[OPINI] Kuliah Sambil Bekerja: Belajar Bertahan di Tengah Proses Menjadi Pendidik

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 19 Desember 2025 - 01:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Muh. Haikal, (Foto : Ist.)

Potret Muh. Haikal, (Foto : Ist.)

PROFESI-UNM.COM-Di lingkungan kampus pendidikan, mahasiswa sering diposisikan sebagai calon pendidik yang ideal seperti fokus belajar, aktif kegiatan akademik, dan siap meluangkan waktu untuk mengembangkan diri. Namun, realitas di lapangan tidak selalu berjalan seideal itu. Banyak mahasiswa pendidikan, termasuk di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang harus menjalani peran ganda sebagai mahasiswa sekaligus pekerja.

Kuliah sambil bekerja bukan semata pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan. Sebagian mahasiswa bekerja untuk membiayai kuliah, membantu ekonomi keluarga, atau sekadar memastikan proses studinya tetap berjalan. Dalam kondisi ini, kampus bukan hanya tempat belajar teori pendidikan, tetapi juga ruang tempat mahasiswa belajar bertahan dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Tantangan terbesar dari kuliah sambil bekerja adalah mengatur waktu dan menjaga konsistensi belajar. Jadwal perkuliahan yang padat, tugas praktik, observasi sekolah, hingga tuntutan pekerjaan sering kali saling bertabrakan. Tidak jarang mahasiswa harus mengikuti perkuliahan dalam kondisi lelah atau menyelesaikan tugas di sela waktu kerja. Situasi ini tentu memengaruhi fokus dan performa akademik.

Namun di balik keterbatasan itu, ada proses pembelajaran yang sangat berharga. Mahasiswa pendidikan yang bekerja terbiasa mengatur waktu, belajar disiplin, dan memahami arti tanggung jawab sejak dini. Pengalaman ini secara tidak langsung membentuk karakter pendidik yang tangguh, sabar, dan peka terhadap kondisi sosial. Nilai-nilai tersebut justru menjadi bekal penting ketika kelak terjun ke dunia pendidikan dasar yang menuntut empati dan keteladanan.

Sayangnya, mahasiswa yang kuliah sambil bekerja masih kerap dipandang kurang maksimal dalam menjalani peran akademik. Padahal, keterbatasan waktu bukan cerminan rendahnya komitmen terhadap pendidikan. Justru, mereka yang tetap bertahan kuliah di tengah tekanan ekonomi menunjukkan kesungguhan yang tidak kalah besar dibanding mahasiswa lainnya.

Sebagai lembaga pendidikan, perguruan tinggi perlu membangun iklim akademik yang lebih memahami realitas mahasiswa. Pendekatan dosen yang komunikatif, kebijakan akademik yang fleksibel, serta budaya kampus yang empatik sangat dibutuhkan. Pendidikan sejatinya bukan hanya soal nilai dan kelulusan tepat waktu, tetapi tentang proses memanusiakan manusia yang sedang berjuang.

Baca Juga Berita :  Seminar Internasional UNM: Aspek Karir Belajar Bahasa Jerman di Vietnam

Bagi mahasiswa PGSD, pengalaman kuliah sambil bekerja adalah pelajaran hidup yang tidak tertulis di silabus. Dari sana, mereka belajar bahwa pendidikan bukan hanya teori di kelas, melainkan perjuangan nyata untuk bertumbuh. Ketika kelak berdiri di depan kelas sebagai guru, pengalaman ini akan menjadi sumber empati dalam memahami murid-murid dengan latar belakang yang beragam.

Pada akhirnya, mahasiswa yang kuliah sambil bekerja bukan mahasiswa setengah-setengah. Mereka adalah individu yang sedang menyeimbangkan mimpi, tanggung jawab, dan realitas hidup. Di tengah keterbatasan, mereka tetap memilih bertahan di jalur pendidikan. Dan dari proses itulah, lahir calon pendidik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter.(*)

*Penulis : Muh. Haikal

Berita Terkait

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi
[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
Berita ini 242 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:25 WITA

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WITA

[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi

Selasa, 28 April 2026 - 20:08 WITA

[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Berita Terbaru

Potret Tim MP Ekolibrium Feb UNM setelah Meraih Prestasi Pada Ajang LEC 2026,(Foto:Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

MP Ekolibrium FEB Raih Prestasi di Lombok Essay Competition 2026

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:02 WITA

Foto Bersama Mahasiswa dan Dosen Program Studi D4 Tata Boga FT UNM, (Foto: Ratna Wulandari)

Fakultas Teknik

Cipta Karya Boga Hadirkan Kolaborasi Mahasiswa, Industri, dan Sekolah

Selasa, 12 Mei 2026 - 18:40 WITA

Sesi foto bersama dalam agenda pelatihan penulisan berita dan persuratan, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

FT Gelar Pelatihan Persuratan, Dekan Singgung Target PPK Ormawa Nasional

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:50 WITA