berdasarkan data dari Databoks pada tahun 2017, Di Indonesia pengguna ponsel mencapai 371,4 juta pengguna atau 142 persen dari total populasi 262 juta jiwa. Artinya, rata-rata setiap penduduk memakai ponsel dalam kesehariannya baik itu saat senggang atau pun sibuk, jumlah pengguna pun akan terus meningkat karena mengakarnya kepemilikan ponsel pintar di Indonesia.

Kemajuan teknologi membuat masyarakat terpaku dalam ruang lingkup digital world. Kebutuhan pangan, sandang dan papan sudah tersedia dalam sekali klik melalui ponsel. Namun sayang, kecanggihan itu menelan mentah-mentah dunia si pengguna. Mungkin lebih jelas jika kita mengatakan ponsel adalah sahabat terdekat bagi semua pengguna, dimana ponsel memberikan kesenangan pada hidup yang sepi dan memberikan kebahagiaan pada jiwa yang mati sosial.

Menurut Sandjaja (2002 : 1-23), dalam teori-teori behavioral dan cognitif  yang berkembang dari psikologi dan ilmu-ilmu pengetahuan pada diri manusia secara individual. Dimana pada teori menguraikan tentang cara-cara bagaimana variabel-variabel proses kognitif dan informasi menyebabkan atau menghasilkan tingkah laku tertentu. Seorang yang telah mengalami kecanduan ponsel pastilah akan berpengaruh pada dirinya seperti, mulai kurang bergaul dengan teman-temannya karena sibuk dengan teman hayalannya di dalam ponsel, bahkan tingkah laku yang biasanya ceria dan periang bisa berubah dalam seketika jika seseorang mengganggu dunia hayalannya. Oleh karena itu, variabel-variabel penentu yang memegang peranan penting terhadap perilaku atau bahasa biasanya di luar kontrol dan kesadaran orang tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ponsel dengan tingkat kecanggihan diatas rata-rata memanjakan pengguna dan memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kelangsungn hidup. Tanpa sadar para pengguna ponsel mulai kecanduan dan mungkin tanpa sadar kita telah terseret dalam arus yang sama. Mereka pasti sering merasa kesepian dan cemas jika tak membawa atau memiliki ponsel, ditambah ketika kejadian tragis menimpa mereka saat melupakan ponsel padahal mereka sangat membutuhkannya hanya untuk sebatas upload selfie di tempat yang memiliki view setingkat 1 juta like.

Istilah yang pas untuk mereka yang memiliki tingkat kecemasan yang tinggi jika tidak menggunakan ponsel atau bahkan hanya mengaksesnya disebut Nomofobia. Ponsel adalah candu bagi penggunannya, banyak yang mengatakan bahwa ponsel sangat berguna tapi perlu di ketahui bahwa Kebergunaan ponsel ini juga punya batasannya.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Ganti Skema Tes Masuk Perguruan Tinggi Bukan Solusi

Ponsel  memang memudahkan manusia untuk berkomunikasi baik itu jarak jauh ataupun dekat, namun jika dilihat dari kacamata sosial pengguna tersebut lebih nyaman tidak berkomunikasi secara langsung karena ponsel telah mewakilinya. Bukankah itu sama saja telah menghapuskan tali silaturahmi. Bukan itu saja, kerap muncul kata “Silaturahmi Online” yang menegaskan bawah si pengguna sama sekali tidak memutus Silaturahmi, toh juga bisa silaturahmi lewat ponsel.

Sekali pakai langsung ketagihan, mungkin itu kiasan yang cocok untuk para pengguna ponsel saat ini, Penggunaan ponsel yang membuat para orang tua cemas dengan anak-anakanya, bahkan anak-anak saja bisa merasa cemas dengan orang tuanya dikarenakan waktu yang mereka gunakan terbuang sia-sia hanya untuk menatap layar ponsel.

Walaupun, banyak diantara pengguna ponsel yang merasa bahwa waktu dan energinya tak terbuang sia-sia, nyatanya banyak mengalami masalah diantaranya gangguan pada mata yang terus menerus menatap layar ponsel, kurangnya waktu tidur atau pola tidur yang berubah karena terus terjaga demi memainkan ponsel. Menggunakan ponsel saat berkendara yang mampu menimbulkan resiko cedera atau kecelakaan bahkan nyawa pun bisa melayang begitu saja, dan timbulnya iri dengki dalam dunia media sosial saat melihat orang lain lebih dari pada dirinya.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Teknologi adalah Sumber Dilema “The Social Dilemma”

Nyatanya tak ada yang mampu menyandang gelar sebagai pecandu ponsel di dalam lingkungannya, entah karena mereka belum sepenuhnya dikuasai oleh ponsel atau mereka bukan lagi pecandu biasa. Pada titik hitam dan kelam membuat para pecandu atau pun bukan sekalipun, menjunjung tinggi kebanggaan dirinya ketika lebih memilki ponsel yang berada di tingkat atas. Sehingga, kebanggan yang begitu diimpikannya bisa memutus satu persatu urat malu mereka, seakan harga diri senilai dengan merk atau seberapa mahal ponsel anda.

Saran saya, untuk mengukir masa depan yang lebih memahami arti kehidupan yang sebenarnya yaitu memperbaiki beberapa aturan dalam sistema ponsels esuai dengan tingkat usia seseorang. Mungkin lebih tepatnya, menciptakan ponsel sesuai usia penggunanya dan yang pasti fitur-fitur dan akses internetnya pun harus dibatasi bagi usia dibawah 15 tahun.

Ponsel memanglah sangat membantu kelangsungan hidup kita, memberikan perasaan atau arti sebuah makna hidup tentang memiliki sebuah alat yang bisa menghancurkan harga diri kita dalam sekali klik. Canggih atau tidaknya ponsel bukanlah tolak ukur untuk masuk ke dalam surga. Tapi, seseorang yang berbuat kebaikan dengan ponselnya bisa mendapat pahala yang mampu meberatkan timbangan amalnya in syaa Allah.

Berikut cara yang bisa kita lakukan mengatasi kecanduan dalam menggunakan ponsel yaitu dengan memahami mudharat atau kerugian apa saja saat kita terus menerus menggunakan ponsel tanpa dibentengi oleh iman yang kuat. Menjaga diri saat menggunakan ponsel dengan membatasi untuk tidak terlena begitu saja pada hal yang duniawi atau bisa memberikan maslahat dalam kehidupan kelak di akhirat. Kehidupan ada di tangan Sang pencipta, pergunakanlah waktumu dengan bijak karena sebagaimana engkau menjalani hidupmu demikianlah kondisimu tatkala ajal menjemputmu.

*Penulis adalah Fahira Anggraeni, mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM) angkatan 2017.

Berita Terkait

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi
[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
Berita ini 13 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:25 WITA

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WITA

[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi

Selasa, 28 April 2026 - 20:08 WITA

[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Berita Terbaru

Potret Tim MP Ekolibrium Feb UNM setelah Meraih Prestasi Pada Ajang LEC 2026,(Foto:Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

MP Ekolibrium FEB Raih Prestasi di Lombok Essay Competition 2026

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:02 WITA

Foto Bersama Mahasiswa dan Dosen Program Studi D4 Tata Boga FT UNM, (Foto: Ratna Wulandari)

Fakultas Teknik

Cipta Karya Boga Hadirkan Kolaborasi Mahasiswa, Industri, dan Sekolah

Selasa, 12 Mei 2026 - 18:40 WITA

Sesi foto bersama dalam agenda pelatihan penulisan berita dan persuratan, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

FT Gelar Pelatihan Persuratan, Dekan Singgung Target PPK Ormawa Nasional

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:50 WITA