[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Cita Anggun, (Foto: Ist.)

Potret Cita Anggun, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – “Tidak ada mahasiswa yang datang ke kampus sebagai kertas kosong. Mereka datang membawa kebiasaan, nilai, mimpi, cara berpikir, bahkan sejarah hidup yang berbeda. Dan sejak langkah pertama mereka memasuki kampus, sebuah pertarungan baru dimulai.” Cita, 2026.

Ribuan mahasiswa baru akan segera memasuki gerbang perguruan tinggi. Mereka datang membawa mimpi, harapan, dan cita-cita. Namun, memasuki kampus sesungguhnya bukan hanya memulai perjalanan akademik. Lebih dari itu, mereka sedang memasuki sebuah arena tempat pengetahuan, karakter, kreativitas, dan masa depan mereka saling bertaruh.

Pierre Bourdieu menyebut arena (field) ruang sosial setiap individu belajar, berinteraksi, berkompetisi, sekaligus membangun posisi melalui kemampuan dan kontribusinya. Kampus adalah salah satu arena terpenting dalam kehidupan seseorang. Di sinilah mahasiswa ditempa, bukan hanya untuk menjadi sarjana, tetapi menjadi manusia yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap mahasiswa datang dengan habitus yang berbeda cara berpikir, kebiasaan, nilai, dan pengalaman yang terbentuk oleh keluarga, sekolah, serta lingkungan sosialnya. Habitus inilah yang akan terus berkembang selama berada di kampus. Karena itu, perguruan tinggi bukan tempat mengubah siapa diri kita, melainkan ruang untuk menyempurnakan potensi yang telah kita miliki melalui proses belajar yang berkelanjutan.

Baca Juga Berita :  [Opini] Arah Sekolah dan Pendidikan

Mempertaruhkan Masa Depan

Dalam arena kampus, kecerdasan akademik bukan penentu suatu keberhasilan. Bourdieu mengingatkan bahwa setiap individu perlu membangun berbagai bentuk modal. Modal budaya tumbuh melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, meneliti, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan maupun seni, modal sosial berkembang melalui jejaring, organisasi, dan kolaborasi dan modal simbolik lahir dari integritas, prestasi, dan kepercayaan yang pemerolehannya melalui karya. Sementara modal ekonomi menjadi salah satu sumber daya yang perlu mendapatkan pengelolaan secara bijaksana agar mendukung proses belajar.

Sebagai Akademisi, saya memandang kampus bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ruang lahirnya kebudayaan. Setiap diskusi, penelitian, karya seni, inovasi, maupun pengabdian kepada masyarakat adalah proses membangun makna. Kampus yang baik bukan hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga melahirkan generasi yang peka terhadap persoalan sosial, menghargai keberagaman budaya, dan berani menciptakan perubahan.

Baca Juga Berita :  Strategi Bangkit dari Nilai Ujian yang Kurang Memuaskan

Kepada seluruh mahasiswa baru, jadikan tahun-tahun di perguruan tinggi sebagai kesempatan untuk membangun habitus yang baik, memperkaya modal budaya, memperluas modal sosial, menjaga modal simbolik melalui integritas, dan mengelola setiap peluang dengan penuh tanggung jawab. Jangan hanya mengejar gelar, tetapi bangunlah kapasitas diri agar kelak mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

‘’Selamat datang di kampus. Selamat datang di arena tempat masa depan sedang dipertaruhkan. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukan hanya siapa yang lulus paling cepat, tetapi siapa yang mampu menjadikan ilmu pengetahuan, seni, dan kemanusiaan sebagai jalan untuk membangun peradaban.’’ (Cita, 2026)

Penulis:  Cita Anggun

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WITA

[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Berita Terbaru

Ilustrasi Jalan Kaki Menjadi Salah Satu Olahraga Ringan, (Foto: Int).

wiki

Manfaat Jalan Kaki Rutin bagi Kesehatan Tubuh

Sabtu, 25 Jul 2026 - 04:25 WITA

Ilustrasi Terkait Penyebab Prokrastinasi dan Langkah Bertahap Mengatasinya, (Foto: AI.)

wiki

Prokrastinasi dan Langkah Bertahap Mengatasinya

Sabtu, 25 Jul 2026 - 00:27 WITA

Ilustrasi Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental (Foto: Ai.)

wiki

Tips Menjaga Kesehatan Mental di Bangku Kuliah

Sabtu, 25 Jul 2026 - 00:10 WITA

Potret Badrizah Al Azhar Dosen Muda Lolos Pendanaan BRIN RIIM 2026, (Foto: Int).

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Dosen Pendidikan Geografi Lolos Pendanaan BRIN RIIM 2026

Jumat, 24 Jul 2026 - 23:50 WITA