PROFESI-UNM.COM – Salah seorang alumni Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM), Subuhan, merupakan sosok mahasiswa yang mengagumi narasi perlawanan. Kekaguman itulah yang kemudian membawanya masuk ke dalam komunitas “pemberontak”, yang diyakininya ini.
Menurut Subuhan, sejarah bangsa ini dari dekade ke dekade berhasil diubah oleh mahasiswa yang hadir sebagai pemberontak. Berangkat dari kegelisahan tersebut, ia terobsesi untuk ikut ambil bagian sebagai pelaku sejarah.
“Awal-awal berada di Profesi, saya sangat terkesan karena tempat ini dihuni beberapa tokoh mahasiswa yang notabene cukup ‘direkeng’ oleh pejabat kampus. Ternyata harapan saya benar, melalui Profesi, saya telah masuk ke komunitas pemberontak,” tulisnya dalam buku 25 Tahun Profesi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada masa itu, wadah yang berani menyuarakan kebobrokan penguasa tidak lain adalah aktivis pers mahasiswa Indonesia. Melalui tulisannya, mereka mampu menelanjangi berbagai kebobrokan dan ketimpangan yang diperbuat oleh rezim yang berkuasa saat itu.
Selain aktif membongkar penyelewengan di internal kampus, Profesi kala itu juga ambil bagian dalam menyuarakan isu-isu nasional. Namun, apa pun aksi yang direncanakan selalu bocor ke telinga intelijen. Sebab, birokrasi kampus pada masa itu juga ditugaskan untuk memata-matai setiap pergerakan mahasiswa.
Tak hanya itu, Subuhan juga tercatat berpartisipasi dalam agenda-agenda Profesi di tingkat nasional. Salah satunya adalah ikut menandatangani sebuah manifesto bersama para aktivis pers mahasiswa se-Indonesia.
“Saya kala itu ikut menandatangani sebuah naskah bersama aktivis pers mahasiswa Indonesia yang dikirim langsung ke istana penguasa. Isinya tegas, pers mahasiswa Indonesia menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden RI, jauh-jauh hari sebelum pemilu tahun 1996,” pungkasnya. (*)
*Reporter: Ficka Aulia Khaerunnisa







