Menyikapi Lorong Gelap Fanatisme Politik

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 19 April 2019 - 20:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROFESI-UNM.COM – Pesta demokrasi lima tahunan alias Pemilihan Umum (Pemilu) Calon Presiden (Capres) dan Wakil Presiden (Cawapres) 2019 telah berlangsung dua hari yang lalu, Rabu (17/4). Tak hanya memilih presiden, pemilu tahun ini pun dibuat lebih rumit dengan pemilihan anggota DPR RI, DPR Provinsi, DPR Kabupaten dan Kota, dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dilakukan serentak.

Euforia 192,8 juta jiwa pun turut mewarnai salah satu hajatan demokrasi terbesar dan terumit di dunia ini. Meski pemilihan itu sudah selesai diselenggarakan, namun hasil pemilu itu masih menuai perdebatan. Tudingan kecurangan dan ketidakpercayaan terhadap hasil hitung cepat oleh lembaga-lembaga survei semakin memanaskan konstelasi politik itu. Perdebatan memang lebih banyak mengenai siapa yang lebih pantas menduduki kursi Presiden dan Wakil Presiden RI dari dua pasangan calon

Ada beberapa lembaga survei yang mengeluarkan hasil hitung cepat dengan mengunggulkan pasangan Jokowi-Maruf, namun ada juga beberapa lembaga survei yang mengunggulkan pasangan Prabowo-Sandi dalam hitung cepat. Alhasil, kedua kubu merasa memenangkan pemilu untuk jabatan 2019-2024 itu. Bahkan salah satu kubu telah mendeklarasikan kemenangan hingga beberapa kali meski hasil resmi belum keluar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berbagai konflik pun muncul akibat fanatisme yang berlebihan. Perang argumen di berbagai platform media sosial bahkan semakin meruncing dan cenderung menghina satu sama lain. Pendukung kedua kubu saling mengeluarkan data dan bantahan, walaupun beberapa data tidak akurat dan bahkan cenderung hoaks.

Baca Juga Berita :  Sosialisasikan Pemilu 2019, UNM Adakan KKN Tematik

Tidak hanya di dunia maya, ‘perang’ ini juga terjadi sama sengitnya dalam ruang-ruang para parlente hingga warung-warung kopi di pelosok kampung. Bahkan, dalam sebuah keluarga perbedaan ini acapkali ditemukan, suami dan istri yang berbeda pilihan, orang tua dan anak dan juga perbedaan pilihan antar saudara.

Yah, mempersoalkan hasil pemilu pun merupakan hak setiap kontestan dan pendukungnya, paling tidak hingga KPU sebagai penyelenggara memutuskan hasil pemilu. Itupun jika pihak yang kalah tidak mengajukan keberatan melalui mekanisme hukum di Mahkamah Konstitusi.

Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Ari Nurcahyo, berpendapat maraknya perdebatan tidak sehat yang terjadi di masa-masa pemilu ini disebabkan oleh fanatisme politik yang berlebihan pada masing-masing pasangan calon. “Kita sedang berada dalam lorong gelap bernama fanatisme politik,” katanya.

Ia menjelaskan, fanatisme yang berlebihan memungkinkan seseorang akan memiliki ‘imajinasi nakal’ untuk berbuat sesuatu. Salah satu diantaranya adalah menciptakan hoaks. “Ini berbahaya, pilihan politik sifatnya didorong oleh emosional dan sensasional serta tidak rasional,” jelasnya seperti yang dikutip dalam laman okezone.com.

Fanatisme tersebut akan membuat sentimen para pendukung salah satu pasangan calon untuk anti terhadap lawannya. Akibatnya, muncul kecenderungan untuk menyerang satu sama lain. Padahal, mengawal dan mengawasi hasil pemilu agar terhindar dari praktik kecurangan adalah tanggung jawab bersama, agar hasil pemilu terasa adil bagi semua pihak.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Ketika DPR Lebih Takut pada Hukum daripada pada Rakyat

Memilih Jokowi atau Prabowo itu perkara bubur ayam diaduk atau tidak diaduk sebelum dimakan. Sederhana saja, itu urusan selera. Siapapun pemimpinnya nanti, ia adalah putra terbaik pilihan Indonesia. Sikap legowo menerima kekalahan dalam pemilu merupakan salah satu contoh budaya politik yang baik. Inilah pentingnya para konstestan yang kurang beruntung berjiwa besar dan mau mengakui kemenangan lawan.

Namun, Sebagai warga negara Indonesia yang baik, protes atau aspirasi tentang pemilu sebaiknya dilakukan lewat mekanisme demokrasi dan hukum yang berlaku. Sudah ada saluran resmi untuk melaporkan praktik kecurangan dalam pemilu, yaitu melalui Badan Pengawas Pemilu. Ada juga Mahkamah Konstitusi yang sudah berpengalaman dalam memutus sengketa pemilu.

Pada akhirnya, KPU pun menjadi wasit terakhir dalam menentukan pemimpin Indonesia lima tahun kedepan. Kita tidak ingin, perbedaan politik ini seperti bara dalam sekam. Proses demokrasi haruslah menjadi perhelatan yang penuh riang dan gembira, terutama bagi kita yang telah diberi kesempatan terlibat langsung dengan memiliki hak suara.

Proses penghitungan suara memang memakan waktu yang cukup panjang, setidaknya hingga 22 Mei mendatang. Kita perlu bersabar dan menghindari perdebatan yang bisa memicu konflik lebih parah sembari mengawasi kerja KPU agar ia menjadi juri yang jujur dan adil (*)

*Rara Astuti, Manajer Daring LPM Profesi UNM

Berita Terkait

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi
[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:25 WITA

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WITA

[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi

Selasa, 28 April 2026 - 20:08 WITA

[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Berita Terbaru

Potret Tim MP Ekolibrium Feb UNM setelah Meraih Prestasi Pada Ajang LEC 2026,(Foto:Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

MP Ekolibrium FEB Raih Prestasi di Lombok Essay Competition 2026

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:02 WITA

Foto Bersama Mahasiswa dan Dosen Program Studi D4 Tata Boga FT UNM, (Foto: Ratna Wulandari)

Fakultas Teknik

Cipta Karya Boga Hadirkan Kolaborasi Mahasiswa, Industri, dan Sekolah

Selasa, 12 Mei 2026 - 18:40 WITA

Sesi foto bersama dalam agenda pelatihan penulisan berita dan persuratan, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

FT Gelar Pelatihan Persuratan, Dekan Singgung Target PPK Ormawa Nasional

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:50 WITA