PROFESI-UNM.COM – Forum Indonesia Muda 2 (FIM2) menggelar lomba esai nasional pada 14 hingga 15 Februari 2026 di Universitas Janabadra, Yogyakarta, dengan tema Membangun Generasi Inovatif untuk Masa Depan Berkelanjutan. Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) Program Studi Ilmu Administrasi Negara angkatan 2025, A. Nurul Ainun Lutfiah, meraih Juara 2 serta Gold Medal dan Favorite Poster.
Kompetisi ini menghadirkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan persaingan yang ketat. Peserta menghadirkan gagasan kreatif berbasis data serta solusi yang memiliki nilai implementatif dan keberlanjutan program.
Ainun mengikuti kompetisi setelah menerima tawaran dosen pembimbing. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan kapasitas akademik dan pengalaman kompetitif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kesempatan ini saya anggap sebagai ruang belajar dan menguji gagasan yang kami susun,” ujarnya.
Ia bersama tim mengusung gagasan Kodinusa atau Kolaborasi Digital Nusantara. Gagasan ini menawarkan aplikasi digital terintegrasi yang mengenalkan budaya dan pariwisata dari 38 provinsi di Indonesia.
Menurutnya, ide tersebut lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya minat generasi muda pada budaya lokal.
“Kami melihat generasi muda lebih tertarik pada budaya luar, sehingga perlu pendekatan digital untuk mengenalkan budaya Nusantara,” jelasnya.
Riset Tiga Minggu dan Penyusunan Prototipe Sistematis
Tim menyusun esai selama tiga minggu melalui riset dan studi literatur. Mereka memperkuat argumentasi dengan data mengenai pengaruh globalisasi terhadap eksistensi budaya lokal.
Selain menyusun esai, tim merancang prototipe aplikasi secara sistematis. Mereka menyusun fitur peta interaktif, informasi destinasi, serta permainan edukatif berbasis budaya.
Tim melengkapi gagasan dengan analisis SWOT untuk menilai kekuatan dan tantangan program. Mereka juga menggunakan model pentahelix untuk membangun kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan media.
Setelah lolos sebagai finalis, tim menyiapkan desain poster selama satu minggu. Poster tersebut menampilkan konsep Kodinusa secara visual dan informatif hingga meraih vote tertinggi sebagai Favorite Poster.
Keterbatasan dana membuat hanya dua anggota tim hadir di Yogyakarta untuk presentasi. Anggota yang hadir menggunakan dana pribadi agar tetap mengikuti tahap akhir kompetisi.
“Kami memastikan ide tetap tersampaikan secara utuh meskipun tidak semua anggota hadir,” katanya.
Ia menyatakan capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus berkembang. Ia menilai proses kolaborasi dan konsistensi tim memberi dampak terhadap hasil yang diraih.
“Prestasi ini membuktikan bahwa kerja keras dan proses yang konsisten memberi hasil,” ungkapnya.
Ainun mengajak mahasiswa untuk berani memulai dan tidak takut gagal. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam setiap proses.
“Jangan takut memulai dan jangan takut gagal, karena itu bagian dari proses belajar,” tutupnya.(*)
*Reporter: Arya Dewa






