Realitas LK: Lembaga (Pengusung) Kegiatan

Avatar photo

- Redaksi

Senin, 1 Agustus 2022 - 21:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROFESI-UNM.COM – Tahun 2017 kemarin, saya masih ingat sekali apa yang pertama kali digemakan ditelinga saya setelah menyandang gelar Mahasiswa. Kala itu saya berada diantara teman-teman baru yang culun, polos plus sebagian yang berkepala plontos. Senior yang sebenarnya baik hati (karena aku percaya bahwa semua orang itu baik) tapi berpura-pura galak, meneriaki kami dilapangan Bantimurung dini hari.

“APA PERAN MAHASISWA??” teriaknya.

“SOCIAL CONTROL, AGEN OF CHANGE, IRON STOCK, MORAL FORCE!!!” Teriak kami mencoba mengingat materi siang tadi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah itu kami disuruh merayap melewati genangan air kotor bercampur kotoran sapi dibawah bambu yang dipasang serendah lutut. Tanpa ada niat untuk mempertanyakan alasan logis semua pembodohan itu.

Pada dasarnya, setiap kampus umumnya memilki Organisasi Mahasiswa/Lembaga kemahasiswaan (LK). Organisasi yang didirikan untuk menyalurkan aspirasi, minat bakat, hobi ataupun mengorganisir kebutuhan mahasiswa. Kederasasi Lembaga adalah sebuah keharusan. Bahkan terkadang kaderisasi yang macet menjadi sebuah kekhawatiran yang kadang berujung pada adu argumentasi panjang.

Baca Juga Berita :  Sulbar Jadi Sasaran Utama Penempatan KKN, Mahasiswa Tidak kaget Lagi

Bayangkan jika sebuah LK tidak melahirkan kader-kader penerus. Untungnya tidak terjadi. Ironinya, kader-kader LK saat ini tidak lagi mampu memaknai perannya. Kegiatan kaderisasi sepertinya gagal melakukan transformasi nilai. Entah karena kesalahan pola kaderisasi atau orientasi zaman yang telah berbeda.

Seiring berjalannya waktu, Lembaga kemahasiswaan seolah hanya menjadi tempat perkumpulan dan kongko-kongko belaka. Kadangkala diskusi tidak lagi menjadi komunikasi dua arah, ia berubah bentuk menjadi kajian oleh senior-senior mahabenar. Mayoritas pengurus lembaga tumpul dalam berpikir kritis karena gagal mengenali perannya.

Beberapa mahasiswa yang malas kuliah memilih menjadikan sekret organ sebagai kampusnya. Titip absen dulu katanya. “Fakultas Kelembagaan, Jurusan Meditasi (Baca: Tidur tanpa gangguan)”. Lucunya lagi, sebagian memangku jabatan hanya untuk mengejar eksistensi pribadi belaka, yang berakhir dengan menjatuhkan eksistensi lembaga. Ingin terlihat keren dan pamer. Tidak paham, bahwa setiap tingkat lembaga memiliki peran khusus masing-masing. Tapi fikirannya kemudian tertutup pada “yang penting masuk organisasi”. Mau tidak mau membuatku bertanya-tanya. Cari apasih?

Baca Juga Berita :  [OPINI] Saat Keinginan Kalah oleh Ketetapan, di situlah Ada Rasa Syukur

Salah seorang senior dari Lembaga jurusan pernah mengatakan bahwa “Lembaga tidak seksi lagi”. Benar, Lembaga Kemahasiswaan hari ini tidak seksi lagi. Tidak heran LK kemudian mengalami degradasi dari segi kuantisasi dan kualitas. Fakta di lapangan kemudian, Lembaga Jurusan tak ubahnya hanya penganut Proker (Program Kerja) yang tunduk pada kerja-kerja kepanitiaan saja. Lembaga Fakultas seperti mengalami disorientasi, banyak mahasiswa yang memilih dan menerima jabatan hanya untuk melawak diatas panggung aspirasi dengan menyuarakan isu yang itu-itu saja. Entah buta dalam mengawal isu atau terlalu takut pada birokrat. Entah karena malas atau tidak berdaya.

Akhirnya, gosip lebih menarik daripada diskusi. Buku-buku dijejal dalam tas, dibaca sekali seminggu. Sementara Gaming everytime and everywhere. “Aktivis Kampus” menjadi sekedar sebutan belaka. Barangkali penyematan “aktivis kampus” ini berakhir pada masa reformasi kemarin. Sebelum Gerakan-gebrakan mahasiswa tertidur Panjang seperti putri salju. (*)

*Penulis adalah Nurul Istiqamah, Mahasiswa Alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam angkatan 2017

Berita Terkait

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi
[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
Berita ini 187 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:25 WITA

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WITA

[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi

Selasa, 28 April 2026 - 20:08 WITA

[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Berita Terbaru

Sesi foto bersama dalam agenda pelatihan penulisan berita dan persuratan, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

FT Gelar Pelatihan Persuratan, Dekan Singgung Target PPK Ormawa Nasional

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:50 WITA

Potret Fachruddin Palapa saat memberikan materi, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

Perkuat Keterampilan Jurnalistik, FT Latih Mahasiswa Penulisan Berita

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:40 WITA

Foto Muh. Syekh Mikail Attahillah Ketua Formatur HMPS Pendidikan Sosiologi, (Foto: Ist.)

Formatur Ketua Umum

HMPS Pendidikan Sosiologi Tetapkan Ketua Formatur Baru di Mubes XV

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:36 WITA

Potret Pimpinan Jurusan, Prodi, dan Fakultas FISH (Foto: Int.)

Pendidikan Sejarah

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Gelar Pameran Budaya Lokal

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:04 WITA

E-TABLOID 295

Tabloid

E-TABLOID 295

Senin, 11 Mei 2026 - 23:02 WITA