[Opini] Genosida Biological Diversity

Avatar photo

- Redaksi

Kamis, 17 Juli 2025 - 23:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Muhammad Ryaas Risyady, (Foto: Ist.)

Potret Muhammad Ryaas Risyady, (Foto: Ist.)

 

PROFESI-UNM.COM – Akhir akhir ini pemerintah lagi senang melakukan ekspansi tambang dimana mana, menghabisi banyaknya hutan bumi Pertiwi. Tidak mengenal empaty terhadap masyarakat setempat hingga menghalalkan segala cara untuk bisa meraup keuntungan dari sumber penghidupan manusia terutama masyarakat lokal setempat. Pemerintah sering mengeluarkan statement bahwasanya genosida terhadap pohon itu dilakukan demi mendukung proses transisi energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan menunjang indonesia menuju status negara maju.

Namun, energi terbarukan itu bukan untuk rakyat kita tetapi dijual ke negara negara yang menanam saham pada industri yang terkait seperti China, Prancis dan lain sebagainya. Sehingga masyarakat setempat dan rakyat kita hanya merasakan deritanya mereka kehilangan lahan mata pencaharian, kehilangan air bersih yang merusak tubuh mereka akibat limbah tambang yang mengotori lautan dan ekosistem yang tentunya sulit untuk kembali seperti sediakala sebagaimana ekosistem awal yang dianugerahi untuk masyarakat setempat.

Entah mengapa manusia sulit untuk menjaga alam sekitar apakah mereka berpikir kebenaran indahnya kelestarian alam jika dijaga hanya sekadar logika deduktif yang sulit ditangkap oleh rasionalitas manusia sehingga banyak yang apatis dengan tindakan itu. Apatis terhadap lingkungan merupakan narasi yang sangat disepelekan oleh umat manusia tentu saja karena mereka tidak mendapatkan langsung benefitnya. Jika mereka memang tekun untuk menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan sekitar tapi alam dijadikan sebagai bahan eksploitasi untuk menjarah keuntungan sebanyak mungkin dan bahkan merugikan sesama manusia lain.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Melintasi Batas Budaya: Petualangan Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Airlangga

Tentang menjarah alam sehingga merugikan manusia juga banyak dilakukan oleh penguasa-penguasa terhadap wilayah tempat alam itu berdiri dasarnya mereka tidak hanya tidak peduli sesama umat manusia yang bahkan dicap sebagai rakyat yang sepatutnya mereka lindungi dan layani. Akan tetapi, malah menjarah tanah-tanah mereka dan meratakan hutan-hutan mereka, dengan pengetahuan yang dangkal dan hati yang tidak berperikemanusiaan, penguasa dengan antek-anteknya terus saja melakukan kebijakan-kebijakan yang hanya bijak di mata tiraninya api di mata orang yang memiliki tanah dan hak atas hutan lindung. (*)

*Penulis: Muhammad Ryaas Risyady

Berita Terkait

[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan
[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
Berita ini 118 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WITA

[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Berita Terbaru

Potret Plt Rektor UNM, Farida Patittingi dalam Sambutannya, (Foto: Int.)

Agendasiana

UNM Kukuhkan Enam Guru Besar dalam Rangkaian Dies Natalis ke-65

Rabu, 29 Jul 2026 - 14:39 WITA

Potret Mahasiswa HMPS Pendidikan Ekonomi dalam Kegiatan Bakti Sosial XI di Pangkep, (Foto: Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

HMPS Pendidikan Ekonomi Gelar Bakti Sosial XI di Desa Bantimurung Pangkep

Rabu, 29 Jul 2026 - 14:33 WITA

Potret Foto Bersama pada Kegiatan BIM 2026, (Foto: Ist)

Agendasiana

HMJ Kimia Wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi Melalui BIM 2026

Rabu, 29 Jul 2026 - 14:25 WITA

Potret Jamaluddin saat Bacakan Riwayat Hidup Muhammad Rais, (Foto: Putri Salsabila)

Agendasiana

Muhammad Rais Tempuh 17 Tahun Menuju Guru Besar

Rabu, 29 Jul 2026 - 14:22 WITA

Potret Farida Aryani saat Menyampaikan Pidato, (Foto:Musdalifah)

Agendasiana

Momen Haru Pasutri Dikukuhkan Jadi Guru Besar Bersama

Rabu, 29 Jul 2026 - 14:18 WITA