PROFESI-UNM.COM – Gabungan mahasiswa yang tergabung dalam motor gerakan UNM Bergerak menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM), Kamis (5/3). Aksi ini membawa tuntutan krusial untuk mewujudkan reformasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) serta mendesak penghentian segala bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Gerakan ini melibatkan berbagai elemen kelembagaan, di antaranya BEM FT, BEM FSD, BEM FEB, FIKK, BEM Psikologi, dan BEM FIP. Seluruh organ tersebut menyatukan kekuatan di bawah naungan UNM Bergerak untuk menyuarakan keresahan terhadap institusi kepolisian.
Fuad, salah satu bagian dari UNM Bergerak, dalam orasinya menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari keresahan kolektif atas berbagai polemik yang mencoreng instansi kepolisian. Menurutnya, citra kepolisian saat ini dipertanyakan akibat rangkaian dinamika yang merugikan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Perlu adanya reformasi politik dan kepatuhan terhadap tanggung jawab secara keseluruhan. Kita menginginkan kepolisian dan pemerintah bergerak bersama rakyat, bukan justru menjauh,” tegas Fuad di hadapan massa aksi.
Satu Suara di Depan Menara Phinisi
Dalam orasi yang membakar semangat tersebut, UNM Bergerak juga menyoroti realitas pahit di Kota Makassar. Mereka menilai telah terjadi pergeseran fungsi aparat yang seharusnya mengayomi, namun justru terlibat dalam dugaan pelanggaran HAM dan tindakan represif.
“Sangat miris, aparat yang seyogianya diutus untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, malah menindas rakyatnya sendiri. Ini bukan sekadar gerakan seremonial, tapi gerakan moral dari kaum terpelajar,” lanjutnya dengan lantang.
Fuad menyerukan agar seluruh elemen mahasiswa dari berbagai fakultas yang tergabung dalam UNM Bergerak terus merapatkan barisan. Baginya, aksi di depan ikon kampus oranye ini adalah bukti bahwa Makassar tetap menjadi kiblat pergerakan mahasiswa di Indonesia Timur yang konsisten melawan ketidakadilan.
Di tengah aksi, massa secara serentak mengangkat tangan kiri sebagai simbol perlawanan sembari mengikrarkan Sumpah Mahasiswa Indonesia. Suasana heroik menyelimuti pelataran Phinisi saat poin sumpah mengenai tanah air tanpa penindasan terkumandangkan bersama-sama oleh massa dari BEM FT, BEM FSD, BEM FEB, FIKK, BEM Psikologi, dan BEM FIP.
“Kita tunjukkan power kita sebagai kaum terpelajar. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Dan untuk para rahim yang melahirkan peradaban, hidup perempuan yang melawan!” seru Fuad menutup orasinya.(*)
*Reporter: Nurul Qalbi







