(OPINI) Potensi Intelektual dan MBKM, Merdeka atau Terbajak?

0
165
Foto penulis. (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COMMahasiswa Intelektual Agent of Change
Hidup mahasiswa! Hidup!! Mahasiswa diidentikkan sebagai pemuda yang selalu bergerak dan optimis membawa perubahan. Pemuda dengan kisaran usia 15-40 tahun, berjumlah sekitar 60 juta lebih di Indonesia. Jumlah pemuda yang berlimpah merupakan sebuah karunia sekaligus amanah yang harus dijaga dan dikelola dengan baik. Sebab jika ditelisik peran pemuda khususnya mahasiswa begitu luar biasa.


Tentu kita semua memahami sejarah perjuangan bangsa ini melawan para penjajah. Para pemuda menjadi motor penggerak yang membangun semangat kemerdekaan. Membawa optimisme yang kuat hingga mereka bersatu dan mengerahkan segala kemampuan. Di masa setelah kemerdekaan pun lahir para kelompok pemuda dengan tujuan pergerakan dan sebagai penyampai aspirasi rakyat.

Namun, yang terlihat kondisi mahasiswa justru terjebak dalam dua situasi yaitu peran yang terkaburkan dan potensi yang terbajak.
Pertama, peran yang terkaburkan. Para mahasiswa tidak sadar terhadap peran yang dimiliki. Ketidaksadaran akhirnya membuat mereka hanya berpuas diri menjadi penonton konten yang sedang viral. Menjadi terkenal dan sekadar mengikuti tren, semakin jauh dari peran hakikinya. Lihat saja bagaimana mereka berbangga dengan ketidaktahuannya tentang agama juga menghabiskan waktu di Citayam Fashion Week.


Jiwa idealisme pun tergerus, perlahan hilang menyisakan pemuda yang individualis. Sudahkah para mahasiswa memikirkan kondisi masyarakat ketika terjadi kenaikan bahan pangan dan BBM, kasus korupsi hingga hukum yang semakin tidak jelas? Jika memikirkan saja tidak bisa apalagi menghadirkan solusi untuk rakyat.


Kedua, potensi mahasiswa terbajak. Serangkaian program kampus seperti MBKM bertujuan mengeksplor potensi mahasiswa. Sangat disayangkan tidak mengarahkan pada kebangkitan yang hakiki. Mahasiswa sebagai kaum intelektual perlu menelaah lebih jauh tujuan dari program yang lahir dari rahim sistem kapitalisme sekularisme yang diterapkan saat ini. Kapitalisme dengan akidah sekularisme menjadikan materi sebagai tujuan dari setiap aktivitas, tak heran lahirlah manusia yang “money oriented”.


Kurikulum MBKM ditinjau dari luarnya saja terlihat menguntungkan, tetapi inilah pembajakan pemuda yang sebenarnya. Hanya untuk mengejar materi semata, hal ini terlihat dari latar belakang munculnya kurikulum tersebut.


“Dalam rangka menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja, dan kemajuan teknologi yang pesat, kompetensi mahasiswa harus disiapkan untuk lebih gayut dengan kebutuhan zaman. Link and match tidak saja dengan dunia industri dan dunia kerja, tetapi juga dengan masa depan yang berubah dengan cepat”.


Tak heran, sebab pembangunan kapitalisme telah melahirkan berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi hingga krisis lingkungan. Mahasiswa sebagai representasi pemuda diarahkan pada narasi pembangunan dan pemberdayaan. Pemuda berakhir menjadi tumbal ekonomi, selayaknya pemadam kebakaran untuk menyelamatkan kapitalisme. Melalui kurikulum MBKM mahasiswa hanya disiapkan menjadi lulusan siap kerja, menopang kapitalisme yang renta.


Alih alih mencetak lulusan siap kerja, output yang dihasilkan justru pemuda yang tidak kompeten. Misalnya pada mahasiswa pendidikan dan keguruan diberikan kesempatan dan kebebasan untuk mengganti/menukar 20 SKS mata kuliah dengan salah satu program MBKM, seperti magang, pertukaran mahasiswa, Studi Independen (SI) atau kewirausahaan. Tentu, hal tersebut menyebabkan tidak kompetennya mahasiswa pada bidang yang awalnya digelutinya yaitu sebagai seorang tenaga pendidik.


Melalui program MBKM , mereka juga teralihkan dan tersibukkan. Mereka melihat permasalahan tidak secara utuh dan menyeluruh sehingga hanya berfikir menyelesaikan akibat, misalnya seperti masalah pengangguran, padahal penyebab masalahnya adalah sistem kapitalisme.

Sistem ini hanya memihak pemilik modal, menciptakan kesenjangan, menumbuh suburkan pengangguran. Pemuda pun didorong untuk menyelamatkan dirinya sendiri di tengah gempuran sistem hari ini. Oleh karena itu, mahasiswa membutuhkan pemberdayaan baru untuk mengembalikan identitasnya sebagai agent of change. Pemberdayaan yang lahir dari proses berfikir benar bukan pragmatis. Menjadikan potensinya terpandu merealisasikan solusi, serta mewujudkan cita-cita sebagai agen perubah.


Arah Baru Pergerakan Mahasiswa Menuju Peradaban Mulia
Sejatinya seseorang tidak akan melakukan perubahan hingga mereka menyadari bahwa realita yang sedang terjadi rusak. Realita yang rusak saat ini ditandai dengan mahasiswa yang kehilangan identitas, yaitu tidak mengenali dirinya sebagai pemuda, sebagai seorang muslim dengan Islam sebagai mabda (ideologi)-nya yang sahih. Terperdaya pada pemikiran Barat yang mengusung ideologi kapitalisme dengan menggunakan akal manusia sebagai penentu baik buruk.


Sebagaimana dalam pepatah Arab “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan”. Para mahasiswa seharusnya menjadi sumber kekuatan, melalui potensi fisik dan pemikirannya mampu menciptakan perubahan. Potensi besar pemuda ini dapat terakumulasikan dengan baik pada sistem yang tepat. menjadikan Islam sebagai solusi tuntas atas setiap permasalahan. Sebagaimana negara Madinah yang mampu menjadi negara adidaya mengalahkan Persia dan Romawi.

Inilah spirit yang seharusnya dihidupkan pada diri mahasiswa. Bukan berdasarkan sejarah semata, tapi karena keimanan kepada Islam. Jiwanya berambisi mentransformasikan Islam yang berasal dari wahyu untuk menjadi fakta kehidupan dalam negera Islam. “Khilafah” Selama 14 abad lamanya membawa Islam pada masa kegemilangan, menguasai 1/3 bahkan 2/3 dunia dan mampu menjadi mercusuar peradaban kala itu. Sistem yang sahih ini pun mampu menghasilkan pemuda berkualitas. Kita mengenal berbagai ulama yang juga seorang ilmuan.


Al khawarizmi, ahli saintek pada masa Kekhilafahan Abbasiyah yaitu Khalifah al Makmun. Pakar matematika, geografi dan astronomi. Beliau yang memperbaiki tabel ptolomeus dan menemukan ilmu hitung: Al jabar dan menemukan konsep angka nol (shifr) yang menunjukkan kosong. Al Khawarizmi juga mengembangkan aritmatika yang menjadi landasan Aritmatika, disebut ”Sekumpulan perintah logis dan runtut-algoritma” tanpa itu dunia komputer dan informatika tidak akan bisa berjalan.


Ada pula Muhammad Al Fatih, pada usia 19 tahun telah meaaklukkan konstantinopel. Semangatnya lahir dari keyakinan akan janji Rasulullah, bahwa akan ditaklukkan konstantinopel oleh sebaik-baik panglima dan sebaik-baik pasukan. Muhammad Al Fatih dan pasukannya pun mengambil kemuliaan tersebut.


Hari ini, ketika tak ada negara yang menerapkan hukum Islam tentulah mahasiswa harus bergerak untuk mewujudkannya sistem yang mulia tersebut. Hal utama yang seharusnya dimiliki dalam diri setiap pemuda pertama, kekuatan ruhiyah. Memahami diri sebagai hamba dari al khalik Sang Maha Pencipta yang seharusnya diatur berdasarkan hukum Allah swt. atas kondisi yang rusak saat ini. Keinginan untuk bangkit dan bergerak dilandasi oleh akidah Islam.


Kedua, bergabung dalam komunitas yang menjadikan Islam sebagai sumber ide dan aturan, mengarahkannya pada kebangkitan yang benar. Komunitas yang mampu membentuk pemuda sebagai pembangun negara, pemuda muslim yang bangga dengan Islam kaffah (keseluruhan). Tertanam dalam dirinya predikat pengemban risalah Islam.


Ketiga, ikut mengopinikan mabda Islam sehingga mampu berhadapan “ápple to apple” dengan peradaban barat. Melepaskan para pemuda dari ide-ide sesat yang bersumber dari kapitalisme-sekularisme. Mengonter berbagai racun-racun pemikiran sekularisme yang menggerogoti para pemuda.


Keempat, mendakwahkan dan memperjuangkan tegaknya Khilafah, karena hanya dengan tegaknya Khilafah kemuliaan Islam dan kaum muslimin bisa diraih Apa yang diperjuangkan oleh pemuda menuju sistem Islam adalah sebuah pertarungan yang sudah pasti dimenangkan, sungguh rugi pemuda yang tidak mau mengambil bagian. Kemenangan yang akan diraih sudah pasti di dunia dan di akhirat.


Peran inilah yang seharusnya diambil mahasiswa muslim, senantiasa mencurahkan pemikiran, energi dan kekuatannya demi mewujudkan kekuasaan yang mulia lagi mensejahterahkan.

*Penulis adalah Musdalifah, Mahasiswi Jurusan Teknologi Pendidikan, Angkatan 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini