PROFESI-UNM.COM – Indonesia telah memasuki era post-truth, era di mana sebuah fakta dapat dibiaskan dengan mudah oleh sebuah opini yang beredar secara serampangan. Tentunya era ini mempengaruhi kondisi corong informasi negara, tak terkecuali para jurnalis.
Tak hanya menjadi masalah bagi jurnalis umum, tapi post-truth juga menjadi problem tersendiri bagi pers mahasiswa. Sebagai sumber informasi bagi para mahasiswa di kampusnya bergerak, maka pers mahasiswa harus siap berperang menghadapi era ini. Bagaimana pandangan Rosarita Niken Widiastuti Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika, melihat persoalan ini?. Berikut kutipan wawancara khusus reporter Profesi M. Faisal Fajar.
Bagaimana sih, kondisi informasi di Indonesia sekarang ini?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekarang kita sudah memasuki era keterbukaan informasi yang sangat luas, bayangkan saja di bulan Januari tahun ini ada sekitar 130 juta penduduk yang menggunakan sosial media. Dan jika dibandingkan dengan tahun lalu ada sekitar 23 persen peningkatan. Bisa dibayangkan bagaimana arus informasi sekarang ini, dapat dikatakan Indonesia sudah memasuki era post-truth.
Seberapa penting keberadaan pers mahasiswa menghadapi era post-truth ini?
Tentunya sangat penting, mengingat peran adik-adik sebagai sumber informasi bagi mahasiswa dan setiap lapisan masyarakat kampus. Pastinya juga setiap kampus memiliki pers mahasiswa, yang menjadi pemberi informasi yang sangat dibutuhkan. Selain itu juga pers mahasiswa harus menjadi kontrol sosial bagi kampus, bukan sekedar menyebar informasi.
Lalu, untuk melawan era post-truth ini apa yang harus dilakukan oleh pers mahasiswa?
Pastinya kalau membuat tulisan harus yang berbasis data. Kalau bukan berbasis data itu sekedar opini saja namanya, lantas apa yang membedakan tulisan adik-adik dengan tulisan orang biasa kalau tidak bisa menyajikan data?. Harus ada data yang mendukung, serta fakta yang menjadi landasan. Bukan sekedar asumsi saja.
Dalam menjalankan peran kontrol sosial ini, harus seperti apa pers mahasiswa bertindak?
Harus jadi kritis. Ini yang sangat diperlukan, tapi bukan kekritisan yang asal saja. Tapi merupakan kritis yang berdasarkan data, bukan hanya asal ngomong atau asal menilai saja. Tapi memiliki landasan yang kuat. Setiap tulisan juga harus dilengkapi dengan solusi, agar mahasiswa terbiasa untuk menjadi kritis yang optimis.
Kritis yang optimis itu seperti apa sih? Kenapa mahasiswa harus seperti itu?
Kritis yang optimis itu, kritis yang harus disertai dengan solusi akan sebuah perubahan yang baik. Jangan terbiasa menjadi negatif, kalau apa-apa kita lihat dengan kacamata negatif maka akan mempengaruhi kehidupan kita. Kan adik-adik ini memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin. (*)
*Tulisan ini terbit di tabloid edisi 229 Oktober