[OPINI] Lapar di Bangku Kuliah: Urgensi Program Makanan Bergizi bagi Mahasiswa

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 19 Desember 2025 - 19:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Dwi Aktifa Putri, (Foto : Ist.)

Potret Dwi Aktifa Putri, (Foto : Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Mahasiswa juga layak dan perlu mendapatkan program makanan bergizi (MBG). Selama ini, perhatian terhadap pemenuhan gizi lebih banyak difokuskan pada siswa sekolah, sementara mahasiswa kerap dianggap sudah mandiri dan mampu mengatur kebutuhan dasarnya sendiri. Padahal, realitas kehidupan mahasiswa menunjukkan sebaliknya. Beban akademik yang padat, tuntutan organisasi, pekerjaan paruh waktu, hingga tekanan deadline membuat banyak mahasiswa mengabaikan pola makan sehat. Tidak sedikit dari mereka yang menunda makan, mengganti makanan bergizi dengan makanan instan, atau bahkan lupa makan sama sekali.

Baca Juga Berita :  [OPINI]: Demokrasi Waras dalam Kampus

Kondisi tersebut tentu berdampak pada kesehatan fisik dan mental mahasiswa. Kekurangan asupan gizi dapat menurunkan konsentrasi, daya tahan tubuh, serta produktivitas belajar. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia yang sedang dipersiapkan melalui pendidikan tinggi. Mahasiswa yang seharusnya berada pada fase produktif justru berisiko mengalami kelelahan kronis dan stres berkepanjangan akibat pola hidup yang tidak seimbang.

Oleh karena itu, program makanan bergizi bagi mahasiswa menjadi relevan dan penting untuk dipertimbangkan. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai bentuk dukungan negara atau institusi pendidikan terhadap keberhasilan akademik mahasiswa. Dengan asupan gizi yang cukup, mahasiswa dapat belajar dengan lebih fokus, sehat, dan optimal. Pada akhirnya, investasi pada gizi mahasiswa merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas generasi penerus bangsa.

*Penulis : Dwi Aktifa Putri

Berita Terkait

Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?
[OPINI] Ekoteologi Berkemajuan: Membumikan Ajaran Islam dan Kearifan Lokal Makassar untuk Kelestarian Alam
[OPINI] Menelanjangi Egoisentrisme Negara dalam Labirin Pendidikan Nasional
[OPINI] Pendidikan yang Kehilangan Makna di Balik Selembar Ijazah
[OPINI] Pendidikan di Catatan Kaki, Kekuasaan di Halaman Utama, Akan Dibawa Kemana Arah Masa Depan Bangsa?
[OPINI] Darurat Kemanusiaan di Ruang Guru: Menggugat Eksploitasi Guru Honorer
[OPINI] Budaya Menjadi Pendidikan Pertama: Manifestasi Adab dalam Akar Tradisi Nusantara
[OPINI] Eskalator yang Macet: Menggugat Komersialisasi Pendidikan
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:38 WITA

Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?

Jumat, 13 Februari 2026 - 23:15 WITA

[OPINI] Ekoteologi Berkemajuan: Membumikan Ajaran Islam dan Kearifan Lokal Makassar untuk Kelestarian Alam

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:48 WITA

[OPINI] Menelanjangi Egoisentrisme Negara dalam Labirin Pendidikan Nasional

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:40 WITA

[OPINI] Pendidikan yang Kehilangan Makna di Balik Selembar Ijazah

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:32 WITA

[OPINI] Pendidikan di Catatan Kaki, Kekuasaan di Halaman Utama, Akan Dibawa Kemana Arah Masa Depan Bangsa?

Berita Terbaru

Potret Muhammad Amar Amri Asnur dalam sambutannya, (Foto: Ist.)

KILAS LK

Resmi Dilantik, HPMT Kom. UNM Masuki Babak Kepemimpinan Baru

Selasa, 17 Feb 2026 - 10:30 WITA

Potret Muh. Alif Nur Fauzan Formatur Ketua Umum MPA Trisula FIS-H UNM, (Foto: Ist.)

Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum

Ketua MPA Trisula FIS-H Usung Gerakan Berbasis Integritas dan Dampak Nyata

Senin, 16 Feb 2026 - 23:03 WITA

Potret mahasiswa yang mengikuti kegiatan sitasi 2026, (Foto: Ist.)

Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum

Sekolah Riset dan Advokasi 2026 Jadi Ruang Tumbuh Nalar Kritis Mahasiswa

Senin, 16 Feb 2026 - 21:47 WITA