PROFESI-UNM.COM – Kuliah umum Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di Universitas Negeri Makassar (UNM), tidak hanya menjadi ajang pemaparan gagasan mengenai peran perguruan tinggi dalam menjaga swasembada pangan nasional secara berkelanjutan. Kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk menyuarakan aspirasi masyarakat serta berbagai persoalan yang masih petani alami, Rabu (3/6).
Sesi dialog yang berlangsung terbuka dan interaktif menghadirkan beragam masukan dari mahasiswa dan dosen. Berbagai isu mengemuka, mulai dari penyaluran pupuk subsidi, akses petani terhadap sarana produksi, hingga tantangan sektor pertanian di sejumlah daerah.
Salah seorang mahasiswi asal Bone mengungkapkan keluhan masyarakat terkait harga pupuk subsidi yang menurutnya tidak sesuai ketentuan. Selain itu, ia juga menyoroti keterlambatan ketersediaan pupuk di wilayahnya. Keluhan serupa turut disampaikan mahasiswa asal Enrekang yang berasal dari keluarga petani. Ia menuturkan tingginya harga pupuk untuk komoditas bawang merah.
“Di desa saya, pupuk subsidi Rp115 ribu per sak dengan tambahan transportasi. Kesediaan pupuk juga sering terlambat,” curhat mahasiswa asal Bone tersebut.
Merespons hal tersebut, Mentan Amran menegaskan tidak boleh ada pihak yang memperoleh keuntungan dari hak petani. Ia kemudian meminta Pupuk Indonesia segera melakukan penelusuran serta mengambil langkah tegas apabila menemukan pelanggaran.
“Kasih namanya pengecernya. Pupuk Indonesia turun ke sana, begitu benar terbukti melanggar, langsung cabut izinnya. Kita tindak tegas. Hak petani harus kita jaga,” tegas Amran.
Pada kesempatan yang sama, Mentan Amran turut memaparkan sejumlah capaian sektor pertanian nasional yang menjadi penopang swasembada pangan berkelanjutan. Capaian tersebut meliputi stok beras nasional yang telah mencapai lebih dari 5,3 juta ton, peningkatan kesejahteraan petani, kemudahan memperoleh pupuk bersubsidi, serta peningkatan ekspor komoditas pertanian bernilai tambah.
Menurutnya, berbagai capaian itu lahir dari kerja bersama seluruh elemen bangsa. Oleh sebab itu, swasembada pangan yang telah tercapai perlu terus dipertahankan dan diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, petani, perguruan tinggi, serta masyarakat.
“Ini adalah kerja bersama. Swasembada pangan yang kita capai hari ini harus dijaga agar terus berkelanjutan dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (*)
*Reporter: Musdalifah








