PROFESI-UNM.COM– Tradisi mudik yang oleh jutaan masyarakat Indonesia setiap tahun menyimpan sejarah panjang yang berakar pada ikatan budaya, sosial, dan spiritual bangsa. Jauh sebelum dikenal seperti sekarang, perjalanan pulang kampung ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Nusantara.
Kata mudik sendiri berasal dari bahasa Melayu udik yang berarti hulu sungai atau pedalaman. Di masa lampau, perpindahan penduduk mengikuti aliran sungai sebagai jalur utama transportasi, sehingga pergi ke arah udik berarti pulang menuju asal-usul.
Seiring perkembangan zaman, makna mudik meluas menjadi simbol kepulangan ke kampung halaman, tanpa memandang arah maupun roda transportasi masyarakat gunakan. Tradisi ini kian menguat seiring gelombang urbanisasi besar-besaran pasca kemerdekaan, ketika jutaan warga desa berduyun-duyun merantau ke kota besar demi mencari penghidupan.
Namun jauh dari hiruk pikuk kota, ikatan emosional dengan kampung halaman tetap terjaga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mudik menjadi jembatan antara kehidupan urban dan akar budaya yang ditinggalkan. Bagi umat Muslim, kepulangan ini sekaligus menjadi momen ziarah kubur, memohon maaf kepada orang tua, dan mempererat silaturahmi untuk nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.
Tak hanya bernilai spiritual, mudik juga membawa dampak ekonomi yang nyata. Uang dari pemudik dari kota ke desa dalam bentuk oleh-oleh. Selain itu, juga tunjangan hari raya menjadi stimulus ekonomi pedesaan yang signifikan setiap tahunnya.
Di mata dunia, fenomena mudik Indonesia bahkan merupakan sebagai salah satu migrasi manusia terbesar di muka bumi. Pada tahun 2024, Kementerian Perhubungan mencatat lebih dari 193 juta pergerakan pemudik. Pergerakan ini merupakan sebuah angka yang mencerminkan betapa kuatnya tradisi ini berakar di tengah masyarakat.
Di tengah arus modernisasi, satu hal yang tidak pernah berubah dari tradisi mudik adalah kerinduan pada rumah. Kerinduannya seperti pada masakan ibu, bahasa daerah, dan kehangatan keluarga yang tidak tergantikan oleh kemewahan kota sekalipun. (*)
*Reporter: Azizah Auliyah







