PROFESI-UNM.COM – Memasuki tahun 1985, Buletin Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi resmi beralih menjadi format yang kita kenal sekarang, Tabloid Profesi. Uniknya, di masa awal transisi tersebut, penerbitan tetap bergerak meski tanpa adanya rapat formal, perencanaan matang, ataupun pembagian tugas.
Seluruh kerja redaksi Profesi saat itu, kenang Lang Gassa, layaknya “kerja tukang sate”, di mana satu-dua orang merangkap semua proses dari awal sampai akhir. Hampir seluruh beban kerja praterbit tabloid, mulai dari menulis artikel, melaporkan berita, hingga mengarang cerpen, dialihkan ke pundak Lang Gassa dan Asia Ramli Prapanca.
Di balik beban kerja yang masif itu, birokrasi kampus menyediakan tiga jenis alokasi anggaran untuk menyokong Tabloid Profesi. Anggaran tersebut meliputi biaya cetak, honor pengelola, serta honor penulis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Biaya cetak seluruhnya diserahkan langsung kepada pihak percetakan Harian Fajar kala itu. Sementara untuk honor pengelola, nilainya dibagi rata kepada seluruh pengelola, tanpa memandang keaktifan mereka. Namun, dari semua alokasi anggaran, yang paling digemari adalah honor bagi para penulis.
Setiap tulisan yang dimuat, panjang maupun pendek, akan diganjar honor sebesar Rp5.000. Sebagai gambaran nilai mata uang kala itu, harga selembar celana jins merek Gratify yang sangat tren di kalangan anak muda saja hanya seharga Rp12.500.
Sadar bahwa mereka tidak bisa terus-menerus mempertahankan sistem kerja rodi berdua, Lang Gassa dan Asia Ramli mulai memutar otak. Pasca-penerbitan edisi kedua, keduanya resmi menggagas sebuah pelatihan jurnalistik untuk merekrut tenaga baru. Pemateri yang hadir pun tidak main-main, mulai dari awak SKK Identitas Unhas, Harian Fajar, Harian Pedoman Rakyat. Selain itu, juga Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), hingga jurnalis lepas terkemuka.
Dari pelatihan-pelatihan awal itulah, sistem kaderisasi di tubuh Profesi mulai mengakar dan akhirnya mentradisi. Langkah kedua tokoh ini terbukti sukses dalam melahirkan generasi wartawan hebat hingga hari ini. (*)
*Reporter: Ficka Aulia Khaerunnisa







