Tantangan bagi Masyarakat yang Terinfeksi Informasi Sepihak

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 8 November 2024 - 02:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Ilmu Pengetathuan Bersumber dari Buku, (Foto: Int)

Ilustrasi Ilmu Pengetathuan Bersumber dari Buku, (Foto: Int)

Ilustrasi Ilmu Pengetahuan Bersumber dari Buku, (Foto: Int)
Ilustrasi Ilmu Pengetahuan Bersumber dari Buku, (Foto: Int)

Di tengah gelombang informasi yang melanda dunia modern, muncul sebuah pernyataan yang memprovokasi pemikiran: “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala hal dengan pengetahuan.” Sebuah kalimat yang menggambarkan betapa mudahnya pengetahuan — atau lebih tepatnya, bagaimana pengetahuan disampaikan — dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi dan bahkan mengendalikan orang banyak. Dalam konteks ini, istilah “bodoh” bukanlah sekadar merujuk pada kekurangan intelektual, tetapi lebih pada ketidaksiapan seseorang untuk menyaring informasi dan berpikir kritis.

Di era informasi seperti sekarang, kita sering terjebak dalam dunia yang penuh klaim, berita sensasional, dan opini yang dikemas sebagai kebenaran mutlak. Banyak pihak yang tahu bahwa untuk memengaruhi orang, terutama mereka yang kurang kritis terhadap apa yang mereka terima, salah satu cara yang paling efektif adalah dengan membungkus suatu ide atau agenda dalam bentuk pengetahuan yang tampaknya sahih dan terverifikasi. Faktanya, banyak yang merasa bahwa apa yang dikatakan oleh seseorang yang terlihat berwibawa atau disampaikan dengan cara yang menarik adalah kebenaran, tanpa menyelidiki lebih jauh apakah informasi tersebut benar-benar akurat.

Kita melihat fenomena ini di berbagai sektor, mulai dari politik hingga media sosial. Para pemimpin politik, selebriti, dan influencer sering memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki, atau setidaknya tampaknya mereka miliki, untuk membentuk opini publik. Dalam banyak kasus, apa yang mereka sajikan bukanlah pengetahuan yang berasal dari penelitian ilmiah yang sahih, tetapi lebih kepada narasi yang dibangun untuk mendukung agenda tertentu. Penyampaian yang terorganisir dan retoris, yang dibungkus dengan data atau statistik yang menarik, bisa sangat meyakinkan meski tidak sepenuhnya akurat.

Tantangan ini menjadi semakin besar dengan hadirnya teknologi digital yang memungkinkan informasi — baik yang benar maupun yang salah — tersebar dengan cepat. Informasi palsu atau hoaks dapat dengan mudah menyebar, apalagi jika dikemas dengan cara yang menarik atau mengandalkan sumber yang tampak kredibel. Orang yang tidak memiliki keterampilan literasi digital atau kemampuan berpikir kritis seringkali sulit membedakan antara fakta dan kebohongan. Mereka cenderung mempercayai apa yang mereka baca atau dengar, terutama jika disampaikan dengan penuh keyakinan dan otoritas.

Namun, menyalahgunakan pengetahuan untuk menguasai orang dengan cara ini membawa dampak yang jauh lebih serius daripada sekadar memperdaya orang. Hal ini bisa memperburuk polarisasi sosial, merusak kepercayaan publik terhadap institusi atau informasi yang sahih, dan bahkan memanipulasi opini untuk kepentingan kelompok atau individu tertentu. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa berujung pada ketidakadilan, kebijakan yang merugikan banyak pihak, atau penyebaran kebencian.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk melawan pengaruh negatif pengetahuan yang disalahgunakan ini? Salah satu langkah pertama adalah dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi informasi. Masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa pengetahuan yang disajikan kepada mereka haruslah kritis dan dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan literasi media, baik di sekolah maupun dalam masyarakat umum, harus ditekankan agar orang dapat mengenali tanda-tanda informasi yang manipulatif atau salah.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Darurat Kemanusiaan di Ruang Guru: Menggugat Eksploitasi Guru Honorer

Selain itu, kita juga perlu mengajak orang untuk lebih aktif berpikir kritis, bertanya, dan memverifikasi informasi sebelum mempercayainya. Dengan demikian, pengetahuan tidak hanya menjadi alat untuk menguasai, tetapi juga menjadi alat untuk memberdayakan dan memperkaya pemahaman kita tentang dunia.

Sebagai penutup, dalam masyarakat yang semakin kompleks dan penuh informasi ini, kita harus berhati-hati dengan cara pengetahuan disampaikan dan diterima. Pengetahuan seharusnya bukanlah alat untuk menguasai, tetapi untuk membebaskan. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk menjaga integritas informasi, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan tidak mudah terjebak dalam “bungkus” pengetahuan yang tidak jelas asal-usulnya. Menguasai orang melalui pengetahuan yang salah hanya akan menciptakan masyarakat yang semakin terpecah, sementara pengetahuan yang sejati seharusnya mempererat dan membangun kesadaran kolektif yang lebih baik. (*)

 

*Penulis adalah Ibnu Rasul Rahman, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM

Berita Terkait

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
Berita ini 99 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Rabu, 3 Juni 2026 - 23:08 WITA

[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.

Berita Terbaru

Potret peserta kegiatan yang mengamati sesi Run Inference of Gemma 4 Model on Cloud Run with RTX 6000 Pro GPU with vLLM, (Foto: Int.)

Lintas UNM

Build with AI 2026 Bekali Talenta AI Makassar

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:00 WITA

Ilustrasi sejumlah mahasiswa baru berdiskusi bersama di area kampus (Foto: AI)

wiki

Transisi Kemandirian dan Tantangan di Era Digital

Minggu, 14 Jun 2026 - 22:55 WITA

Potret Sardiah, Wisudawan Terbaik FEB Periode Juni, 2026 (Foto: Ist)

wisudawan terbaik

Mahasiswi Prodi Manajemen Raih Wisudawan Terbaik FEB Berkat IPK 3,95

Minggu, 14 Jun 2026 - 00:28 WITA

Surat Edaran Peninjauan Ulang UKT tahun 2026/2027, (Foto: Int.)

Info Akademik

UNM Tetapkan Mekanisme Peninjauan Ulang UKT 2026/2027

Sabtu, 13 Jun 2026 - 08:53 WITA