PROFESI-UNM.COM – Bulan Ramadan menjadi momen penuh tantangan bagi mahasiswa kos. Tanpa dukungan keluarga, mereka perlu mengatur sahur serta berbuka dengan anggaran terbatas. Meski demikian, melalui pengelolaan tepat, kebutuhan gizi tetap terpenuhi tanpa pengeluaran berlebihan.
Pertama, sahur menjadi waktu penting untuk mengisi energi sebelum puasa seharian. Menu sederhana seperti nasi, telur, serta sayur tumis sering menjadi pilihan karena praktis dan mengenyangkan. Oleh karena itu, sahur tidak boleh terlewat agar tubuh tetap kuat hingga waktu berbuka.
Selanjutnya, berbuka sebaiknya diawali kurma atau air putih untuk memulihkan energi bertahap. Namun, hindari langsung menyantap makanan berat dalam porsi besar karena berisiko mengganggu pencernaan. Setelah itu, konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau roti gandum serta protein sederhana seperti tempe atau ayam.
Dalam hal keuangan, anggaran makan harian mahasiswa kos umumnya berkisar Rp20.000–Rp30.000. Dengan demikian, jumlah tersebut cukup apabila dikelola bijak melalui belanja pasar tradisional yang relatif murah. Menyimpan stok beras, telur, serta minyak goreng membantu menekan pengeluaran mendadak.
Selain itu, penggunaan rice cooker multifungsi memudahkan proses memasak dalam kamar kos. Alat tersebut dapat menumis, merebus, hingga mengukus tanpa perlu banyak peralatan dapur. Bahkan, kegiatan buka bersama kampus atau masjid sekitar menjadi alternatif hemat sekaligus memperluas relasi sosial.
Akhirnya, melalui kreativitas serta strategi sederhana, mahasiswa kos mampu menjalani Ramadan secara hemat, bergizi, serta tetap produktif. Fakta keseharian menunjukkan keterbatasan bukan penghalang, melainkan peluang belajar mandiri serta beradaptasi. (*)
*Reporter: Nur Hafizhah








