[OPINI] Pentingnya Menerapkan Norma Etika dalam Penggunaan Media Sosial terhadap Generasi Milenial yang dikaitkan oleh Pemikiran Filsup Mengenai Etika.

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 16 Desember 2023 - 00:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Penulis, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Teori etika dalam filsafat merupakan studi yang mempelajari mengenai apa yan di anggap baik, buruk, benar dan salah, dan bagaimana kita seharusnya berperilaku baik. Salah satu teori etika yang terkenal yaitu utilitarianisme yang di awali oleh Jeremy Bentham dan kemudian di kembangkan oleh John Stuart Mill. Utilitarianisme berfokus pada prinsip bahwa tindakan itu baik jika menghasilkan suatu kebahagiaan terbesar dalam jumlah banyak. Teori etika lainnya  yaitu etika kesusilaan yang di pengaruhi oleh pemikiran Aristoteles yang menekankan pentingnya membangun sifat-sifat moral yang baik secara keseluruhan.

Etika dikaitkan dengan moralitas seseorang dalam kehidupan bersosial di masyarakat.  Orang yang tidak memiliki etika yang baik sering disebut tidak bermoral karena tindakan dan perkataan yang diambil tidak melalui pertimbangan baik dan buruk. karena menyangkut pertimbangan akan nilai-nilai baik yang harus dilakukan dan nilai-nilai buruk yang harus dihindari. Tidak adanya filter pertimbangan nilai baik dan buruk merupakan awal dari bencana pemanfaatan media sosial. Hal ini merupakan juga cerminan dari kesantunan kepribadian kita.

Mengontrol perilaku di media sosial sudah semestinya dilakukan, namun masih ada saja orang-orang yang seenaknya menggunkan media sosial sebagai wadah mengekspresikan emosi yang tidak sebaiknya di ekspresikan. Khususnya dikalangan remaja sekarang ini. Sejak semakin perkembangnya berbagai jenis media sosial semakin banyak pula kasus-kasus penyalah gunaan di media sosial. Seperti rasisme, penggunaan kata-kata sarkas, cyber bully dan lain sebagainya. Salah satu kasus yang paling sering ditemukan adalah cyber bully, dimana seseorang yang melalukan kesalahan atau terlihat memiliki kesalahan akan “diserang” oleh orang-orang dengan memberikan komentar yang berisi kata-kata makian, hinaan, ucapan kotor, hingga merendahkan korban perbuatan ini sangat berdampak buruk bagi korban, walau hanya mendapat serangan tidak langsung dari orang-orang yang bahkan ia tidak kenal, tapi itu dapat melukai mental korban. Tidak sedikit kasus cyber bully yang mengakibatkan korban bunuh diri karena tidak kuat menerima komentar jahat. Sebesar itu pengaruh dari pengguna sosial media yang tidak bisa menjaga etikanya. Namun sayangnya walau sudah banyak kasus seperti itu masih banyak pengguna media sosial yang tidak bisa mengontrol perilakunya di media sosial.

Harus ada kesadaran dari diri sendiri agar kasus seperti itu tidak terjadi lagi. Tidak hanya dalam menuliskan komentar tapi juga harus bijak dalam membuat postingan atau konten. Banyak konten di Instagram, Youtube, maupun Tiktok yang tidak baik. Seperti melakukan hal-hal tidak senonoh, seakan-akan harga diri lebih rendah daripada konten. Dan lagi itu kebanyakan lakukan oleh remaja bahkan anak-anak. Peran orangtua untuk mengawasi anaknya di media sosial juga sangat penting. Terkadang orangtua tidak mengetahui bagaimana perilaku anaknya di media sosial. Karena itu perlu kesadaran diri sendiri, pengaruh lingkungan sekitar dan orangtua untuk memperbaiki perilaku di media sosial.

Menurut Andy Corry dalam jurnal etika berkomunikasi. Komunikasi diibaratkan seperti urat nadi penghubung Kehidupan, sebagai salah satu ekspresi dari karakter, sifat atau tabiat seseorang untuk saling berinteraksi, mengidentifikasikan diri serta bekerja sama. Kita hanya bisa saling mengerti dan memahami apa yang dipikirkan, dirasakan dan dikehendaki orang melalui komunikasi yang diekspresikan dengan menggunakan berbagai saluran, baik verbal maupun non-verbal. Pesan yang ingin disampaikan melalui komunikasi, bisa berdampak positif bisa juga sebaliknya. Komunikasi akan lebih bernilai positif, jika peserta komunikasi mengetahui dan menguasai teknik berkomunikasi yang baik, dan beretika. Etika dalam berkomunikasi, tidak hanya berkaitan dengan tutur kata yang baik, tetapi juga harus berangkat dari niat tulus yang diekspresikan dari ketenangan, kesabaran dan empati kita dalam berkomunikasi. Bentuk komunikasi yang demikian akan menghasilkan komunikasi dua arah yang bercirikan penghargaan, perhatian dan dukungan secara timbal balik dari pihak-pihak yang berkomunikasi. Komunikasi yang beretika, kini menjadi persoalan penting dalam penyampaian aspirasi. Dalam keseharian eksistensi penyampaian aspirasi masih sering dijumpai sejumlah hal yang mencemaskan dari perilaku komunikasi yang kurang santun. Etika komunikasi sering terpinggirkan, karena etika Berkomunikasi belum membudaya sebagai urat nadi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Adapun Etika dalam berkomunikasi yang baik dalam media sosial adalah tidak menggunakan kata kasar, provokatif, porno ataupun tidak memposting artikel atau status yang bohong, tidak mencopy paste artikel atau gambar yang mempunyai hak cipta, serta memberikan komentar yang relevan.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Tuntutan Profesionalisme Bidang Administrasi Perkantoran di Era Digital dalam Mewujudkan Good Governance

*Penulis adalah Ratna, angkatan 2023, Jurusan: Administrasi Publik, semester 1, alamat Jalan Batuaraya 10 Dekat Pondok Ival Batuaraya 10.

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
Berita ini 87 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Berita Terbaru

Foto kegiatan LPM Penalaran UNM Pada Kegiatan Pelatihan Metodologi Penelitian (PMP) XXIX, (Foto: Ist.)

KILAS LK

Asah Kemampuan Riset, LPM Penalaran Gelar PMP XXIX

Senin, 22 Jun 2026 - 18:18 WITA

Potret Nurfadillah Pemenang Juara 2 Lomba Video Opini LPM Profesi, (Foto: Ist.)

Kilas Kampus

Raih Juara 2 Lomba Opini, Angkat Tema Pemanfaatan AI secara Bijak

Senin, 22 Jun 2026 - 17:54 WITA