PROFESI-UNM.COM – Tim dosen Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali membawa program pengabdian ke tingkat Internasional melalui kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Malaysia. Program ini terlaksana di Sanggar Bimbingan Sungai Buloh, Selangor, Malaysia, pada (12-15/5).
Kegiatan ini hadir sebagai respons nyata atas kondisi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang selama ini hidup di tengah keterbatasan. Mayoritas dari mereka tinggal di kawasan perkebunan dan daerah terpencil dengan akses pendidikan yang minim, sumber belajar yang terbatas, serta dukungan psikososial yang jauh dari memadai.
Program ini dipimpin langsung oleh Akhmad Harum bersama empat dosen BK FIP UNM lainnya, yakni Maslina, Qawiyyan Fitri, M. Fiqri Syahril, dan Salmiati. Sejumlah mahasiswa turut dilibatkan sebagai fasilitator lapangan untuk mendukung jalannya psikoedukasi dan pendampingan peserta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan di lapangan, tim mengetahui bahwa anak-anak PMI di CLC Sabah menghadapi berbagai persoalan mendasar. Rendahnya motivasi belajar, lemahnya resiliensi terhadap tekanan sosial dan akademik, serta belum adanya orientasi masa depan yang jelas menjadi tantangan utama yang mendorong tim untuk merancang intervensi yang tepat sasaran.
Program Psikoedukasi Career Hope
Menjawab kondisi tersebut, tim pengabdian merancang program Psikoedukasi Career Hope berbasis experiential learning, yang menempatkan peserta aktif dalam proses belajar. Sejak Awal rancangan, program ini bertujuan membantu peserta memetakan tujuan masa depan (goals), membangun keyakinan diri (agency), sekaligus menyusun langkah-langkah konkret menuju cita-cita (pathways).
Pelaksanaannya berlangsung melalui serangkaian tahapan, bermula dari sosialisasi, pengisian pre-test, simulasi dan role play, penyusunan future mapping, hingga evaluasi post-test. Selaku ketua tim, Akhmad Harum mengajak peserta mengenali potensi diri, mendiskusikan tantangan nyata dalam kehidupan mereka.
“Kami ingin anak-anak PMI di Sabah tetap memiliki harapan, semangat belajar, dan keyakinan bahwa mereka juga mampu meraih cita-cita. Pendidikan bukan hanya tentang akademik, tetapi juga tentang membangun keberanian untuk bermimpi dan bertahan,” ujar Akhmad Harum.
Tak hanya menyasar peserta didik, program ini memberikan pendampingan kepada guru Bina dan guru Pamong di Sanggar Bimbingan Sungai Buloh. Tim menyerahkan modul Psikoedukasi Career Hope, lembar kerja future mapping, video edukasi, hingga instrumen evaluasi agar program berjalan secara mandiri pasca kegiatan.
Akhmad Harum menegaskan, penguatan career hope bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi psikologis jangka panjang bagi anak-anak PMI. Ia meyakini, anak yang memiliki harapan dan tujuan hidup yang kuat lebih mampu bertahan dan termotivasi dalam proses belajar.
“Ketika seorang anak tahu ke mana Ia ingin pergi, Ia akan menemukan cara untuk sampai ke sana meski jalannya tidak mudah,” tegasnya.
Program PKM menargetkan sedikitnya 30 peserta anak PMI dan melibatkan guru serta pengelola CLC sebagai mitra keberlanjutan. Tim bertekad mengadaptasi dan menerapkan model layanan psikoedukasi secara luas di berbagai komunitas pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri. (*)
*Reporter: Azizah Auliyah







