PROFESI-UNM.COM – Jangan menilai tampak luarnya, menjadi kalimat yang sering diungkapkan saat setelah bertegur sapa dengannya. Laki-laki itu memiliki tinggi badan di atas rata-rata orang Indonesia dengan ciri khas tubuh kekar khas olahragawan. Siapa sangka di balik tampilan olahragawannya itu, ia justru memiliki tutur kata yang sopan bahkan saat berhadapan dengan kerasnya teriakan aktivis kampus.
Sebuah perjuangan ditempuhnya hingga kini perjalanan itu membawanya memetik hasil dari benih yang sejak lama ditaburnya. Ialah kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Keamanan Universitas Negeri Makassar (UNM), Dahlan si pejuang pendidikan asal Bone.
Sejak mula, hidupnya disusun sebatang kara oleh seorang ayah, yang dikenal tegas layaknya jiwa seorang prajurit negara. Tak banyak yang kian ia harapkan dari orang tuanya, lepas dari perkampungan ia melanjutkan hidupnya di kota. Tahun 1999 menjadi gerbang saat ia membuktikan diri berani memilih UNM sebagai tempatnya merintis karier. Kini mungkin terdengar seperti perjalanan sejarah, namun setiap ceritanya memiliki makna bak petunjuk arah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sosok Ayah Penawar Hati
Biaya hidup dan pendidikan ia tanggung sendirian. Perjalanan cerita hidupnya memang bukanlah kisah paling pilu dari banyaknya kisah haru, namun perjalanannya memberikan warna, penerang bagi siapa yang ingin sampai ke sana.
Pagi menjadi waktunya menimbah ilmu, malam hadir sebagai kesempatan baginya untuk menyambung hidup di tengah iklim perkotaan. Hari-hari semua pekerjaan disabetnya, hingga dinginnya malam nyatakan tak mampu membuatnya tertidur lelah.
Panjang jalannya aspal yang kini kita nikmati, dengan nama “Jl. A.P Pettarani” adalah saksi bisu, saksi yang tak mampu mengaku seberapa deras keringat si pejuang itu untuknya.
“Jalan Pettarani itu dulu saya mengaspal kalau malam, startnya dari jam 1 malam sampai 4 subuh, demi cari uang, yang penting kita bisa kuliah, hehehe,” ceritanya sambil terkekeh kecil khas Dahlan saat bercerita.
Kisah haru membawa berkat, slogan Dahlan ‘Rejeki sudah ada yang atur, asalkan kita ihklas, pasti aja jalannya’, kalimat itu nyata saat waktu tenggat membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang saat itu namanya SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan). Loket tanda tak terima layanan kian memberi simbol akan tutupnya batas waktu pembayaran. Pejuang itu berlari, menghampiri membawa kumpulan receh yang digenggamnya. Sontak hal itu meluluhkan hati, seorang penjaga loket.
“Siapakah kamu?, tolong Lunar (nama samaran) anak ini carikan dia beasiswa” sebutnya dengan meneteskan air mata.
Berkat yang diterimanya saat itu, kini dibalasnya dengan keiklasan dalam menjalani tugasnya hingga saat ini, berawal dari hati untuk tugas mulia bahkan dikerjakan dengan penuh sukarela. Tak jarang orang akan heran dengan keilasan hati yang ia miliki bahkan saat menghadapi perilaku anarkis para demontran unjuk rasa. Hal ini karena, baginya, mahasiswa adalah invidu yang cerdas, memiliki kemampuan memahami arahan, mematuhi aturan hingga mendengarkan penjelasan asalkan tidak dengan kekerasan.
“Dekati, kalau ada ujuk rasa itu dekati jangan pakai kekerasan. Biasa saya bilang kamu datang di sini saya jemut baik-baik tidak pernah bermusuhan. Begitu terbagi ke fakultas kok bermusuhan, nah ini pentingnya kita untuk memutus dokrin-doktrin agar tidak berkelanjutan, karena sejahat-jahatnya manusia pasti memiliki hati nurani,” ungkapnya.
Hati seorang akademisi, seorang pelatih, sosok pahlawan tanpa tanda jasa, bahkan menyebut dirinya sosok ayah bagi siapa saja yang memanggilnya dengan sebutan itu. Dalam tuturnya ia mengharapkan agar UNM sebagai pembangun insan cendekia Indonesia Timur. Ia juga berharap dapat UNM dapat
mengembalikan Roh Kependidikan yang kini hampir punah menanggalkan identitasnya, ia terus menyerukan agar Roh Kependidikan itu kembali dan mulai bertumbuh bersama.
“Bagusnya kini, kita bertumbuh bersama, ini menarik ‘Tumbuh Bersama’. Jangan mi ada yang mau tumbuh sendiri, ayo kita bangun bertumbuh bersama-sama,”ucapnya berulang-ulang sebagai harapannya kepada seluruh sivitas akademika UNM. (*)
*Reporter: Florencya Alnisa Christin






