PROFESI-UNM.COM – Sejak dulu, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi atau Persma selalu berkomitmen menjaga independensinya dalam menyebarkan informasi. Konsekuensinya, tidak dapat dipungkiri, beberapa kelompok merasa terusik dan tidak dapat menerimanya.
Pada Oktober 1999 silam, sebuah peristiwa mencekam sekaligus menghebohkan terekam dalam lembaran sejarah Profesi. Redaksi Profesi digerebek dan diserbu oleh sekelompok anggota Resimen Mahasiswa (Menwa).
Ketegangan ini dipicu oleh langkah Profesi yang merilis jajak pendapat (polling) mengenai eksistensi Menwa di lingkungan Universitas Negeri Makassar (UNM).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Merespons hasil polling tersebut, Menwa menggalang kekuatan. Mereka mengerahkan sekitar 30 anggotanya untuk mendatangi dan mengepung redaksi Profesi.
Berbagai bentuk teror dilontarkan, mulai dari ancaman membakar redaksi hingga gertakan untuk membuat redaksi Profesi “banjir darah”.
Dua pengelola Profesi kala itu, Sekretaris yakni Abdul Wahid dan Pemimpin Redaksi Fahruddin Palapa, turut menjadi korban. Wahid menerima bogem mentah dari salah seorang anggota Menwa, sementara Fahruddin disiram dengan teh dingin.
Jauh sebelum tabloid itu masuk ke mesin cetak, sejumlah ancaman larangan terbit memang sudah ada. Menwa mendesak agar edisi tersebut tidak diedarkan.
Namun, para pengelola Profesi memilih mengabaikan. Mereka mengabaikan intimidasi tersebut dan tetap meluncurkan produk jurnalistik ke publik.
Tindakan represif oknum Menwa ini seketika memantik kecaman keras dari mahasiswa lain. Rekan-rekan pers mahasiswa (Persma) dari berbagai kampus luar bahkan turun ke jalan, menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Kodam VII Wirabuana untuk menolak kehadiran korps Menwa di setiap kampus.
Melalui proses mediasi bidang kemahasiswaan, kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk menempuh jalan damai. Kendati demikian, berbagai media massa di Makassar tetap menyuarakan kritik dan mengecam keras sikap oleh anggota Menwa kala itu. (*)
*Reporter: Ficka Aulia Khaerunnisa







