PROFESI-UNM.COM – Selama ini kita sering mengelompokkan orang hanya ke dalam dua tipe kepribadian, yaitu introvert atau ekstrovert. Namun dalam dunia psikologi modern, kedua kepribadian tersebut ternyata tidak sesederhana itu. Para ahli menemukan bahwa introvert dan ekstrovert masih memiliki beberapa sub-tipe yang lebih spesifik.
Pembagian tersebut menjelaskan alasan sesama orang introvert atau sesama ekstrovert dapat menunjukkan sifat dan perilaku yang sangat berbeda dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kelompok introvert, model STAR yang dirumuskan psikolog Jonathan Cheek menjadi salah satu pembagian yang paling dikenal. Teori tersebut terbagi ke dalam empat jenis, yaitu social, thinking, anxious, dan restrained.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Social introvert merupakan tipe klasik yang lebih memilih berkumpul bersama sedikit teman dekat atau menikmati me-time daripada menghadiri acara ramai. Sementara itu, thinking introvert merupakan tipe pemikir yang sangat analitis dan imajinatif sehingga pikiran mereka sering dipenuhi berbagai ide kreatif.
Selanjutnya, terdapat anxious introvert, yaitu tipe yang kerap merasa canggung atau kurang percaya diri saat harus berinteraksi dalam lingkungan baru. Adapun restrained introvert merupakan tipe orang yang tenang, membutuhkan waktu untuk beradaptasi, serta selalu mempertimbangkan sesuatu secara matang sebelum berbicara maupun bertindak.
Kepribadian ekstrovert juga memiliki dua tipe utama berdasarkan model neurobiologi kepribadian karya psikolog Richard Depue dan Paul Collins. Kedua tipe tersebut ialah agentic extroversion dan affiliative extroversion.
Agentic extrovert merupakan tipe yang berorientasi pada pencapaian, status, dan kepemimpinan. Orang dengan tipe ini umumnya tegas, ambisius, serta tampil percaya diri saat menjadi pusat perhatian atau memimpin di depan publik.
Sebaliknya, affiliative extrovert lebih mengutamakan kehangatan hubungan antarmanusia dan kebersamaan. Mereka cenderung ramah, mudah membaur dengan siapa saja, serta senang mengerjakan sesuatu bersama dalam kelompok.
Melalui pembagian sub-tipe tersebut, para psikolog menyimpulkan bahwa mayoritas orang tidak benar-benar berada dalam satu kotak kepribadian yang murni. Setiap orang umumnya memiliki kombinasi beberapa sub-tipe dengan porsi yang berbeda-beda. (*)
*Reporter: Alyani Fajrina Nursyabri







