PROFESI-UNM.COM – Pernahkah kamu terjebak scrolling video pendek berjam-jam sampai mengabaikan tugas kuliah yang menumpuk di atas meja? Fenomena yang sering diabaikan ini sebenarnya adalah bentuk manipulasi saraf yang kini dikenal luas sebagai serangan fake dopamine.
Dopamin merupakan senyawa kimia alami otak yang berfungsi memberikan sinyal rasa senang serta motivasi saat kita beraktivitas. Zat alami ini secara normal akan dilepaskan saat kita mencapai sebuah prestasi atau melakukan aktivitas fisik yang sangat bermanfaat.
Sayangnya, hiburan instan dalam dunia digital menciptakan jalur pintas yang memberikan kepuasan tanpa usaha. Stimulasi berlebihan ini memaksa otak melepaskan dopamin secara terus-menerus hingga menciptakan ketergantungan yang merusak sistem saraf kita.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahaya utamanya adalah menurunnya kepekaan otak dalam merasakan kebahagiaan alami dari hal-hal sederhana di dunia nyata saat ini. Akibatnya, mahasiswa sering merasa hampa dan kehilangan motivasi untuk mengerjakan tugas produktif yang membutuhkan proses waktu yang lama.
Kondisi ini sering memicu gangguan kecemasan karena otak selalu menuntut rangsangan baru yang lebih kuat untuk merasa puas kembali. Paparan layar yang berlebihan juga terbukti merusak pola tidur serta menurunkan kemampuan konsentrasi manusia dalam jangka waktu panjang.
Langkah awal untuk memutus rantai ini adalah dengan melakukan detoks digital secara berkala untuk menyeimbangkan kembali sistem saraf pada otak kita. Membatasi durasi penggunaan aplikasi tertentu akan membantu otak untuk beristirahat dari gempuran informasi visual yang terlalu cepat dan padat.
Mengalihkan perhatian pada hobi produktif seperti berolahraga atau membaca buku fisik sangat efektif untuk memulihkan fungsi kognitif yang menurun. Aktivitas yang membutuhkan kesabaran akan melatih kembali hormon kebahagiaan alami agar bekerja secara normal sesuai fungsinya bagi tubuh.
Mari mulai bijak dalam mengonsumsi konten digital demi menjaga kesehatan jiwa serta masa depan akademik yang jauh lebih baik. (*)
*Reporter: Alyani Fajrina Nursyabri







