PROFESI-UNM.COM – Dosen Fakultas Teknik (FT) Program Studi Pendidikan Teknik Elekteronika Universitas Negeri Makassar (UNM), Tasri Ponta resmi menyandang gelar doktor bidang Pendidikan Vokasi Keteknikan yang diselenggarakan secara virtual via zoom, Senin (3/10).

Gelar tersebut berhasil diraih setelah menyelesaikan ujian promosi dengan mempresentasikan disertasi yang berjudul ‘Pengembangan Model Pembelajaran Ponta Berbasis Blended Learning di SMK’.

Dalam pemaparannya, Tasri Ponta mengatakan bahwa terdapat sejumlah masalah akibat dari fenomena terhadap tren global. Pertama, pesatnya revolusi industri 4.0 yang memberikan tantangan dan peluang pada semua bidang mengharuskan manusia mengubah perilaku dalam beraktivitas. Kedua, tantangan dan permasalahan SMK. Ketiga, model pembelajaran blended learning. Keempat, penyesuaian model pembelajaran.

“Pengembangan model pembelajaran perlu dilakukan pada revolusi industri 4.0 karena perlu adanya ciri digitalisasi dan integrasi internet ke dalam pembelajaran,” katanya.

Lanjut, ia menjelaskan bahwa secara konseptual model ini dibangun dari teori- teori belajar, teori pengembangan, dan model-model pembelajaran itu sendiri. Beberapa model pembelajaran dikonstruksi, diadaptasi kemudian diintegrasikan sehingga lahirlah PONTA. Sedangkan model prosedural yang dikembangkan dalam pengembangan ini adalah integrasi, kolaborasi, dan gabungan dari beberapa model pengembangan prosedural. Sehingga lahirlah model pengembangan baru dikenal dengan APPED.

“Arti PONTA itu sendiri dengan P adalah Preparation, O adalah Observation, N itu Negotiation, T adalah Transfer dan A adalah Apply,” jelasnya.

Pria kelahiran Masamba ini juga menyebutkan bahwa, model pembelajaran PONTA yang dikembangkan tentu secara substansi bersumber dari model-model yang sudah ada. Perbedaan dari model terdahulu yaitu terlihat dari sintaksnya. Meskipun secara keutuhan model telah terpenuhi tetapi dari sintaks yang dikembangkan dalam model pembelajaran PONTA lebih baik daripada model yang sudah ada.

“PONTA ini diadaptasi dari beberapa model pembelajaran antara lain model pembelajaran savi, book, resolusi konflik, dan pertumbuhan kognitif. Jadi secara substansi yang membedakan yaitu dari sisi akronim,” sebutnya.

Terkait dengan pembaruan dari pengembangan ini yaitu akronim PONTA merupakan hal baru. Adapun keunggulan terletak pada tahapan negosiasi yang dibutuhkan pada seluruh level kemampuan. Hal ini menjadikan ciri khas dari model PONTA ada pada negosiasi.

“Selain pembaruan pada akronim, saya juga melakukan pembaruan inovasi di blended dengan strategi blended dengan sintaks PONTA,” tambahnya.

Dalam ujian promosi doktor tersebut, yang bertindak sebagai tim penguji terdiri atas Ketua Sidang Penguji yaitu Husain Syam, Promotor Penguji yaitu Hamsu Abd. Gani, Kopromotor Penguji yaitu Muis, Penguji Internal yaitu Bakhrani Rauf, Purnawati, dan Ruslan, serta Penguji Eksternal yaitu Syarifuddin Syarif. (*)

*Reporter: Sumaya Nursyahidah