PROFESI-UNM.COM – “Tidak ada mahasiswa yang datang ke kampus sebagai kertas kosong. Mereka datang membawa kebiasaan, nilai, mimpi, cara berpikir, bahkan sejarah hidup yang berbeda. Dan sejak langkah pertama mereka memasuki kampus, sebuah pertarungan baru dimulai.” Cita, 2026.
Ribuan mahasiswa baru akan segera memasuki gerbang perguruan tinggi. Mereka datang membawa mimpi, harapan, dan cita-cita. Namun, memasuki kampus sesungguhnya bukan hanya memulai perjalanan akademik. Lebih dari itu, mereka sedang memasuki sebuah arena tempat pengetahuan, karakter, kreativitas, dan masa depan mereka saling bertaruh.
Pierre Bourdieu menyebut arena (field) ruang sosial setiap individu belajar, berinteraksi, berkompetisi, sekaligus membangun posisi melalui kemampuan dan kontribusinya. Kampus adalah salah satu arena terpenting dalam kehidupan seseorang. Di sinilah mahasiswa ditempa, bukan hanya untuk menjadi sarjana, tetapi menjadi manusia yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap mahasiswa datang dengan habitus yang berbeda cara berpikir, kebiasaan, nilai, dan pengalaman yang terbentuk oleh keluarga, sekolah, serta lingkungan sosialnya. Habitus inilah yang akan terus berkembang selama berada di kampus. Karena itu, perguruan tinggi bukan tempat mengubah siapa diri kita, melainkan ruang untuk menyempurnakan potensi yang telah kita miliki melalui proses belajar yang berkelanjutan.
Mempertaruhkan Masa Depan
Dalam arena kampus, kecerdasan akademik bukan penentu suatu keberhasilan. Bourdieu mengingatkan bahwa setiap individu perlu membangun berbagai bentuk modal. Modal budaya tumbuh melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, meneliti, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan maupun seni, modal sosial berkembang melalui jejaring, organisasi, dan kolaborasi dan modal simbolik lahir dari integritas, prestasi, dan kepercayaan yang pemerolehannya melalui karya. Sementara modal ekonomi menjadi salah satu sumber daya yang perlu mendapatkan pengelolaan secara bijaksana agar mendukung proses belajar.
Sebagai Akademisi, saya memandang kampus bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ruang lahirnya kebudayaan. Setiap diskusi, penelitian, karya seni, inovasi, maupun pengabdian kepada masyarakat adalah proses membangun makna. Kampus yang baik bukan hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga melahirkan generasi yang peka terhadap persoalan sosial, menghargai keberagaman budaya, dan berani menciptakan perubahan.
Kepada seluruh mahasiswa baru, jadikan tahun-tahun di perguruan tinggi sebagai kesempatan untuk membangun habitus yang baik, memperkaya modal budaya, memperluas modal sosial, menjaga modal simbolik melalui integritas, dan mengelola setiap peluang dengan penuh tanggung jawab. Jangan hanya mengejar gelar, tetapi bangunlah kapasitas diri agar kelak mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
‘’Selamat datang di kampus. Selamat datang di arena tempat masa depan sedang dipertaruhkan. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukan hanya siapa yang lulus paling cepat, tetapi siapa yang mampu menjadikan ilmu pengetahuan, seni, dan kemanusiaan sebagai jalan untuk membangun peradaban.’’ (Cita, 2026)
Penulis: Cita Anggun







